Opini

Air Bersih Batam Pasca-konsesi

Batampos.id – Silang sengkarut antara Badan Pengusahaan (BP) Batam dengan PT Adhya Tirta Batam (ATB) menjelang berakhirnya konsesi SPAM (Sistem Penyediaan Air Minum) di Kota Batam ternyata berakhir dengan damai dan sejuk. Kekhawatiran warga kota bahwa pengakhiran konsesi akan berlangsung dengan “pertempuran seru” dan ancaman Wali Kota Rudi untuk membawa aparat TNI dalam rangka mengamankan aset negara sama sekali tidak terbukti.

Hal ini tentunya melegakan kita semua dan patut disyukuri. Kita percaya bahwa sesuatu yang dilandasi dengan maksud dan iktikad baik akan memberikan hasil yang baik pula. Penandatanganan perjanjian pengakhiran konsesi secara simbolik antara kedua belah pihak di Gedung Marketing Center BP Batam menjadi bukti nyata akan hal itu. Melalui serangkaian proses panjang dalam perundingan dengan menanggalkan ego masing-masing, akhirnya semua bisa diakhiri dengan jabat tangan emas.

Perjanjian konsesi selama 25 tahun yang terjalin antara BP Batam dengan ATB memang bukan rentang waktu yang singkat dan semua itu ternyata telah dilalui dengan baik walaupun penuh dinamika yang menyertainya. Dengan pengakhiran konsesi tersebut ini artinya barang-barang yang dioperasikan oleh ATB selama ini dikembalikan menjadi barang milik negara.

Advertisement

Sejak hari Minggu, 15 November 2020, maka pengelolaan air bersih resmi dikelola oleh BP Batam dan selanjutnya dioperasikan oleh PT Moya Indonesia untuk masa transisi selama enam bulan. Sebagai penerima amanah tentunya PT Moya Indonesia harus melaksanakan tugas dan tanggung jawab yang dibebankan dengan sebaik-baiknya agar Sistem Penyediaan Air Minum di kota ini tetap berlangsung dengan aman dan lancar.
Berdasarkan rekam jejak yang ada, reputasi dan pengalaman PT Moya sebagai pengelola air bersih swasta untuk industri, komersial, dan non komersial di Indonesia memang tidak perlu diragukan lagi dan inilah yang menjadi alasan mengapa perusahaan ini berani maju dan akhirnya berhasil memenangkan tender dengan mengungguli dua peserta lainnya (ATB menarik diri dari proses tender).

Batam saat ini dikenal sebagai daerah investasi, perdagangan, pariwisata maupun kawasan permukiman yang terus berkembang di Tanah Air. Tentunya air bersih merupakan kebutuhan yang sangat vital dan strategis bagi pertumbuhan sosial dan ekonomi di daerah ini. Uniknya, kebutuhan air baku di Batam bukan berasal dari mata air, sungai, ataupun air tanah. Tetapi berasal dari curah hujan yang ditampung dalam waduk-waduk buatan yang tersebar di enam lokasi yaitu Seiharapan, Seiladi, Mukakuning, Duriangkang, Nongsa, dan Tembesi.

Namun ironisnya, kondisi Waduk Duriangkang yang merupakan penyuplai air baku terbesar di Batam yang memiliki kapasitas tampung 107 juta m3 dengan suplai air baku 3.000 liter per detik saat ini banyak terganggu ekosistemnya karena perambahan kawasan hutan lindung, pertumbuhan masif enceng gondok, budidaya ikan dalam keramba yang berpotensi menimbulkan pencemaran air waduk. Juga waduk lainnya seperti Seiharapan mengalami pendangkalan akibat sedimentasi sehingga mengurangi daya tampung waduk. Inilah kondisi riil yang harus segera dibenahi untuk menjamin ketersediaan air baku.

Tak dapat dipungkiri bahwa tingkat ketergantungan air baku dari curah hujan memang sangat tinggi di Batam. Buktinya, adanya fenomena alam El Nino di tahun 2015 dan kemarau panjang di tahun ini menyebabkan air di waduk-waduk menyusut drastis yang menimbulkan ancaman krisis air bersih di Batam. Oleh karenanya, untuk menjaga kelestarian ekosistem dan lingkungan hidup di daerah tangkapan air waduk diperlukan kesadaran dan kepedulian yang tinggi dari para pemangku kepentingan seperti pengelola waduk, operator SPAM, pemerintah daerah, aparat keamanan TNI/Polri maupun masyarakat luas.

Semua pihak harus memiliki sense of crisis, sehingga bencana lingkungan dan krisis air baku dapat dihindari. Pola perilaku masyarakat yang dapat merusak ekosistem dan lingkungan hidup di sekitar waduk harus ditertibkan. Setiap pelanggaran tanpa pandang bulu harus diberikan sanksi hukum yang tegas untuk menimbulkan efek jera, sehingga upaya penegakan hukum dapat berjalan efektif. Namun, sebelum itu, memang perlu diberikan sosialisasi dan edukasi oleh pihak yang berwenang, sehingga masyarakat mempunyai pemahaman yang benar tentang keberadaan waduk dan lingkungan sekitar.
Sesuai fungsinya waduk-waduk di Batam ini dibuat single purpose untuk penyediaan air baku di Pulau Batam, sehingga kalau nantinya muncul wacana untuk menjadikan sebagai tempat wisata jelas tidak tepat dan menyimpang dari tujuan semula. Dikhawatirkan hal ini dapat berpotensi mencemari mutu air baku dan lingkungan sekitar.

Sistem penyediaan air minum merupakan suatu rangkaian proses yang terintegrasi mulai dari penyediaan air baku, pengolahan, pendistribusian dan pemeliharaannya. Gangguan atau hambatan yang terjadi pada salah satu mata rantai akan menimbulkan dampak yang merugikan pada keseluruhan sistem yang ada. ATB sebagai pengelola air bersih sebelum berakhirnya konsesi dianggap berhasil dalam menjalankan misinya sebagai penyangga ekosistem kota dalam hal penyediaan air minum. Tugas itu kini beralih kepada caretaker PT Moya Indonesia untuk menjalankan fungsi sebagai operator SPAM selama enam bulan ke depan.

Masyarakat Batam tentunya berharap pelayanan yang lebih meningkat dalam hal kualitas, kuantitas serta sistem dan metode pelayanan. Contohnya, daerah yang tadinya merupakan stress area harus berubah menjadi comfort area.dengan pelayanan penuh selama 24 jam, perluasan cakupan layanan dengan pemasangan jaringan pipa distribusi baru sehingga waiting list pelanggan baru dapat berkurang, penekanan tingkat kebocoran air melalui sistem teknologi digital monitoring dan pengawasan yang akurat- untuk menyebut beberapa dari tugas dan kewajiban yang harus dapat dipenuhi oleh operator yang baru.

Dengan adanya rencana ke depan setelah masa transisi berakhir dalam bentuk Kerja Sama Operasi (KSO) dengan pihak swasta, dimana BP Batam akan berperan mengelola
operasional pengelolaan air ke rumah-rumah serta pelayanan air bersih, sedangkan pihak swasta akan mengelola dan merawat air baku di waduk-waduk, sesungguhnya masyarakat hanya berharap apapun bentuknya agar ke depannya Sistem Penyediaan Air Minum di Batam dapat memberikan hasil yang terbaik dan dirasakan manfaat yang sebesar-besarnya. (*)

Oleh: Indradjat Soehardomo Mantan Tenaga Ahli BP Batam