Feature

Hanya Dihadiri Keluarga Inti Kedua Mempelai

Ketika Din Syamsuddin Kembali ke Gontor untuk Menikah

Din Syamsuddin dan Rashda Diana setelah resmi menjadi suami istri di Pondok Modern Darussalam Gontor, Ponorogo, Minggu (3/1). (F. Din Syamsuddin for Jawa Pos)

Pernikahan ketiga bagi Din Syamsuddin. Ketiga putranya menjadi saksi mempelai pria.

Reporter: ERWIN SUGANDA dan M. HILMI S
Editor: R YUSUF HIDAYAT

GONTOR begitu berjasa bagi Din Syamsuddin. Bekal ilmu dari pondok terkenal tersebut turut mengantarnya meraih berbagai puncak. Menjadi doktor di perguruan tinggi di luar negeri, juga memimpin salah satu organisasi Islam terbesar di Tanah Air.

Advertisement

Tentu setelah selesai mondok pada 1975 itu, Din sudah berkali-kali ’’mudik” ke almamaternya tersebut. Tapi, baliknya mantan ketua umum Pengurus Pusat (PP) Muhammadiyah itu ke Pondok Modern Darussalam Gontor, Minggu (3/1) untuk sebuah acara khusus: menikah.

Din, 62, menikahi Rashda Diana, 48. Mempelai putri, seorang doktor seperti mempelai putra, merupakan putri KH Imam Subakir Ahmad. Sekaligus cucu pendiri Pondok Darussalam Gontor KH Imam Zarkasyi.

Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) Mlarak, Ponorogo, Muhamad Auliyaussofi, dipercaya menjadi penghulu. Pernikahan di rumah pimpinan Pondok Pesantren Darussalam Gontor itu digelar tertutup.
Hanya dihadiri undangan terbatas dari keluarga kedua mempelai. “Pengucapan akad nikah dilangsungkan tepat pukul 09.00,” kata Muhamad Auliyaussofi saat dihubungi, kemarin.

Saksi dari mempelai perempuan adalah Guru Besar Bidang Ilmu Aqidah Universitas Darussalam Gontor Prof Amal Fatulloh Zarkasyi. Tiga putra Din Syamsudin menjadi saksi dari mempelai pria. “Acara hanya dihadiri keluarga inti dari kedua mempelai,” imbuh kepala KUA Mlarak yang juga alumnus Ponpes Gontor tersebut.

Ini pernikahan ketiga bagi Din. Pernikahan pertamanya dengan Hj Fira Beranata (almarhumah) berlangsung pada 1986. Maut memisahkan mereka setelah Fira meninggal pada 2010.

Dari pernikahan tersebut, Din dikaruniai tiga buah hati yang semuanya laki-laki. Mereka adalah Farazandi Fidinansyah Mihra Dildari, Fiardhi Farzanggi, dan Erlangga Tri Putra Novrianto.

Setahun kemudian, mantan ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI) itu menikahi Novalinda Jonafrianty, seorang notaris asal Gresik, Jawa Timur, yang juga sepupu Fira. Pernikahan tersebut berakhir dengan perceraian pada 16 Desember 2020. Dokumen persidangan perceraian mereka menyebutkan bahwa keduanya pisah ranjang sejak Juli tahun lalu.

Ucapan selamat atas pernikahan pria bernama lengkap Muhammad Sirajuddin Syamsuddin itu, antara lain, disampaikan Wakil Ketua MUI Anwar Abbas. Bagi Anwar, Din tak ubahnya adik sendiri. “Semoga engkau bahagia wahai adikku. Dan, kami berharap Allah selalu melindungi dan meridaimu,” katanya.

Menurut Anwar, Din dan Rashda sudah sepakat untuk tidak mengejar dunia. Tetapi, bagaimana mengisi hidup dengan sebaik-baiknya.

Setelah menuntut ilmu di Gontor, Din menyelesaikan pendidikan S-1 jurusan perbandingan agama di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Jakarta (kini Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta). Jenjang S-2 dan S-3 Interdepartmental Programme in Islamic Studies dia selesaikan di Amerika Serikat. Persisnya di University of California, Los Angeles.

Sementara itu, Rashda yang kini mengajar di Universitas Darussalam Gontor menyelesaikan pendidikan S-3 di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Disertasi yang dia pertahankan pada 29 Juni 2019 bertajuk Pelembagaan Politik Negara Modern Al Mawardi.

Kakek Rashda merupakan trimurti pendiri Gontor. Selain KH Imam Zarkasyi (1910–1985), ada KH Ahmad Sahal (1901–1977) dan KH Zainudin Fananie (1908–1967).

Kepala Desa Gontor, Agung Prihandoko, menyebutkan, pernikahan di rumah pimpinan Ponpes Modern Gontor itu berlangsung khidmat dan lancar. Mempelai juga mengurus administrasi pernikahan sebagaimana masyarakat umum. Seluruh kelengkapan surat masuk ke kantor desa Rabu (30/12).

“Diantar sendiri oleh mempelai perempuan,” jelasnya.

Selama pernikahan berlangsung, kegiatan di dalam pesantren berjalan seperti biasa. Gerbang dijaga ketat dan setiap kendaraan masuk disemprot disinfektan. Ketika berlalu-lalang di sekitar pesantren, santri terpantau mematuhi protokol kesehatan. (***)