Home

Magma Naik Permukaan, Pengungsi Belum Bertambah Signifikan


Asap putih keluar dari puncak Gunung Merapi, difoto dari kawasan lapangan Stiper, Cangkringan, Sleman, Kamis (19/11/2020). Sejak dua minggu terakhir, Merapi dinyatakan berstatus level III atau siaga, ratusan warga diungsikan sebagai langkah antisipatif menyusul meningkatnya aktivitas vulkanik gunung tersebut. (F. Hendra Eka/Jawa Pos)

batampos.id — Gunung Merapi kian menunjukkan tanda bahaya. Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan (BPPTKG) mendeteksi adanya kenaikan magma menuju ke permukaan kawah Gunung Merapi. Diprediksi daerah potensi bahaya di arah Tenggara, Barat dan Barat Laut.

Kepala BPPTKG Yogyakarta Hanik Humaida menjelaskan, perkembangan terakhir magma di kawah Gunung Merapi makin naik menuju ke permukaan. Namun, belum muncul di permukaan. ”Magma masih bergerak,” tuturnya.

Belum dapat diperkirakan waktu magma akan sampai ke permukaan kawah. Kecepatan dan pertumbuhan magma hingga saat ini belum diketahui. ”Kalau muncul dipermukaan baru bisa diprediksi,” jelasnya.

Prediksi bahwa magma naik menuju kepermukaan itu berdasarkan data-data kegempaan sejak Oktober 2020. Menurutnya, potensi bahaya aliran magma diprediksi ke arah Tenggara, Barat dan Barat Laut. ”ada yang ke arah Kali Gendol,” tuturnya kemarin di kantor BPPTKG.

BACA JUGA:BNPB Berikan Dana untuk Empat Kabupaten Terdampak Merapi

Dia mengatakan bahwa rekomendasinya masih sama. Daerah dengan radius lima kilometer diharapkan tidak ada aktivitas. ”Belum ada rencana menaikkan status, kita akan lihat data terakhir,” paparnya.

Naiknya magma menuju ke permukaan kawah masih belum berpengaruh terhadap jumlah pengungsi. Dari data yang diterima, belum ada penambahan signifikan jumlah pengungsi di Dua Posko, yakni Klakah di Boyolali dan Deyangan di Magelang.

Untuk pengungsi di Klalah berjumlah 119 orang. Yang terdiri dari kelompok rentan, dengan perincian desawa 46 orang, lansia 6 orang, ibu hamil 1 orang, anak-anak 30 orang dan balita 36 orang. Untuk jumlah pengungsi di Posko Deyangan mencapai 118 orang.

Perincian untuk pengungsi di Deyangan, yakni dewasa 36 orang, anak-anak 21 orang, lansia 21 orang, balita 25 orang, ibu hamil 3 orang, ibu menyusui 9 orang, balita 25 orang, disabilitas 2 orang dan sakit 1 orang.

Koordinator Posko Klakah, Selo, Boyolali Jumarno menuturkan bahwa belum ada peningkatan berarti untuk jumlah pengungsi di poskonya. ”Untuk usia produktif masih di dusun atau pulang pergi dusun pengungsian,” jelasnya.

Sementara untuk posko di Glagaharjo, Cangkringan Sleman data terakhir yang didapatkan pada Kamis (19/11) dengan jumlah pengungsi 256 orang. Ketua Komunitas Siaga Merapi Rambat Wahyudi menuturkan bahwa data pengungsi baru bisa diupdate malam. ”Nanti saya infokan kalau sudah ada,” tuturnya. (*)

Reporter: Jpgroup
Editor: Ryan Agung