Feature

Raih Keuntungan Lebih dari Media Sosial, Hobi Sekaligus Bisnis Tanaman Hias

Gita Ardila Marischa saat mengurus pesanan tanaman hias dari luar kota beberapa waktu lalu. (f. dokumentasi Gita Ardila Marischa untuk Batam Pos)

Menjamurnya pecinta tanaman menjadi kesempatan untuk menghasilkan uang di tengah sulitnya perekonomian karena Covid-19. Memanfaatkan media sosial, keuntungan berlipat bisa didapatkan dari bisnis jual beli tanaman hias.

batampos.id – Pandemi menjadi peluang bisnis bagi mereka yang memiliki hobi mengembangkan tanaman hias. Selama pandemi banyak usaha yang tutup, sehingga hal ini dimanfaatkan untuk membuka peluang bisnis baru agar tetap menjadi orang yang produktif dan menghasilkan.

Gita Ardila Marischa terlihat sibuk memindahkan tanaman hias miliknya. Pagi ini tiga jenis tanaman hias ini akan dikirim ke luar kota dari tempat tinggalnya di Karimun, Provinsi Kepulauan Riau. Tiga tanaman ini merupakan pesanan ke Jawa, Belitung dan Batam.

Advertisement

Iya, aktivitas ini sudah menjadi keseharian bagi dia dan rekan bisnisnya yang tergabung dalam Karimun Plants Addict.

BACA JUGA: Manjakan Pencinta Tanaman Hias, Acara Batam Flower Festival 2020 Resmi Dibuka

Karimun Plants Addict merupakan nama bisnis dalam memasarkan tanaman hias. Bersama tiga teman yang juga menggeluti bisnis yang sama, pemasaran tanaman hias bisa lebih luas dan begitu juga dengan jenis koleksi tanaman hias.

“Tentu kalau usaha sendiri dan bersama berbeda, kalau bersama jenis tanaman bisa lebih banyak, karena kami ada modal. Kalau dulu mulai memang sendiri dan dari nol. Awalnya bawa tanaman dari rumah orangtua dan coba dikembangkan,” beber perempuan lulusan FKIP Bahasa Inggris Universitas Riau Kepulauan ini.

Berbagai jenis tamanan tertata di depan rumah miliknya di Desa Pamak, Kecamatan Tebing, RT 002, RW 003. Seperti Palm licuala mapu yang cukup langka. Jenis tanaman ini ini dijual mulai Rp 300 ribu, Calathea Crimson Rp 200, Philodendron Michan dan Philodendron badak. Seperti Tortum yang harganya bisa melebihi Rp 500. Jenis tanaman ini didatangkan dari Thailand.

“Kebetulan di sini ada agen yang impor tanaman dari Thailand, jadi kami ambil dari sana. Ada juga Caladium dari Thailand juga harga Rp 300 ribu-an ke atas dan masih banyak jenis tanaman lainnya termasuk uang lagi viral alognema,” sebutnya.

Perempuan yang biasa berprofesi sebagai pengajar ini terpaksa memutar otak karena usaha bimbingan belajarnya tidak bisa berjalan seperti biasa. Selama pandemi orangtua memilih untuk menjaga anak-anak mereka tetap di rumah demi menghindari penyebaran virus.

“Awalnya bingung juga mau buka usaha apalagi. Tapi melihat makin menjamurnya peminat tanaman saya mencoba mengambil peluang ini, agar dapur tetap bisa ngepul,” kata dia saat dijumpai di kediamannya.

Siapa sangka hobi yang sudah digeluti sejak masih muda ini, kian berkembang dan banyak mendapatkan pesanan. Pandemi membuat banyak aktivitas terhenti, sehingga ada kejenuhan. Tanaman menurutnya salah satu yang membantu masyarakat dalam menghadapi pandemi yang belum berakhir ini.

Ia menceritakan awalnya pemasaran tanaman hias dilakukan di kalangan tetangga, dan teman. Karena melihat peluang bisnis ini, seiring menjamurnya pecinta tanaman hias. Masa pandemi adalah puncaknya. Setiap hari ada saja orderan yang ia terima melalui media sosial tempat ia memasarkan tanaman hias miliknya.

“Media sosial sangat membantu, karena kalau untuk pesanan melalui WA itu biasanya orang sekitar tempat tinggal atau tidak jauh. Namun kalau media sosial orang luar kota pun bisa lihat. Jadi pesanan juga makin banyak,” ujarnya.

Pandemi, lanjutnya memang membuat aktivitas menjadi terbatas. Meskipun tempat tinggalnya merupakan zona hijau, masyarakat tetap berhati-hati agar tidak terpapar virus yang menyerang saluran pernafasan ini.

Hal ini pula yang melatarbelakangi ia mencoba mengambil peluang untuk serius menjalankan bisnis tanaman hias ini. Menurutnya meskipun pandemi belum berakhir, masyarakat tetap harus produktif agar bisa bertahan hidup.

Tidak saja menjual tanaman hias, perempuan kelahiran 1 Desember 1991 juga belajar mengembangkan jenis tanaman melalui proses cangkok. Hal ini merupakan yang baru baginya untuk memperkaya jenis tanaman hias miliknya.

“Susah-susah gampang juga. Perlahan mulai belajar, jadi saya tidak mau berhenti di pemasaran saja, tapi juga lebih produktif lagi. Sampai saat ini sudah ada beberapa jenis tanaman yang sudah berhasil dicangkok,” ujarnya.

Ia menceritakan, peran media sosial cukup membantu menjangkau pembeli secara nasional. Walaupun tinggal di pulau dan adanya pandemi, ia mengaku lebih termotivasti untuk memperkenalkan kalau Karimun juga punya jenis tanaman yang bagus dan bisa dikirim seluruh Indonesia.

“Jadi kalau jual offline itu pasarnya hanya tetangga, teman yang tinggal satu daerah. Namun karena media sosial produk Karimun Plants Addict bisa dikenal dan mendapatkan pembeli dari luar kota,” ujarnya.

Bermula dari pandemi ini lah, dan semakin menjamurnya pecinta tanaman hias, membuatnya termotivasi untuk mengambil kesempatan untuk meningkatkan perekonomian keluarga.

“Jadi karena melihat tingginya permintaan, teman-teman yang juga melakoni hal yang sama untuk ikut aktif memasarkan tanaman hias milik mereka, terutama melalui media sosial dan berdampak pada pendapatan mereka,” ujarnya.

Keberadaan media sosial cukup memberikan kemudahan untuk memasarkan tanaman hias miliknya. Media promosi yang mudah diakses melalui telepon genggam ini membantu dalam penjualan dan menambah pembeli baik lokal maupun luar kota. Biasanya mereka lihat koleksi tanaman di Instagram @karimunplants_ addict. Sedangkan untuk Facebook juga ada Karimun Plant, biasanya tanaman hias juga dijual melalui forum jual beli atau grup.

“Kadang ada yang bertanya soal lama pengiriman, mungkin karena mereka belum familiar dengan Karimun. Namun beberapa kali pengiriman keluar Alhamdulillah responnya bagus,” imbuh Gita.

Ia menyebutkan selama pandemi dalam satu minggu bisa menerima sampai lima pesanan dari luar kota. Namun karena keterbatasan tenaga, usaha jual beli tanaman hias belum bisa terakomodir semua.

“Karena saat ini masih kerja sendiri dan masih dikerjakan sendiri. Jadi belum semua orderan bisa dikerjakan,” ungkapnya. (*)

Reporter: Yulitavia
Editor: Andriani Susilawati