Nasional

Pemerintah Diharap Mampu Intervensi Polemik Kedelai

Pekerja menuang kedelai ke mesin penggiling di Pabrik, Jakarta, Selasa (5/1/2020). harga kedelai di pasaran yang naik dari harga Rp 7.000 per kilogram menjadi Rp.9.000 per kilogram.FOTO:MIFTAHULHAYAT/JAWA POS

batampos.id – Kenaikan harga kedelai di level global ikut mengerek harga tahu dan tempe di pedagang pasar dan konsumen. Sebagai komoditas yang 90 persen bergantung pada impor, pedagang tak punya pilihan selain mengikuti kenaikan harga, agar tak merugi.

Pemerintah diharapkan bisa segera melakukan intervensi baik menjaga tren harga sebagai strategi jangka pendek dan mendorong produksi kedelai lokal untuk strategi jangka panjang.

Toni, 39 tahun, salah satu pedagang di Pasar Kebayoran Lama, Jakarta, merasakan dilematis akibat kenaikan harga tempe dan tahu dari pemasok. Perempuan asal Purbalingga tersebut biasanya menjual tempe seharga Rp 5.000 per biji dan tahu Rp 2.000 per biji.

Advertisement

Namun, karena harga dari pemasok naik sekitar 30 persen, dia terpaksa harus ikut menaikkan harga jualnya ke konsumen menjadi sekitar Rp 7.000 per biji untuk tempe dan Rp 2.500 per biji untuk tahu. Akibatnya, tak sedikit konsumen yang komplain dengan kenaikan harga tersebut. Sebagian konsumen, khususnya yang biasa membeli dalam jumlah banyak, disebut Toni mengurungkan niatnya untuk membeli.

”Ini tahu dan tempe tiga hari lalu stoknya sempat kosong. Tidak ada barangnya. Katanya pengrajin-nya lagi demo. Mulai Senin lalu (tahu dan tempe, red) sudah ada lagi, tapi datang lebih sedikit dari biasanya dan harga naik,” ujar Toni, kepada Jawa Pos (grup Batam Pos), kemarin (5/1).

Tak hanya pedagang di pasar tradisional, pengusaha gorengan yang biasa mengandalkan tempe dan tahu di ”etalase” jualannya juga merasakan dampak. Asep, 26 tahun, salah satu penjual gorengan di sekitar Ciledug, Jakarta Selatan, terpaksa harus menyesuaikan ukuran produk gorengan tempe dan tahunya, agar tetap dapat dijual dengan harga Rp 1.000 per biji. ”Harga (tempe dan tahu, red) di pasar naik, kalau tidak dikurangi porsinya bisa rugi. Tapi syukur peminatnya tetap ada karena tahu tempe paling dicari,” ujarnya.

Ketua Bidang Organisasi DPP Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (Ikappi) Muhammad Ainun Najib mengatakan bahwa kenaikan harga kedelai yang berujung pada naiknya harga tahu dan tempe di pasar harus segera mendapatkan perhatian dari pemerintah. ”Kemendag harus mampu mengintervensi importir untuk mengucurkan stok yang dimilikinya dengan harga yang sama,” ujar Ainun.

Pedagang mengaku memahami penjelasan pemerintah bahwa harga kedelai di level global, khususnya per Desember, terpantau meningkat. Sebelumnya, Kemendag membeberkan bahwa pembeli kedelai AS terbesar dengan porsi hingga 60 persen yakni Tiongkok, menaikkan pembelian pada periode 2020/2021. Tiongkok menjadi pembeli kedelai Amerika Serikat (AS) sebanyak 58 persen dari total ekspor kedelai AS hingga 10 Desember 2020.

Total penjualan ekspor kumulatif kedelai AS 2020/2021, menurut laporan itu, telah mencapai 53,8 juta ton. Angka itu jauh lebih tinggi dibandingkan periode 2019/2020, yakni 18,8 juta ton. Karena kuatnya permintaan, harga kedelai ditutup di atas USD 12 dollar per gantang (27,2 kilogram) pada 17 Desember. Angka itu menjadi yang tertinggi sejak Juni 2014.

