headline

Kisruh Warnai Kemenangan Joe Biden

Pendukung Trump Serbu Gedung Capitol, Empat Tewas

SEORANG staf Kongres mengangkat tangannya sementara tim Kepolisian Capitol memeriksa semua orang di ruangan saat mereka mengamankan lantai yang diserbu pendukung Trump di Washington, DC pada 6 Januari 2021. (Photo by Olivier DOULIERY / AFP)

batampos.id – Joe Biden harus menunda pidato sambutannya selama satu jam pada Rabu malam waktu setempat (6/1). Timnya mesti mengubah isi pidato. Ada hal yang lebih penting daripada pernyataan soal janji membangkitkan ekonomi dan menanggulangi Covid-19.

Ya, dia perlu memberikan tanggapan terhadap serbuan massa di Gedung Capitol. “Saya meminta massa untuk mundur dan mengizinkan demokrasi maju,” ungkapnya dalam pidato yang disiarkan langsung menurut Associated Press.

Biden jelas tidak tenang. Malam itu seharusnya dia semringah karena kemenangannya pada pilpres 3 November lalu sudah final. Sidang konfirmasi suara elektoral oleh Kongres merupakan tahap terakhir untuk menetapkan pemenang pemilu. Jika proses itu berakhir, suami Jill Biden tersebut berhak dilantik pada 20 Januari.

Advertisement

Namun, belum lama sidang berlangsung, massa yang sebelumnya mendengarkan pidato Donald Trump di dekat Gedung Putih menyerbu gedung. Mereka berhasil menembus barisan aparat dan merangsek ke gedung. Wakil rakyat yang sedang berkumpul di aula dievakuasi dengan menggunakan masker gas ke tempat yang aman.

“Petugas keamanan meminta kami semua merunduk. Mereka waspada seperti menunggu serangan,” ujar anggota Dewan Perwakilan Scott Peters.

Pukul 20.00, mereka memulai kembali konfirmasi. Untung, staf Kongres berhasil mengevakuasi kotak suara elektoral. Jika tidak, surat yang penting bagi konfirmasi itu bisa dihancurkan massa.

Pada waktu yang sama, Kepala Kepolisian Washington DC Robert Contee melaporkan bahwa kerusuhan di Gedung Capitol telah merenggut empat nyawa. Satu orang tewas karena tembakan. Lalu, ada 14 petugas yang terluka. Polisi menemukan enam senjata yang disita dari demonstran.

Anggota Kongres terpaksa begadang untuk menuntaskan kewajiban. Wakil Presiden Mike Pence menegaskan bahwa proses tersebut tak akan ditangguhkan hanya karena kerusuhan. “Anda (demonstran, red) tidak menang,” tegasnya.

Pada akhirnya, rencana sekelompok politikus Republik untuk menolak suara elektoral gagal. Keberatan untuk hasil suara Georgia, Michigan, Nevada, dan Wisconsin tak tercapai karena tak ada senator yang mendukung. Untuk mengajukan keberatan, diperlukan tanda tangan satu anggota Dewan Perwakilan dan satu senator.

Mosi keberatan untuk suara Arizona dan Pennsylvania memang dapat diajukan. Namun, tidak ada mosi yang lolos, baik dari sisi Dewan Perwakilan maupun Senat. Tampaknya, mereka sudah muak menyokong upaya Trump untuk mengubah hasil pemilu. “Sudah cukup. Saya tak ingin lagi ambil bagian dari hal ini,” ujar senator Lindsey Graham, salah seorang kawan dekat Trump.

Sebagian pentolan Republik jelas merajuk. Sebab, yang menyulut aksi kerusuhan tersebut adalah Trump. Trump-lah yang meminta massa bergerak ke Gedung Capitol dalam pidato beberapa jam sebelum konfirmasi. Rudy Giuliani, pengacara tim kampanye Trump, bahkan menyebut perlunya penghakiman dengan pertarungan. “Kita harus memberikan contoh kepada politisi Republik keberanian dan kebanggaan macam apa yang harus mereka pegang,” ungkap Trump menurut CNN.

Selama kerusuhan, suami Melania itu terus memanas-manasi demonstran melalui media sosial. Twitter dan Facebook sampai harus membekukan akun Trump agar tensi tak meninggi. Twitter bahkan mengancam untuk menghapus akun Trump jika masih melanggar kebijakan perusahaan.

Selama beberapa jam, Trump dibombardir tekanan dari dalam. Politisi Republik memohon sekaligus menekannya untuk meminta demonstran bubar. Beberapa staf Gedung Putih langsung mengundurkan diri. Bahkan, isu amandemen ke-25 muncul. Aturan itu mengizinkan kabinet untuk melucuti kekuasaan presiden dalam keadaan mendesak.

“Sebagai pejabat kabinet yang bertanggung jawab, mereka seharusnya berpikir untuk memenuhi sumpah jabatan, terutama saat sang presiden mengingkari sumpah tersebut,” ungkap Chris Christie, mantan gubernur New Jersey, kepada ABC.

Pada bagian lain, Kanselir Jerman Angela Merkel menyalahkan penolakan Trump terhadap hasil pemilu memicu aksi yang melukai demokrasi. Rusia, rival AS, tak henti-hentinya menyindir kegagalan demokrasi AS. Mereka menyebut sistem demokrasi AS saat ini pincang.

“Masalahnya terletak pada sistem elektoral yang kuno. Sistem itu tak sesuai dengan zaman dan mempunyai banyak celah yang bisa berujung banyak pelanggaran,” ujar Jubir Kementerian Luar Negeri Rusia, Maria Zakharova, kepada Agence France-Presse.

Semua tekanan itu akhirnya membuat Trump tunduk. Untuk kali pertama, sang taipan mengakui bahwa pemerintahannya berakhir. Dia juga mengatakan bahwa transisi akan berjalan secara damai.

Menurut sumber internal, pernyataan itu dikeluarkan dengan terpaksa. Trump yang menghabiskan waktu dengan menonton televisi di ruang makan dilaporkan terus mengutuk Mike Pence karena tak menuruti perintahnya. Pence menolak usul Trump untuk menghentikan konfirmasi secara sepihak.

Meski diwarnai protes, masa awal pemerintahan Biden diprediksi berjalan lancar. Sebab, pemilu senator Georgia disapu bersih oleh Demokrat. Kemenangan Jon Ossoff yang menyusul Raphael Warnock membuat perbandingan senator Demokrat dan Republik menjadi 50:50. Jika macet, wakil presiden Kamala Harris bakal menempatkan suara penentu sebagai ketua Senat. (*)

Sumber : JP Group
Editor : Jamil Qasim