Feature

Melihat Usaha Rumahan Intip Ping-Ping Batam, Bertahan di Masa Pandemi

batampos.id – Usahanya memang tidak besar hanya usaha rumahan saja. Tetapi bisa memperdayakan ibu-ibu di komplek perumahannya. Bahkan Ibu-ibu berebut ingin menjadi karyawannya. Karena omset turun akibat covid-19 jadi tidak menambah karyawan lagi. Bisa bertahan saja sudah bersyukur.

***

Proses pembuatan Intip Ping-Ping Batam. (f.dalil/batampos.id)

P Arianto, 43, merintis usaha intip ping-ping Batam dari tahun 2018 hingga sekarang. Anto, nama paanggilannya, bisa dikatakan orang lama di Batam. Sudah berkecimpung di dunia kerja hingga dunia usaha. Kenapa bisa dibilang begitu karena Anto masuk Batam dari tahun 1998 masa reformasi.

Advertisement

Awalnya Anto masuk Batam direkrut dari Solo oleh perusahaan di Batamindo, Mukakuning. Pertama bekerja di perusahaan elektronik Natsteel selama dua tahun. Setelah itu gabung di PT Metal Work selama satu tahun di bilangan Tanjunguncang, Batuaji.

Cukup satu tahun saja di perusahan PT Metal Work, Anto keluar. Anto memilih bergabung di media Batam TV di tahun 2003 dengan ikut merintis hingga 2014. Setelah 11 tahun gabung di Batam TV, Anto memilih mengundurkan diri. Dan pada akhirnya Anto gabung lagi diajak rekannya mendirikan media Kilas7 TV  di tahun 2015 hingga 2017.

Dua tahun kemudian di pertengahan tahun 2017, Anto memilih keluar dari kilas7 TV untuk membuka usaha sendiri yaitu intip ping-ping Batam. Tetapi awalnya dengan coba-coba dulu selama dua bulan. Setelah coba dua bulan banyak peminat dan pada akhirnya Anto fokus dengan usahnya itu.

Sampai saat ini bisa memperdayakan ibu-ibu rumah tangga di komplek perumahannya. Bukan di perumahannya saja, bahkan di perumahan lain juga membuka dapur produksi. Dia bersyukur bisa memperdayakan ibu-ibu di masa pandemi ini. Itu yang membuat dia bangga saat masa sulit seperti jni, ujar suami Heri Puspitowati tersebut. Tertarikya Anto menggeluti dunia usaha intip ping-ping ini dengan alasan, satu unik makanannya karena orang pengen tahu makanan apa ini.

“Makanan jajajan ini terkenal sejak penjajah Belanda dengan makanan sisa-sisa kerak nasi. Tahunya makanan ini kerak nasi tak ada bedanya dengan kerak nasi. Makanan ini makanan orang jawa. Selain itu di Padang, Sumatera Barat  juga ada. Tapi namanya beda. Kalau orang Cina bilang namanya Tingting”, katanya.

Arianto menunjukkan intip ping ping siap dipasarkan. (f.dalil/batampos.id)

Kalau asal-usul makanan jajanan ini dari Solo, Jawa Tengah. Dengan makanan jajanan khas Solo. Makanan jajanan ini memang khas Solo tapi diproduksi di Batam dengan nama intip ping-ping. Anto sudah menggeluti usahnya ini selama tiga tahun dengan dua rasa makanannya, yaitu rasa gurih dan rasa manis karamel gula Jawa.

Anto mengatakan pangsa pasarnya adalah di restoran besar, seperti Golden Prwan, seafood Barelang dan Seafood Piayu, tempat wisata jambu Marina. Dan ada juga langganan khusus untuk dititipkan. Satu minggu lamanya sudah habis. Bahkan ada yang borong sehari saja kadang habis. Karena pelanggan untuk cemilan. Satu restoran 15 sampai 30 biji dititip dengan harga jual Rp 12 ribu per bijinya, sebutnya.

Cara produksinya tidaklah rumit. Makanan jajanan intip-ping-ping ini terbuat dari beras dimasak setengah matang masih agak keras dikasih bawang putih dan garam. Setelah dijemur baru digoreng dan setelah itu baru dibungkus, papar tiga anak tersebut.

BACA JUGA : Catatan dari Forum Diskusi Group Batam Pos bersama Pelaku UMKM Batam

Anto mengatakan, bisa menjual sebulannya itu sampai 1.500 biji hingga 2.000 biji sebelum covid-19. Setelah covid-19 hanya 800 biji hingga 1.000 biji saja. Dengan harga dititip Rp 10 ribu. Jadi setelah corona 50 persen turun drastis omsetnya. Anto bisa meraup keuntungan sebelum corona  sebulannya itu Rp 15 juta hinga Rp 20 juta. Setelah corona tinggal Rp 8 juta hingga Rp 10 juta saja.

Dengan adanya covid-19 ini saya berharap ke pemerintah ditanganilah dengn benar supaya  masyarakat bisa bebas beraktifitas lagi seperti dulunya.  Karena usahanya ini berkaitan didunia wisata karena usaha intip ping-pingnya ini oleh-oleh untuk wisatawan yang berkunjung ke Batam. Banyak peminat atau yang pesan dari Singapura hingga Malaysia. Warga Malaysia dan Singapura sering ke rumah dibawa oleh kawan-kawan yang jadi TKI di negeri seberang.

Dan ada juga yang sudah jadi  pelanggan tetapnya warga negara Malaysia. Cara pesannya lewat aplikasi Whatssapp sebelum ke Batam. Pelangganya melakukan whatsapp saya dulu. Jadi saat ini pelanggan saya yang dari Singapura dan Malaysia stop semenjak corona. Padahal omset dari mereka lumayan hampir 30 persen hingga 40 persen, tuturnya.

Jadi jajanan ini dibuat khas oleh-oleh. Kenapa bisa dibilang khas oleh-oleh karena kita titipkan digerai-gerai tempat wisata dan restoran yang sering dikunjungi wisatawan luar negeri dan manca negara. Makanan ini, makanan kelas menengah ke atas karena target kita itu, sebutnya.

Dienira, 43, salah satu karyawan intip ping-ping yang sudah dua tahun gabung mengatakan, cara kerja yang santai, kita yang atur waktunya, ada waktu kosong kita kerjakan karena saya sambilan buat kue rumahan juga.

Intip ping-ping ini sehari bisa saya cetak 50 biji dengan dihargai satu bijinya Rp 250 rupiah dengan hitungan sampai kering dijemur. Material semua yang tanggung oleh intip ping-ping sendiri. 50 biji itu dari pukul 07.00 Wib pagi hingga pukul  15.00 Wib sore sudah selesai saya kerjakan. Bila rajin kita bisa sehari 100 biji.

Cara kerjanya kita masak beras setengah matang menggunakan panci diatas kompor.  Setelah itu kita pindahkan di atas teflon untuk dimasak lagi. Setelah kering berbentuk teflon kita angkat dan jemur. Kerjaan ini sudah cocok bagi saya. Sampai banyak yang minat ingin bekerja dari pada duduk-dudk dan merumpi, ujar ibu paruh baya ini.

Kita memiliki beberapa tempat produksi Intip Ping-Ping diantaranya di Patam Lestari dengan 70 biji sehari, di Perumahan Putri Hijau Batuaji dua rumah produksinya dengan 40 biji sehari dan 50 hingga 100  biji sehari yang beralamat di Perumahan Permata Hijau Tahap 3 RT 04 RW 06 Batuaji”, sebut asli Sragen, Jawa Tengah ini. (*)

Reporter : Dalil Harahap
Editor   : Tunggul