Bintan-Pinang

DPRD Tanjungpinang Dukung Sekolah Tatap Muka dengan Tetap Jalankan Prokes

Ketua Komisi I DPRD Tanjungpinang, Novaliandri Fathir saat memantau belajar tatap muka yang diterapkan sebelumnya namun ditutup kembali, belum lama ini. (F. Peri Irawan/batampos.id)

batampos.id – Komisi I DPRD Tanjungpinang sepakati pelaksanaan belajar tatap muka di Tanjungpinang dijalankan dengan penerapan protokol kesehatan (prokes) secara ketat.

Ketua Komisi I DPRD Tanjungpinang, Novaliandri Fathir mengatakan terkait rencana belajar tatap muka di Tanjungpinang yang akan dilaksanakan pada Senin (18/1/2021) mendatang berharap dengan adanya pelaksanaan vaksinasi bisa mengurasi rasa takut dari orang tua sehingga rencana itu bisa berjalan baik.

BACA JUGA: Hari Pertama Belajar Tatap Muka di Pulau Kundur Berjalan Lancar dengan Prokes

Advertisement

“Rencana vaksin ini bisa mengurangi pemikiran negatif dari orang tua,” kata Fathir, Selasa (12/1/2021).¬†Dijelaskan Fathir rencana pembelajaran tatap muka yang dimulai dari 15 sekolah yang terletak di pinggiran Kota Tanjungpinang, seperti Dompak, Penyengat, Kampung Bugis dan Senggarang bisa menjadi dasar untuk membuka sekolah lainnya.

“Kita berharap agar vaksinasi ini bisa efektif berjalan supaya sekolah lain bisa segera dibuka,” ujarnya.¬†Memang tidak ada evaluasi khusus dari penerapan belajar tatap muka yang pernah dijalankan sebelumnya, karena protokol kesehatan (Prokes) sudah diterapkan di sekolah tersebut. Hanya terjadi peningkatan kasus covid-19 sehingga diputuskan untuk kembali belajar daring atau online.

“Sekarang dengan tren kasus covid-19 yang mulai menurun, saya kira bisa untuk memulai,”sebut Fathir. Tidak hanya itu, lanjut Fathir para guru yang akan mengajar juga sudah dilakukan pemeriksaan swab antigen untuk memastikan pembelajaran bisa dijalankan dengan baik.

Namun yang menjadi catatan khusus adalah penerapan Prokes harus dijalankan dengan baik tanpa melewati persyaratan yang diminta seperti menggunakan masker, menjaga jarak dan menyediakan tempat cuci tangan.

“Hasil koordinasi dengan dinas pendidikan, pembelajaran akan dilakukan dengan cara sistem shift,” tambahnya Sistem shift yang dimaksud bisa jadi nantinya siswa belajar hanya tiga hari dalam seminggu atau siswa belajar hanya 20 orang dalam satu kelas. (*)

Reporter: Peri Irawan
Editor: tunggul