Ekonomi & Bisnis

Padu Padan Eklektik untuk Interior Modern, Kontemporer yang Luwes dan Estetis

Penataan dining area dengan meja makan dari kayu solid berpadu apik dengan kursi berelemen rotan. Sentuhan hijau dari tanaman ikut menyegarkan suasana. foto-foto: GUSLAN GUMILANG/JAWA POS

batampos.id –  Desain interior modern tak melulu kaku. Dengan material natural dan sentuhan budaya lokal, tampilan rumah kian indah. Fungsional, simpel, dan terasa hangat.

Desain simpel dan fungsional telah menjadi bagian dari masyarakat modern. Gaya tersebut dinilai tak lekang oleh waktu dan mudah dipadupadankan. Namun, tampilan interior tak lantas akan terus seragam dengan gaya minimalis.

Menurut desainer interior Hidajat W Endramukti, kini desain modern lebih luwes. ”Sekarang cenderung ke kontemporer dengan paduan gaya lain. Tetap modern, tapi lebih berwarna,” ungkapnya.

Advertisement

Hidajat menyatakan, desain itu juga berpadu apik dengan kekayaan Indonesia. Pertama, penggunaan kayu keras Indonesia. Dia menilai solid wood -salah satunya mahoni- memiliki kekuatan dan tampilan yang baik. Pas dipadukan dengan gaya Skandinavia.

”Poin dari gaya Skandinavia adalah menonjolkan material asli. Dengan finishing yang tepat, karakter kayu kita bakal makin menonjol,” jelas desainer interior yang berbasis di Surabaya tersebut.

Selain kayu, dia mengombinasikan anyaman rotan pada dining arm chairs. Sekilas, tampilannya mengingatkan pada perabot di rumah kakek-nenek. Desainnya simpel, tetapi terasa hangat dengan menonjolkan unsur natural pada material.

Kayu solid juga digunakan pada nakas dan lemari buffet di ruang tidur. Begitu pun meja tamu pada living room. Elemen biru pada sofa dan lukisan dinding berpadu apik dengan warna kayu di meja.

Sentuhan lokal juga hadir lewat kain tradisional. Dalam desainnya, penggemar desain modern tropis itu menggunakan kain tenun khas Sumba Timur. ”Apakah masuk dengan gaya modern dan Skandinavia? Tentu bisa. Sebab, pewarnaannya juga memanfaatkan bahan alami sehingga masih sejiwa dengan tema tadi,” ujarnya.

Hidajat menyatakan, karena hampir seluruh proses dikerjakan dengan tangan, setiap helai kain memiliki tampilan unik. Bentang kain itu bisa dijadikan aksen pada dinding atau pengganti gorden di jendela ruang baca, misalnya.

Karakter kayu Indonesia sangat kuat ketika dituangkan dalam furnitur. Clarissa Rusli, Chief Design Officer PT Integriya Dekorindo, sependapat dengan Hidajat. Dia menilai produk lokal masih kerap dianaktirikan di Indonesia. Dalam kolaborasinya dengan Hidajat, Clarissa mengutamakan produk well-designed yang kuat, tetapi ringkas.

BACA JUGA: Interior Gaya Klasik Prancis, Tangga dan Perapian Jadi Focal Point

”Luwes berpadu dengan perabot lainnya,” paparnya.

Kain tradisional tak hanya dihamparkan untuk menghias rumah. Hidajat menggunakan kain tenun khas Sumba Timur dan kain tradisional asal Rajasthan, India, untuk sarung bantal.

Punya jam antik? Foto dan lukisan yang apik? Atau, tanaman hias yang cantik? Semuanya bisa ditampilkan di ruang publik tanpa ”bertabrakan” dengan furnitur minimalis. Pastikan penataannya selaras dan tak berlebihan.

Tampilan clean akan makin hidup dengan pencahayaan yang baik. Untuk mendukung pencahayaan utama, tambahkan spotlight maupun lampu duduk. (*)

Reporter: JP Group
Editor: Suprizal Tanjung