Sekretaris Jenderal Kemendag Suhanto menambahkan bahwa dampak lain lonjakan permintaan dari Tiongkok ke AS adalah jumlah kontainer di beberapa pelabuhan AS yang berkurang. Karena kontainernya berkurang, maka pasokan ke negara-negara importir selain Tiongkok terhambat, termasuk ke Indonesia. ”Semakin rumit karena importasi Amerika Serikat tidak diimbangi dengan kegiatan ekspornya. Sehingga mengakibatkan peti kemas eks impor tertahan di negara itu dan terjadi kelangkaan peti kemas secara global,” jelasnya.

Terlepas dari isu di atas, pedagang meminta Kemendag mampu mendisiplinkan distribusi stok kedelai yang saat ini diklaim ada sekitar 450.000 ton di gudang importir. Kemendag menyebut bahwa stok tersebut cukup untuk industri tahu dan tempe dalam 2-3 bulan mendatang. ”Tapi fakta di lapangan menunjukkan importir memberlakukan harga kedelai yang sudah naik kepada para perajin, bukan harga berdasarkan pembelian sebelumnya. Kalau stok yang dimiliki sudah di impor dari tahun lalu, terus diberlakukan harga yang sekarang itu namanya tidak adil,” keluh Ainun.

Ikappi pun meminta Kemendag tegas mengintervensi importir agar stok yang dimiliki tersebut bisa dijual dengan harga lama, bukan harga terkini. “Dengan demikian, maka stok dua bulan yang akan datang harusnya tidak mempengaruhi harga kenaikan internasional masih menggunakan harga yang lama,” pungkasnya.

Sementara itu, Anggota Komisi XI Anis Byarwati menyebut, kenaikan harga kedelai menjadi catatan merah di awal tahun. Hal itu tentu membuat para produsen tahu dan tempe cemas. Tidak sedikit dari mereka melakukan mogok produksi. Imbasnya, Tahu dan tempe menjadi langka. Harganya pun ikut meroket di pasaran. “Padahal tahu dan tempe adalah makanan pokok setelah nasi bagi masyarakat Indonesia,” kata Anis kepada Jawa Pos.

Menurut dia, ada beberapa catatan penyebab naiknya harga kedelai. Pertama, data adalah faktor utama yang menjadi masalah. Indonesia sebagai negara agraris, namun sektor pertaniannya tidak berkembang. Bahkan terus mundur. Salah satunya karena kebijakan pangan nasional yang tidak didasarkan pada data yang kuat dan mengikat semua pemangku kepentingan.

Berdasarkan data The Food and Agriculture Organization (FAO), harga rata-rata kedelai pada Desember 2020 tercatat USD 461 per ton. Angka tersebut naik 6 persen dibanding bulan sebelumnya sebesar USD 435 per ton. Kenaikan harga kedelai dunia itu lantaran lonjakan permintaan kedelai dari Tiongkok kepada Amerika Serikat (AS), selaku eksportir kedelai terbesar dunia. “Desember 2020, permintaan kedelai oleh Tiongkok naik dua kali lipat. Yaitu dari 15 juta ton menjadi 30 juta ton,” ucap politisi Partai Keadilan Sejahtera itu.

Catatan kedua, Anis mendorong pemerintah untuk meningkatkan produksi kedelai lokal dan pengendalian impor. Itu menjadi peluang sekaligus tantangan untuk mengoptimalkan kedelai dalam negeri. Mengingat, pemerintah masih kesulitan menggenjot produksi kedelai dalam negeri.

Faktanya, Kementerian Pertanian sempat menarget produksi kedelai bisa mencapai 2,8 juta ton pada 2019. Jumlah tersebut untuk memenuhi kebutuhan yang diperkirakan mencapai 4,4 juta ton. Namun, hingga Oktober 2019 realisasinya baru 480 ribu ton. Hanya 16,4 persen dari target. Begitu pula 2018, dari target 2,2 juta ton produksi kedelai cuma 982.598 ton.

