Feature

Dampingi Lansia dengan Modal Ketulusan

Mengenal Profesi Pramurukti, Pendamping Para Lansia

Populasi lansia di Indonesia cukup besar. Yang berusia di atas 65 tahun jumlahnya sekitar 16 juta jiwa. Atau, lebih dari dua kali lipatnya penduduk Singapura. Kondisi itu membuat caregiver atau pramurukti menjadi salah satu bidang pekerjaan yang potensial.

Reporter : JP Group
Editor : Jamil Qasim

ISTILAH pramurukti di Indonesia belum banyak dikenal. Lebih populer caregiver. Atau, dulu sempat muncul istilah pramuwerdha. Tugas utamanya adalah melayani para lanjut usia (lansia) sehari-hari.

Advertisement
Ibnu Abas membagikan bunga kepada penghuni rusun lansia. Ice breaking untuk para caregiver di STW Ria Pembangunan. (Foto-foto: Ibnu Abas untuk Jawa Pos)

Ketua Pengurus Pusat Ikatan Perawat Gerontik Indonesia (PP IPEGERI) Shintha Silaswati menyatakan, sampai saat ini komunitas profesi perawat maupun praktisi layanan caregiver masih mencari bahasa Indonesia yang pas untuk mendefinisikan caregiver. “Supaya istilah caregiver bisa diindonesiakan,” katanya.

Shintha menjelaskan, istilah pramurukti belum lama keluar. Namun, dia menegaskan bahwa pertemuan terakhir Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dengan perwakilan World Health Organization (WHO) di Indonesia sepakat untuk berupaya mencari kata serapan caregiver. Meskipun istilah pramurukti adalah yang paling baru keluar, dia menegaskan bahwa statusnya belum resmi sebagai kata serapan caregiver.

Perempuan yang pernah membuka layanan pramurukti itu menegaskan, pramurukti sejatinya bukan tenaga kesehatan. Bahkan, sampai saat ini di Indonesia belum ada asosiasi profesi pramurukti. Berbeda dengan profesi perawat atau bidan yang sudah memiliki wadah atau organisasi. Karena kondisi itu, sulit menghitung jumlah tenaga pramurukti di Indonesia.

Menurut dia, pekerjaan sebagai pramurukti memang banyak dibutuhkan. Bahkan, di negara maju seperti Jepang, banyak tenaga kerja Indonesia yang menjadi pramurukti. Rentang gaji mereka adalah Rp 8 juta sampai Rp 12 juta per bulan. “Itu sudah dipotong pajak,” jelasnya.

Karena pramurukti bukan tenaga kesehatan, ada semacam protokol dalam bekerja. Pramurukti yang bukan berlatar belakang profesi perawat tidak boleh memberikan layanan kesehatan.

Namun, mereka bisa memberikan pertolongan darurat sambil tetap mengupayakan untuk mengontak tenaga kesehatan terdekat. Pertolongan pertama dan darurat yang bisa ditangani pramurukti, misalnya, ketika ada lansia terjatuh.

Secara umum, lanjut Shintha, tenaga pramurukti di Indonesia bekerja dalam sebuah yayasan atau lembaga penyalur. Nah, di dalam lembaga penyalur itu, biasanya disiapkan pula perawat maupun dokter. Mereka bertugas ketika ada laporan kebutuhan layanan kesehatan dari para pramurukti yang bekerja di lapangan.

Menurut Shintha, menjadi seorang pramurukti tidak perlu mengambil pendidikan keperawatan. Mereka cukup mengikuti pelatihan dengan durasi sekitar satu pekan sampai sebulan. Kemenkes dan sejumlah organisasi sering mengadakan pelatihan untuk para calon pramurukti.

Dia menjelaskan, pramurukti di Indonesia jarang sekali diisi profesi perawat. Sebab, jumlah perawat belum terlalu banyak. Selain itu, kebutuhan di fasilitas kesehatan masih tinggi.

Meskipun belum menjadi sebuah profesi yang resmi, Shintha menyatakan, pramurukti tidak bisa disamakan dengan pembantu rumah tangga. Bahkan dalam penyalur pramurukti formal, biasanya ada perjanjian yang melarang pramurukti untuk menjalankan tugas pembantu rumah tangga. “Seperti mencuci piring dan mencuci baju, itu tidak boleh,” tuturnya.

