Feature

Vio Fisnanda, Siswi SMAN 1 Batam yang Go Internasional

batampos.id – Pembawaanya seperti remaja umumnya. Riang dan banyak senyum. Perawakannya layaknya remaja usia 17 tahun. Modis dengan berbagai pernak perniknya.
Tapi, begitu bicara, cara pandangnya sangat luas dan layaknya orang dewasa.

Itulah, Vio Fisnanda. Remaja berusia 17 tahun yang sudah memiliki pengalaman yang cukup luas. Sudah mengikuti berbagai kegiatan bersifat regional hingga internasional yang membahas tentang hak-hak anak.

“Masih banyak anak-anak di Indonesia, khususnya Batam tidak mengetahui hak-hak dasarnya. Lalu, hak-hak anak ini diabaikan banyak pihak,” katanya, memulai perbincangan siang itu kantor Yayasan Embun Pelangi, Selasa (2/1/2021) pekan lalu.

Advertisement

Kepada Batam Pos, Vio mengaku berkecimpung di komunitas yang membahas hak-hak anak ini bermula dari kedatangan Yayasan Embun Pelangi ke sekolahnya. Seniornya Vio membuat sebuah komunitas bernama Raeksa (Remaja Anti Ekploitasi Seksual Anak). Vio yang bersekolah di SMAN 1 Batam itu, tertarik mengikuti kegiatan ini. Awalnya coba-coba, hingga akhirnya ketagihan.

Vio Fisnanda (dokumen pribadi)

Kini, Vio menjabat sebagai Wakil Ketua Komunitas Raeksa yang beranggotakan para remaja yang peduli akan hak anak.

Banyak hal membuatnya tertarik mendalami soal hak anak. Di Komunitas Raeksa, ia sadar banyak anak yang haknya tidak terpenuhi dengan baik.

“Banyak anak yang tidak seberuntung saya, mendapatkan seutuhnya hak sebagai anak,” tuturnya.

Vio mengatakan, Raeksa fokus pada kasus-kasus eksploitasi terhadap anak. Salah satunya secara seksual. Ia mengatakan dari pengalamannya selama di Raeksa, banyak hal negatif dialami anak-anak seusianya.

“Paling banyak ya itu, dieksploitasi secara seksual,” ucapanya.

Orang-orang yang melakukan eksploitasi secara seksual, kata Vio, biasanya orang terdekat mulai dari paman, tetangga hingga pacar.

“Paling sering ditemukan itu pacar,” ucap Vio.

Vio mengatakan, anak-anak yang menjalin hubungan dengan orang lebih dewasa, rentan mengalami eksploitasi seksual. “Paling sering anak perempuan.”

Modus yang dilakukan orang dewasa yang menjalani hubungan dengan anak-anak di bawah umur, katanya, dengan bujuk rayu. “Apa yang diinginkan orang dewasa menjalin hubungan dengan anak di bawah umur? Paling banyak itu hanya free seks. Saya sering ingatkan itu teman-teman sebaya, agar berhati-hati menjalin hubungan dengan orang dewasa,” ucapnya.

Salah satu kejadian eksploitasi seksual, kata Vio, dialami temannya. Beberapa hari teman perempuannya ini tidak pulang ke rumah.

Orang tuanya membuat pamflet anak hilang dan melaporkan ke kantor polisi. Tapi setelah ditelusuri, anak tersebut berada di kosan pacarnya.

“Pacarnya jauh lebih dewasa. Pengakuan teman saya ini, ternyata mereka melakukan itu (hubungan suami istri).”

Vio mengatakan, temannya tersebut sempat mengalami tekanan mental akibat kejadian itu. Tapi, Vio bersama anak-anak Raeksa mengguatkannya dan memberikan dukungan.

“Akhirnya teman saya ini masuk Raeksa, untuk membantu orang-orang yang mengalami kejadian seperti dirinya,” tuturnya.

Vio mengatakan, di Raeksa ada beberapa penyintas (eksploitasi anak) yang bergabung. Para penyintas ini, kata Vio, ingin memberikan edukasi baik terhadap para remaja, untuk tidak terjerat atau mengalami eksploitasi seksual atau ekonomi.

Kasus yang ditangani Raeksa dan Embun Pelangi tidak banyak di Batam. Tapi diyakini, banyak anak-anak mengalami eksploitasi seksual dan ekonomi.

“Seperti fenomena gunung es, hanya terlihat sedikit di permukaan. Tapi besar di bawahnya,” paparnya.

Vio mengatakan, anak-anak Indonesia, khususnya Batam, tidak banyak mau berbicara lantang atas pelanggaran yang dilakukan orang dewasa terhadap hak-haknya. Sehingga, terkadang kasus ini dianggap sepele atau aib.

Anak-anak harusnya sebagai korban dilindungi dan dijaga, tapi di Indonesia sering mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan.

“Sering disalahkan, kenapa begini dan begitu. Padahal anak ini korban. Makanya jarang anak-anak yang mengalami eksploitasi seksual berbicara lantang. Efek sosial akan diterima mereka dan keluarganya, jadi memilih diam,” katanya.

Vio ingin mendampingi anak-anak korban eksploitasi atau yang hak-haknya dilanggar orang dewasa agar dapat terus melangkah dan terhindar dari efek sosial yang diterima di lingkungannya.

“Banyak yang merasa setelah mendapatkan perlakuan itu (eksploitasi seksual), merasa tidak pantas (hidup). Tapi kami kuatkan mereka, bahwa masih ada masa depan untuk teman-teman kami ini.”

Di berbagai acara anak internasional yang dihadirinya, membuka matanya. Di beberapa negara masih banyak anak yang hak-haknya diabaikan, bahkan mengalami eksploitasi seksual.

“India itu lebih ke faktor ekonomi,” tuturnya.

Vio pernah mengikuti kegiatan Asian Children Summit di Thailand, 25-30 November 2019 lalu. Banyak ilmu didapatnya dari kegiatan itu.

Lalu, di tengah pandemi ini tidak membuat Vio berhenti berkreasi. Ia kembali mengikuti pertemuan anak sedunia, Covid Under 19, pada 9 Desember 2020 lalu. Vio merupakan satu-satunya perwakilan Indonesia.

“Pertemuan ini membahas banyak hal, mengenai hak anak. Saya juga memaparkan bagaiamana perlakuan yang diterima oleh anak-anak di Indonesia, khususnya Batam.”

Vio menyatakan, akan konsen memberikan edukasi anak-anak seusianya terkait haknya. Kemudian juga membimbing anak-anak yang mengalami eksploitasi seksual dan ekonomi.

“Saya bersama Raeksa ingin bergandengan tangan dengan komunitas anak lainnya di Batam, melindungi hak-hak kami,” ucapnya.

Saat Batam Pos menanyakan, apakah Batam kota layak anak? Vio hanya tersenyum, dan mengatakan itu sedang dibahas kelompoknya. Ia berharap kelak Batam benar-benar menjadi kota ramah anak dalam arti yang sesungguhnya.

Kiprah Vio sendiri banyak mendapatkan perhatian media internasional. Salah satunya media di negeri kincir angin, Belanda. Kisah Vio yang peduli anak juga ditulis terredeshommes.nl, sebuah media dari Belanda.

Media ini menyebut Vio sebagai inspirasi untuk membantu banyak anak-anak lain di berbagai belahan dunia yang mengalami berbagai persoalan. (*)

Reporter : FISKA JUANDA
Editor : R YUSUF HIDAYAT