“Sebagaimana kita tahu bahwa kondisi petani kedelai terlibas oleh kebijakan pasar bebas tahun 1995. Awalnya produksi lokal bisa memenuhi 70 sampai 75 persen kebutuhan kedelai, tetapi saat ini terbalik karena sekitar 70 sampai 75 persen kini dari impor,” ungkap alumnus doktoral Universitas Airlangga itu.

Ketiga, Anis meminta pemerintah harus segera memperbaiki tata niaga kebutuhan pangan. Berkolaborasi aktif di antara kementerian/lembaga terkait penting untuk menciptakan stabilitas harga pangan. Kenaikan kedelai adalah salah satu dari masalah yang sebenarnya merupakan kejadian berulang.

Dan itu juga harus diantisipasi untuk bahan pokok lainnya. Seperti beras, telur, daging, cabe, bawang merah/putih, dan produk pangan lainnya. Terakhir, pemerintah harus menindak tegas para spekulan jika kedapatan melakukan praktik penimbunan. Kementerian Perdagangan (Kemendag) harus mencabut Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP) pihak-pihak yang terbukti melanggar aturan. “Sanksi tegas perlu untuk menjadi pelajaran atau shock therapy bagi para spekulan agar tidak lagi melakukan aksi penimbunan karena dapat menyebabkan harga menjadi tidak wajar,” tegas perempuan 53 tahun itu.

Meroketnya harga kedelai membuat Bareskrim dan Satgas Pangan Polri bergerak. Petugas mendalami potensi adanya penimbunan kedelai. Kabareskrim Komjen Listyo Sigit Prabowo menjelaskan, Satgas Pangan telah turun disejumlah wilayah untuk memeriksa gudang importer kedelai dan distributornya. ”Wilayahnya di Cikupa, Cengkareng dan Bekasi,” tuturnya.

Tak hanya itu, Satgas Pangan juga telah menginstruksikan satgas wilayah di tiap Polda untuk melakukan pengecekan. Dari harga, ketersediaan hingga sejumlah UMKM pengolah kedelai. ”Dilihat semua dari impor hingga distribusi,” paparnya.

Kasatgas Pangan Polri Brigjen Helmy Santika menambahkan, saat ini Polri telah memiliki data dan analisa ketersediaan kedelai dibandingkan dengan kebutuhan kedelai secara nasional. ”Kami koordinasi dengan Kementerian Pertanian dan lembaga lainnya, untuk lihat dugaan penimbunan serta permainan harga,” tegasnya.

Namun begitu, Helmy mengakui bahwa harga kedelai dunia memang mengalami kenaikan sebagai dampak pandemic Covid 19. ”Kalau data FAO, Desember 2020 kenaikan harga kedelai di pasar global mencapai 6 persen, dari USD 435 menjadi USD 461 per ton,” ujarnya.

Sementara itu, Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo menuturkan, kedelai saat ini sudah menjadi masalah global, khususnya untuk produksi dari Amerika. Sehingga, bukan hanya Indonesia yang terdampak. Sejumlah Negara lain seperti Argentina juga tengah merasakan kontraksi terkait produksi kedelai ini.

Oleh karenanya, Kementerian Pertanian (Kementan) berkomitmen untuk segera meningkatkan produksi kedelai dalam negeri. Upaya ini dilakukan agar nantinya Indonesia tidak bergantung pada impor. Dengan begitu, pemenuhan kedelai domestik kedepannya dapat dipenuhi secara mandiri. Apalagi, kebutuhan kedelai setiap tahunya kian bertambah.

Dalam rapat koordinasi dan MoU pengembangan serta pembelian kedelai nasional pada awal pekan ini, Mentan mengatakan, akan mengejar produksi dalam waktu 200 hari atau dua kali masa tanam. ”Kami coba lipat gandakan,” tuturnya.

Dia menegaskan, produksi kedelai dalam negeri harus bisa bersaing, baik kualitas maupun harganya. Salah satunya, melalui perluasan areal tanam. Memang saat ini pengembangan kedelai oleh petani sulit dilakukan. Sebab, petani lebih memilih untuk menanam komoditas lain yang punya kepastian pasar.

