Internasional

Dianggap Penuh Hasutan, Twitter dan Facebook Blokir Akun Donald Trump

Twitter dan Facebook menutup sementara akun milik Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. (F Evan Vucci/AP)

batampos.id – Kerusuhan terjadi di gedung Capitol Amerika Serikat. Bukannya menenangkan suasana, Trump justru membuat status kontroversial di akun media sosial terverifikasi miliknya. Dianggap penuh hasutan tak berdasar, Twitter dan Facebook pun mengunci sementara akun Presiden ke-45 Amerika Serikat yang akan segera berakhir itu.

BACA JUGA:
Biden: Penolakan Trump Terhadap Pemilu Tidak Bertanggungjawab

Tak hanya mengunci, raksasa teknologi media sosial itu juga diperkirakan akan menindak klaim tak berdasar atas cuitannya selama ini terkait Pemilihan Presiden AS yang telah berlangsung November lalu.

Twitter menyembunyikan dan mewajibkan penghapusan tiga kicauan Trump setelah pengunjuk rasa menduduki Capitol Hall saat para kongres hendak menetapkan Joe Biden sebagai Presiden AS ke-46.

“Sebagai akibat dari situasi kekerasan yang belum pernah terjadi sebelumnya dan yang sedang berlangsung di Washington DC,” demikian alasan Twitter menutup akun Trump seperti dilansir dari Channel News Asia, Kamis (7/1/2021).

Setelah Twitter ‘menghukum’ Trump lewat akunnya @realDonaldTrump selama 12 jam, Facebook kemudian mengumumkan telah memblokir akun Trump selama 24 jam karena dua jenis pelanggaran.

Facebook dan YouTube, milik Alphabet’s Google, juga menghapus video Trump terus menuduh pemilihan presiden AS curang, bahkan ketika dia mendesak pengunjuk rasa untuk pulang. “Video itu dihapus dari Instagram dan akun presiden juga akan dikunci selama 24 jam,” sebut petinggi Instagram milik Facebook, Adam Mosseri dalam sebuah tweet.

Perusahaan teknologi bertanggung jawab mengawasi informasi yang salah di platform mereka seputar pemilu AS. Presiden dan sekutunya terus menyebarkan klaim penipuan pemilu yang tidak berdasar yang telah berkembang biak secara online.

Tak hanya itu, Trump juga menyalahkan Wakil Presiden Mike Pence karena kurang berani untuk mengejar klaim tersebut dalam tweet yang kemudian dihapus Twitter. Seorang juru bicara Gedung Putih belum menanggapi masalah ini.

Sementara itu, laporan Reuters, YouTube juga mengatakan video Trump melanggar kebijakan terhadap konten yang memuat upaya menuduh. Baik Facebook dan Twitter awalnya menambahkan label dan tindakan untuk memperlambat penyebaran video. (*)

Reporter: jpg
Editor: Chahaya Simanjuntak