Opini

Memaknai Hari Guru di Tengah Wabah Covid-19

Batampos.id – Setiap hari kita menerima informasi yang hampir semuanya bercerita tentang Covid-19. Sebagian membingungkan, mencemaskan, menyesakkan, dan menyakitkan. Kita kerap diajak untuk membatasi diri terhadap lingkungan dan mengubah pola kerja. Termasuk dalam melaksanakan pekerjaan yang menjadi tanggung jawab kita.
Kita kerap terhanyut. Tapi lupa bahwa hidup harus ada perubahan dan peningkatan, sekalipun dalam wabah Covid.

Kali ini, Hari Guru yang jatuh pada tanggal 25 November 2020, terjadi dalam suasana wabah Covid, tentu saja tidak dilakukan acara seremonial. Tapi kita harus memberikan perhatian penuh terhadap Hari Guru sebagai wujud penghormatan terhadap guru sebagai pahlawan yang tak ternilai jasanya dalam mencerdaskan manusia Indonesia.
Kita rindu dengan sosok guru yang sebelum wabah corona mereka berdiri di depan kelas atau ketika penulis mengantar anak ke sekolah, sudah terlihat guru pagi-pagi sibuk memantau siswa di halaman sekolah. Sekarang semua itu hilang. Guru sibuk bermain di alam maya begitu juga dengan siswa. Lalu kemana roh guru? Masih adakah keteladanan yang bisa diperlihatkan kepada siswa? Masih adakah perhatian dan bimbingan guru terhadap siswa? Masih adakah keterpautan rasa kasih dan sayang seorang guru kepada siswa begitu sebaliknya?

Atau malah sebaliknya guru tidak kenal dengan siswa dan siswa juga tidak kenal dengan guru. Ironis memang, jika hal ini benar-benar terjadi. Tapi ini bisa terjadi atau mungkin sudah terjadi saat ini.

Advertisement

Covid benar-benar sudah melahirkan peradaban baru bagi kehidupan manusia. Tatanan masyarakat berubah dan sikap-sikap manusiapun ikut berubah. Termasuk dunia pendidikan. Dulunya siswa yang tidak mencium tangan guru merupakan siswa yang tidak sopan. Sekarang berbalik, siswa yang mencium tangan guru merupakan hal yang aneh dan dianggap tidak paham dengan protokol Covid.

Dulunya sekolah melarang siswa membawa handphone (HP) sekarang siswa harus punya HP untuk mengikuti pembelajaran bahkan dibelikan pulsa oleh pihak sekolah. Dulu siswa yang tidak datang ke sekolah dianggap bolos dan orangtuanya dipanggil oleh sekolah. Sekarang siswa tidak perlu datang ke sekolah. Guru mengajar siswa di alam maya tanpa mengetahui siswa tersebut benar-benar serius mengikuti pembelajaran atau tidak.
Akibatnya, nilai yang diberikan guru menjadi garing, kering kerontang alias tidak mengukur apa yang harus diukur sebagai sebuah keberhasilan dalam konteks pendidikan karena hanya mengukur knowledge semata, dengan mengabaikan penilaian pada aspek keterampilan dan sikap. Dikhawatirkan akan melahirkan intelektual yang gersang dengan nilai-nilai luhur bangsa ini.

Guru hari ini kehilangan semangat dalam mengajar. Iklim mengajar yang sesungguhnya dengan segala fasilitas yang disediakan oleh sekolah telah digantikan fasilitas internet sebagai satu satunya akses pembelajaran. Mengajar di alam maya belum menjadi kebiasaan guru. Guru belum siap dengan tuntutan mengajar seperti ini.

Pengawasan guru terhadap siswa menjadi lemah. Guru tidak dapat mengawasi siswa apakah benar-benar serius belajar atau tidak. Di saat belajar tatap muka saja, guru kewalahan membimbing siswa dalam proses pembelajaran apalagi dengan sistem daring.
Di Hari Guru ini merupakan momentum untuk mengevaluasi pendidikan kita, yang sebagian pakar melihat tahun 2020 merupakan periode terburuk dalam sejarah pendidikan Indonesia. Kita semua tidak bisa menyalahkan Covid sebagai penyebab keterpurukan ini. Kita juga tidak bisa menyalahkan para pengambil kebijakan, dan yang terpenting kita juga tidak bisa menyalahkan guru sebagai penyebab masalah ini.
Semua kita berusaha untuk keluar dari keterpurukan ini, kita semua tidak menginginkan berlama-lama belajar di rumah melalui sistem daring, yang monoton (jika tidak mau disebut membosankan). Kita tidak ingin guru dan siswa pasif. Tentu saja kita semua tidak menginginkan pendidikan yang dijalankan hambar dan tidak bermakna dalam meningkatkan profesionalitas guru dan mendewasakan siswa.

Oleh karenanya, di Hari Guru ini, mari kita jadikan momentum untuk proses refleksi diri dan terus mempertahankan eksistensi guru ditengah wabah Covid serta menjadikan guru masa depan yang selalu siap dengan perubahan.

Proses Refleksi Diri
Dunia terus berubah. Guru tidak boleh tingal diam. Guru harus bergerak dengan cepat. Guru harus keluar dari zona nyaman (comfort zone). Jika ini tidak dilakukan tunggulah kehancurannya. Profesionalisme guru menjadi taruhannya. Profesionalisme yang rendah berakibat dihasilkannya mutu pendidikan yang rendah pula.