Meski begitu, pihaknya terus mendorong petani untuk melakukan budidaya. ”Program aksi nyatanya kami susun dan yang terpenting hingga implementasinya di lapangan,” ungkapnya.

Selain itu, kata dia, harus ada sinergi dari para integrator, unit-unit kerja Kementan dan pemerintah daerah. Di mana, upaya sinergi ini telah diawali dengan rapat bersama antara integrator, unit-unit kerja Kementan, dan pemda tersebut. Sehingga diharapkan, upaya peningkatan produksi ini dapat dilakukan dengan cepat dan kebutuhan dalam negeri bisa tercukupi. ”Ini dilakukan untuk mempersiapkan kedelai nasional kita lebih cepat,” jelasnya.

Direktur Jenderal Tanaman Pangan Kementan Suwandi menambahkan, faktor lain yang menyebabkan kenaikan harga kedelai impor yakni ongkos angkut. Di mana saat ini juga telah mengalami kenaikan. ”Kemudian, waktu transport impor kedelai dari negara asal ke Indonesia yang semula ditempuh selama 3 minggu menjadi lebih lama. yaitu 6 hingga 9 minggu,” ujarnya.

Suwandi menjelaskan, dampak pandemi Covid-19 meneybabkan pasar global kedelai mengalami goncangan akibat tingginya ketergantungan impor. Peluang ini yang kemudian dimanfaatkan Kementan untuk meningkatkan pasar kedelai lokal dan produksi kedelai dalam negeri. Upaya ini dilakukan dengan meneken MoU antara Gabungan Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Gakoptindo), Gabungan Kelompok Tani, investor, dan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan untuk meningkatkan kemitraan produksi. ”Serta untuk memaksimalkan pemasaran serta penyerapan kedelai lokal milik petani,” tuturnya.

Untuk diketahui, tingginya impor kedelai bukan semata-semata karena faktor produksi. Namun demikian, hal tersebut terjadi karena disebabkan kondisi kedelai merupakan komoditas non lartas. Sehingga bebas impor kapan saja dan berapun volumenya tanpa melalui rekomendasi Kementan.

Terkait harga kedelai saat ini terjadi kenaikan yang cukup signifikan disinyalir karena dampak pandemi covid 19, utamanya produksi di negara-negara produsen seperti Amerika Serikat, Brasil, Argentina, Rusia, Ukraina dan lainnya. Harga kedelai impor yang selama ini digunakan oleh pengrajin tahu tempe di negara asal sudah tinggi, sehingga berdampak kepada harga di Negara pengimpor seperti Indonesia yang otomasti menjadi lebih tinggi lagi.

Jatim Pacu Peningkatan Produksi Kedelai

Terpisah, Wakil Ketua Umum Bidang Pertanian dan Pangan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jatim, Edi Purwanto, mengatakan untuk mengurai fluktuasi harga kedelai harus dilakukan dari hulu hingga hilir. ”Petani kedelai lokal harus dibangkitkan agar ketergantungan terhadap kedelai impor bisa ditekan,” katanya kemarin (5/1).

Saat ini, produksi kedelai lokal secara nasional tahun 2020 hanya mencapai 320 ribu ton per tahun, sementara kebutuhan kedelai nasional mencapai 2,5 juta ton per tahun. Sedangkan produksi kedelai Jatim tahun 2020 mencapai 57.235 ton per tahun dan kebutuhan kedelai Jatim mencapai 447.912 ton per tahun. “Untuk menutupi kekurangan itu tentu dari impor, dan jumlahnya sangat besar,” ujarnya.

Menurutnya untuk menghilangkan ketergantungan terhadap kedelai impor, petani kedelai lokal perlu didorong. Terlebih saat ini, sudah ada perusahaan lokal yang berhasil mengembangkan benih kedelai kualitas unggul dengan produktivitas yang cukup tinggi di Jember, yaitu PT Taro Tama Nusantara (PT TTN).

