Kepri

Harga Kedelai Naik, Pabrik Tahu Tempe Terancam Bangkrut

Pemilik pabrik tahu tempe di Batu Hitam, Tanjungpinang keluhkan kenaikan harga kacang kedelai, Senin(4/1/2021). (f. Peri Irawan/batampos.id)

batampos.id– Imbas kenaikan harga kacang kedelai yang mencapai Rp 500 ribu per 50 Kilogram (Kg) di Tanjungpinang, produksi tahu dan tempe pada salah satu tempat usaha di Tanjungpinang terpaksa mengurangi ukuran dari biasanya bahkan terancam gulung tikar.

BACA JUGA: FKDB Berhasil Bina 82 Pengrajin dengan Total Konsumsi Kedelai 12.600 Ton Per Tahun

Pemilik pabrik tahu dan tempe di Batu Hitam, Solehan mengatakan, kenaikan harga itu sudah terjadi sejak satu bulan belakang. Biasanya satu karung ukuran 50 Kg dibeli Rp 360 ribu atau Rp 370 ribu. Namun saat ini sudah mencapai Rp 470 ribu bahkan pada salah satu swalayan di Tanjungpinang sudah mencapai Rp 500 ribu.

” Sebelumnya harga itu stabil namun satu bulan belakang naik terus,”kata Solehan, Senin  (4/1/2021). Solehan mengaku kaget dan berencana akan mengurangi ukuran produksi tahu dan tempe dari ukuran biasanya,Ia akan berunding dengan kelompoknya termasuk pembeli untuk membicarakan rencana itu, agar tidak menimbulkan permasalahan.

“Ukurannya tahu dan tempe nanti dikecilkan, tapi harganya sama tapi kalau dimungkinkan untuk naik harga nanti kita naikkan,”ujar Solehan. Selama ini, dikatakan Solehan ia menjual tahu dan tempenya kepada para pedagang di pasar serta menjual kepada orang-orang yang datang ke rumahnya. Sejak dua hari belakang para langganannya juga kaget dengan kondisi tersebut padahal kenaikan sudah terjadi sejak lama.

“Kacang harga Rp 470 ribu itu kita datangkan dari Malaysia, langsung dibeli kepada agen,” terangnya. Solehan juga tidak tahu penyebab pasti kacang kedelai bisa naik tajam, dari informasi yang ia peroleh saat ini ketersediaanya mulai terbatas, Sebelumnya mengalami kenaikan hanya Rp 20 ribu beberapa kali namun saat ini sudah mencapai puncak yaitu Rp 470 per 50 Kg.

“Ini berat sekali, kalau naik terus kita lebih baik stop produksi daripada rugi terus, dari pemerintah saat ini belum ada solusi,” ucapnya. (*)

Reporter: Peri Irawan
Editor: Tunggul