Properti

Milenial Perlu Edukasi Lebih soal Properti

ILUSTRASI: Apartemen. Kalangan milenial bakal menjadi konsumen properti pada masa mendatang. f. JPGROUP

batampos.id – Pemahaman generasi muda tentang properti masih dangkal. Padahal, selain dimiliki, properti bisa menjadi investasi. Karena itu, perlu ada edukasi yang baik terhadap masyarakat tentang sektor properti.

Corporate Secretary Intiland Theresia Rustandi menuturkan, properti berperan penting da­lam perekonomian. Sektor itu memiliki lebih dari 174 in­dustri ikutan. Sektor tersebu­t juga menyerap 30 juta tenaga kerja.

“Ini fondasi penting. Properti punya kontribusi tinggi terhadap perekonomian,” ujarnya, Kamis (19/11).

BACA JUGA: Beri Optimisme Sektor Properti

Di sisi lain, generasi muda semakin berkembang. Jumlahnya juga kian bertambah. Itulah bonus demografi yang bisa dimanfaatkan para pebisnis properti. Intiland mengembangkan Intiland Youth Panel dan I AM Community untuk menyosialisasikan bisnis properti.

“Selain industrinya, kami memperkenalkan investasi properti kepada anak-anak muda,” kata Theresia.

Sebagai industri yang strate­gis, keberlanjutan bisnis properti menjadi fokus penting pa­ra developer. Apalagi, anak-anak muda yang sebagian adal­ah kalangan milenial itula­h yang menjadi konsumen properti pada masa mendatang.

Menurut Theresia, kemampuan daya beli dan kenaikan harga rumah perlu disikapi dengan pemahaman soal keuangan.

“Sebab, kalau menabung, jumlah uang tidak akan bisa mengejar kenaikan harga properti. Tentu perlu edukasi mengenai manajemen keuangan bagi anak-anak muda,” paparnya.

Secara terpisah, Ketua Umum DPP REI Totok Lusida menyebutkan bahwa pasar properti terbagi dua. Yaitu, nonsubsidi dan subsidi. Setelah ada pandemi, pasar properti terbagi menjadi tiga. Subsidi, nonsubsidi dengan harga kurang dari Rp 1,5 miliar, dan nonsubsidi dengan harga lebih dari Rp 1,5 miliar.

“Sekarang yang paling terdampak itu properti nonsubsidi dengan harga Rp 1,5 miliar up. Ini yang paling besar terkena dampak pandemi,” ungkapnya.

Sebaliknya, pasar properti kelas menengah dengan range harga Rp 400 juta-Rp 1,5 miliar justru naik signifikan. Kondisi itu menunjukkan sebenarnya masih ada peluang pasar karena kebutuhan masih tinggi. “Mereka akan menyesuaikan kemampuan daya belinya,” ujarnya. (*)

Reporter: JP Group
Editor: Suprizal Tanjung