“Kedelai ini kan tanaman tropis, sehingga produktivitasnya rendah jika ditanam di Indonesia. Jika di Amerika produktivitas tanaman kedelai bisa mencapai 5 ton per hektar, maka di Indonesia produktivitasnya hanya mencapai 1,3 ton hingga 1,5 ton per hektar. Dengan rekayasa pembenihan, maka prodiktivitas benih kedelai yang dihasilkan oleh PT TTN ini bisa mencapai 3 ton hingga 3,2 ton per hektar,” ujar Edi.

Menurutnya, ada beberapa faktor kenapa kedelai lokal tidak diminati, baik oleh petani maupun oleh pengrajin tahu dan tempe. Pertama produktivitas kedelai lokal rendah, hanya sekitar 1,3 ton per hektar. Sementara biaya pengolahan tinggi, sehingga petani lebih memiliki menanam padi dan jagung yang dianggap lebih menguntungkan. Disisi lain, pengrajin tempe dan tahu juga kurang berminat karena kualitas dianggap rendah, biji kedelai kecil dan tidak rata serta kulit ari keras sehingga membutuhkan waktu lama dalam proses peragian.

“Saat ini untuk musim tanam II, demplot percontohan di Jember seluas 10 hektar telah panen pada Juni 2020 dan hasil panen juga telah diujicobakan kepada pengrajin tempe dan tahu di Jember,” ucapnya. PT TTN juga akan memperluas area tanam benih kedelai kualitas unggul tersebut di demplot yang ada di Malang dan Bondowoso dengan total produksi sekitar 100 ton benih per tahun.

Sementara itu, Ketua Umum Kadin Jatim Adik Dwi Putranto mendukung penuh industri benih kedelai lokal yang berhasil mengembangkan benih kedelai kualitas unggul. Karena dengan menggerakkan kembali petani kedelai lokal akan mampu mengurai persoalan fluktuasi harga kedelai impor yang berdampak luas kepada pengrajin tahu dan tempe dalam negeri.

”Ini harus dapat dukungan penuh. Kami juga akan berupaya menjembatani dengan pemerintah agar budidaya kedelai lokal kualitas unggul ini bisa disebarluaskan ke petani sehingga harapan swasembada kedelai nasional bisa tercapai,” paparnya.

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Jatim, Hadi Sulistyo mengatakan produksi kedelai Jatim 2020 lalu diperkirakan 57.235 ton. Sedangkan defisit diperkirakan sekitar 390 ribu ton, sehingga kekurangan tersebut dipenuhi dari impor.

Ada beberapa kendala yang dihadapi dalam meningkatkan produksi kedelai. Salah satunya, sejumlah petani beralih fungsi lahan. Petani menilai menanam tanaman padi dan jagung masih lebih menguntungkan dari sisi biaya usaha tani dari pada kedelai yang kurang mendapatkan intensif dari pemerintah.

”Kedelai selalu minus karena merupakan tanaman sub tropis, sehingga kalau menanam membutuhkan biaya yang lumayan besar. Makanya petani beralih ke tanaman komoditi lain seperti padi dan jagung,” tuturnya. Di samping itu, pada 2019 dan awal 2020 terjadi kemarau panjang yang merupakan penyebab turunnya luas panen kedelai.

Kemudian dengan banyaknya kedelai impor yg harganya lebih murah, petani memilih untuk tidak menanam kedelai. Meskipun harga acuan berdasarkan Permendag Noor 27/M-DAG/PER/5/2017 tentang penetapan harga acuan pembelian di petani untuk kedelai Rp 8.500/kg. Pada awalnya harga jual kedelai di lapangan sekitar Rp 6.500 hingga Rp 7.000/kg. Harga ini salah satunya dipengaruhi oleh mutu yang kurang baik, ukuran biji kedelai yang beragam dan tercampur varietas lain. Persoalan lain, produktivitas kedelai di lahan kering sangat rendah baru berkisar antara 1-1,5 t/hektare.

Sentra lokasi kedelai di Jawa Timur antara lain di Banyuwangi, Jember, Lamongan, Nganjuk, Bojonegoro, Blitar, Trenggalek, Pasuruan, dan Nganjuk. (*)

Sumber : JP Group
Editor : Jamil Qasim