Tantangan pekerjaan caregiver atau pramurukti di Indonesia saat ini, antara lain, adalah etos kerja dan budaya. Terkadang ada keluarga yang membutuhkan layanan pramurukti, meminta jasa pramurukti yang bisa berbahasa Jawa. Kemudian juga terbiasa dengan unggah-ungguh Jawa. Padahal, tidak semua pramurukti berasal dari Jawa.

Masalah lainnya adalah kedisiplinan. Dia menyatakan, permasalahan itu umumnya dirasakan pengguna layanan pramurukti dengan usia yang masih belia. Di kisaran 17 tahun sampai 20 tahun. “Keluhannya (pramurukti, red), yang masih muda suka main HP. Perhatian kepada kakungnya kurang,” jelasnya.

Karena itu, dia berpesan kepada para pramurukti yang masih muda untuk melayani dan mendampingi para lansia layaknya orang tua sendiri. Sepenuh hati.

Shintha menyatakan, meski siapa saja bisa menjadi pramurukti, lebih bagus berasal dari keluarga sendiri supaya lansia itu tidak merasa ditinggalkan keluarganya.

Keluarga adalah tempat terbaik. Khususnya dalam memberikan pelayanan terhadap lansia. Untuk itu, dia sangat antusias ketika ada keluarga dari seorang lansia yang dengan sukarela minta dilatih memberikan pelayanan sehari-hari.

ASN di RS Chasbullah Abdulmajid, Kota Bekasi, itu lantas memberikan sejumlah tip bagi keluarga yang terpaksa membutuhkan tenaga pramurukti. Di antaranya, mencari pramurukti dengan usia di atas 20 tahun. Kalau bisa, di atas 25 tahun.

Kemudian, pastikan pramurukti yang akan dipekerjakan sudah terlatih dan memiliki sertifikat. Lalu, pastikan pramurukti tersebut berada di sebuah yayasan atau lembaga penyalur sehingga jika ada kondisi darurat, mudah mendapatkan layanan lebih lanjut.

Selain itu, terkadang ada permintaan khusus dari pengguna jasa. Misalnya, minta yang rapi, wangi, dan cantik. “Tetapi, kadang ada yang minta jangan cantik-cantik,” jelasnya.

Kepala Rumah Susun (Rusun Lansia) Sasana Tresna Werdha RIA Pembangunan, Ibnu Abas, menyatakan, di tempatnya kebanyakan caregiver atau pramurukti informal. Dia merekrut ibu-ibu rumah tangga di sekitar tempatnya bekerja untuk menjadi seorang pramurukti yang melayani lansia.

“Jadi, setelah selesai urusan keluarganya, mereka ke sini memberikan layanan kepada lansia,” tuturnya. Ibnu menyatakan, jumlah lansia yang dilayani di tempatnya sampai saat ini ada 430 orang. Kemudian, yang sampai sekarang masih ada, berjumlah 50-an orang lansia. Yang lainnya, kebanyakan sudah meninggal.

Ibnu menuturkan, saat ini ada enam orang pramulansia yang menjadi pegawai tetap di tempatnya. Kemudian banyak caregiver atau pramurukti yang disiapkan keluarga lansia. Skemanya, Ibnu yang mencarikan sekaligus melatih orangnya. Namun, gajinya nanti merupakan urusan dari keluarga lansia.

Ibnu yang juga sering memimpin pelatihan sekaligus mendampingi caregiver menyatakan, tantangan terbesar adalah latar belakang yang beragam. “Ada yang tidak sekolah juga,” katanya.

Ibnu menyatakan, syarat utama untuk menjadi caregiver atau pramurukti harus punya sikap tulus dalam mengurus lansia. Menurut dia, dalam tempo tiga bulan awal, sudah bisa diketahui seorang pramurukti memiliki sikap yang baik apa tidak terhadap lansia.

Kemampuan lainnya adalah harus memiliki teknik komunikasi. Materi pelatihan yang sering dia bawakan adalah soal komunikasi kepada lansia. Jika terjadi komunikasi yang salah, itu bisa menimbulkan masalah baru. Selain itu, pramurukti perlu memiliki pengetahuan umum soal lansia. Kemampuan mengidentifikasi kebutuhan lansia.

Ibnu mengungkapkan, pemerintah berencana memformalkan pekerjaan caregiver atau pramurukti. Sudah disiapkan kurikulumnya oleh Kemenkes. Nanti kurikulum pendidikan formalnya setingkat diploma dua (D-2). (*)