Selama ini guru merasa nyaman dengan cara mengajar konvensional tanpa menggunakan teknologi informasi sebagai media yang mempermudah pembelajaran, tentunya dengan berbagai alasan. Di tengah wabah Covid ini, apakah guru sudah meningkatkan profesionalisme dalam mengajar dengan penyesuaian kondisi?

Apakah guru sudah terbiasa dengan pembelajaran menggunakan daring? Apakah guru sudah mengembangkan kompetensi profesional berkelanjutan sebagai wujud mengembangkan dirinya? Pertanyaan ini merupakan refleksi diri guru yang perlu dijawab oleh guru sebagai manifestasi dari sebuah profesi.

Pekerjaan profesi menuntut keahlian. Seseorang yang disebut ahli tentunya memiliki pengetahuan, keterampilan dan sikap yang memiliki nilai lebih dibandingkan dengan mereka yang bekerja tidak menyandang predikat profesi. Untuk menjadi ahli tentunya tidak mudah. Jangan puas dengan pendidikan yang sudah di dapat.

Hal itu tidak menjamin dalam meningkatkan kompetensi karena dunia terus berubah, dan itu pasti. Guru harus banyak belajar dan terus belajar tanpa kenal lelah. Walaupun di tengah wabah Covid.

Menyadari dalam kondisi Covid, guru perlu merumuskan apa yang menjadi tujuan ke depan. Sesungguhnya kita bergerak dari apa yang kita rasakan dan kita lihat. Kalau ianya seorang guru yang sudah lama mengabdi, seharusnya ia sudah punya gambaran akan jadi seperti apa bangsa ini selama dan setelah wabah Covid.

Visi itu terbentuk pada diri seseorang dari proses yang awalnya tumbuh dari bawah yang melihat hubungan hubungan-hubungan logis antarberbagai hal. Dengan membandingkan pengalaman selama menjadi guru diharapkan menumbuhkan pemahaman pada diri guru tersebut tentang gambaran pendidikan masa depan dan tuntutan-tuntutan terhadap guru baik dalam wabah Covid maupun pasca-covid.

Proses refleksi akan menjadikan guru arif dan bijaksana dalam menyikapi keadaan. Kesadaran untuk meningkatkan diri harus dilakukan walaupun di tengah wabah Covid. Upaya ini akan menciptakan profesi guru sebagai profesi yang bermartabat.

Mempertahankan Eksistensi Guru
Dalam mempertahankan eksistensi guru tidaklah diperlukan guru yang pintar melainkan yang adaptif. Guru yang adaptif adalah guru yang selalu menyesuaikan diri terhadap berbagai perubahan. Covid sudah membawa perubahan itu.

Kita tidak bisa mengintervensi perubahan itu. Cepat atau lambat perubahan itu bergerak dan terjadi dengan sendirinya. Begitu juga dengan cara guru meresponnya. Suka atau tidak, guru tetap berhadapan dengan perubahan itu sendiri. Hanya ada dua pilihan untuk guru, berubah atau diubah.

Berubah berarti guru sudah mempersiapkan diri dan melakukan antisipasi terhadap kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi. Guru lebih visioner. Diubah, posisi ini guru berdiam diri alias pasif. Akibatnya badai besar yang menghantam sama sekali tidak bisa membuat guru bertahan.

Idealnya memang guru harus bisa berubah sendiri tanpa ada paksaan dari pihak manapun. Namun syarat untuk berubah adalah adanya proses belajar. Dengan terus belajar guru lebih dekat perkembangan dunia yang terjadi. Pada akhirnya tertantang untuk menciptakan hal-hal yang baru dan menjadikan guru lebih kreatif dan inovatif.

Menjadi Guru Masa Depan
Di tengah wabah Covid ini, sebagai organisasi profesi, PGRI diharapkan dapat membantu guru untuk merefleksikan, mengkaji, dan mendokumentasikan kegiatan belajar serta untuk mengembangkan dan memperbarui pengetahuan dan keterampilan profesionalnya. PGRI harus mempunyai gagasan-gagasan yang cemerlang dalam mengembangkan keprofesian berkelanjutan.

Hal ini merupakan kunci untuk optimalisasi pengembangan karier guru dan meningkatkan praktik-praktik keprofesionalan. Oleh karenanya, perlu dilakukan perencanaan, pelaksanaan, evaluasi dan refleksi yang didesain untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan sikap guru.

Hari Guru merefleksikan kepada kita bahwa sudah waktunya kita mencari paradigma baru dalam pengembangan profesi guru yang benar-benar relevan dan dibutuhkan masyarakat Indonesia kini dan masa depan guna menghadapi knowledge society abad ke-21.
Semoga guru menggunakan pikiran-pikiran sehat untuk melihat situasi dengan pikiran yang jernih. Agar menjadi guru yang dengan mudah menerima perubahan di tengah wabah Covid. Selamat Hari Guru 2020, teruslah mengabdi dan berkarya. (*)

Oleh: Jefri Kamil, SPd, MPd, PhD Pegawai di Dinas Perpustakaan dan Arsip Provinsi Kepri