Internasional

Tiongkok: Skema Perdagangan Karbon Cakup 2.267 Pembangkit Listrik Tahap I

Beberapa gelondongan jerami yang dikumpulkan para petani di Desa Xingfu, Kabupaten Ulanhot, Provinsi Mongolia Dalam, Tiongkok, Kamis (24/10/2020), siap dikirimkan ke pabrik penggilingan untuk dijadikan bahan pupuk organik. Jerami tersebut tanpa melalui proses pembakaran di sawah agar tidak menimbulkan emisi karbon. (F.Antara/M. Irfan Ilmie/19)

batampos.id –Skema perdagangan emisi nasional (ETS) Tiongkok yang telah lama ditunggu-tunggu akan mencakup total 2.267 pembangkit listrik pada tahap pertama, menurut dokumen konsultasi pemerintah.

Pembangkit listrik tenaga batu bara dan gas dengan emisi karbon dioksida tiap tahun sedikitnya 26.000 ton termasuk dalam tahap pertama skema itu, menurut dokumen untuk umpan balik publik oleh Kementerian Ekologi dan Lingkungan (MEE) yang dirilis pada Jumat.

Di bawah skema itu, perusahaan diberi tunjangan gratis berdasarkan emisi historis, dan harus membeli izin tambahan jika melebihi kuota mereka. Jumlah total yang perlu mereka beli tidak lebih dari 20% dari alokasi mereka.

Alokasi kuota telah ditentukan berdasarkan tingkat emisi dari 2013-2019, tetapi kementerian mengatakan pengumpulan data yang relevan untuk tahun lalu terganggu oleh pandemi Covid-19 dan oleh masalah pendanaan.

BACA JUGA: Inggris dan Sekutunya Bela Hongkong, Tiongkok Tak Gentar

Tiongkok  meluncurkan tujuh pasar karbon regional rintisan pada 2013-2014, memperdagangkan lebih dari 400 juta ton CO2 pada Agustus tahun ini, tetapi ETS nasional berulang kali ditunda.Li Gao, kepala departemen iklim MEE, mengatakan pada Januari bahwa dia mengharapkan “terobosan” akan dilakukan pada akhir tahun ini. Namun, pada pengarahan bulan lalu, dia menolak memberikan tanggal pasti untuk peluncuran perdagangan.

Para ahli mengatakan pengumuman Presiden Xi Jinping pada September bahwa China akan menjadi “netral karbon” pada 2060 telah mendorong lebih banyak kebutuhan mendesak ke dalam proses konstruksi pasar.

“Kementerian Ekologi dan Lingkungan akan mencoba untuk mempercepat melalui langkah-langkah baru ini agar semuanya berjalan secepat mungkin,” kata Shawn He, pengacara yang berkantor di Beijing yang menasihati perusahaan tentang kepatuhan karbon.”Ada urgensi yang tak terasakan untuk waktu yang panjang,” katanya. (*)

Reporter : Antara
Editor : Dede Hadi