Ekonomi & Bisnis

Pengusaha Minta Pemerintah Tidak Terus-terusan Mengunci Sektor Usaha

ILUSTRASI: Hotel Travelodge Batam. F. Iman Wachyudi, Batam Pos.

batampos.id – Ketua Umum Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Hariyadi Sukamdani meminta pemerintah tidak terus-terusan mengunci sektor usaha.

Yang lebih penting adalah meningkatkan kesadaran untuk mematuhi protokol kesehatan.

“Masih banyak orang yang relatif sangat mengabaikan protokol kesehatan. Ini kan takutnya salah ngunci. Yang dikunci sektor usaha, padahal masalahnya tidak di sana,” tegas Hariyadi Minggu (10/1).

Advertisement

Karena itu, Hariyadi mengimbau pemerintah melanjutkan insentif bagi sektor pariwisata. Khususnya perhotelan dan restoran.

BACA JUGA: PHRI Senang Ada Hotel Bintang Lima di Batam

Diakui Hariyadi, pelaku usaha wisata, khususnya perhotelan dan restoran, belum bisa berlari kencang mengejar ketertinggalan akibat pandemi Covid-19. Sama seperti tahun lalu, pada 2021 pun banyak kebijakan yang tidak selaras dengan target mereka. Karena itu, mereka berharap insentif pariwisata berlanjut tahun ini.

Pembatasan sosial berskala besar (PSBB) yang kini bernama pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) menjadi tantangan berat bagi dunia usaha. Khususnya mereka yang berkaitan dengan wisata.

Wakil Ketua Umum PHRI Maulana Yusran menyatakan, insentif yang perlu dilanjutkan adalah dana hibah bagi sektor pariwisata. Para pengusaha hotel dan restoran di 10 destinasi wisata prioritas dan 5 destinasi superprioritas berhak atas dana hibah yang totalnya mencapai Rp 3,3 triliun.

Ciptakan Demand New Normal

“Jantung” sektor pariwisata adalah pergerakan manusia. Saat mobilitas masyarakat dibatasi, pengusaha harus tetap mengambil langkah-langkah untuk mendapatkan income. Kini tren yang diciptakan adalah staycation dan work from hotel.

Senior Associate Director Colliers International Indonesia Ferry Salanto mengatakan, okupansi hotel di ibu kota naik pada akhir pekan atau libur panjang (long weekend). Sebab, masyarakat melakukan staycation.

“Di Jakarta itu tiap ada long weekend muncul market staycation. Mereka yang menginap di hotel kebanyakan dari family,” ujarnya.

Ketua Umum Asosiasi Travel Agen Indonesia (Astinfo) Elly Hutabarat menyatakan bahwa sebagian masyarakat mulai akrab dengan liburan di dalam kota. Destinasi yang diincar adalah hotel dan tempat wisata yang area outdoor-nya dominan.

“Banyak yang mencari udara segar,” ujarnya.

Sebelumnya, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Uno juga mengimbau masyarakat untuk staycation atau work from hotel sebagai alternatif work from home.

“Tapi, tetap harus memperhatikan hotelnya. Cari yang menerapkan standar ketat dan disiplin,” tuturnya.

Sementara itu, Ketua PHRI Jawa Timur (Jatim) Dwi Cahyono berharap PPKM tidak membuat okupansi hotel makin anjlok. Saat ini rata-rata okupansi hotel Jatim 20 persen. Dia menekankan bahwa protokol kesehatan harus benar-benar diterapkan di seluruh hotel dan restoran.

TARGET PARIWISATA 2021

Devisa

Tahun | Nilai (dalam miliar USD)

2020 | 4,8–8,5

2021 | 19–21

Serapan Tenaga Kerja: 10,5 juta

Kontribusi PDB: 4,2%

Kunjungan Wisatawan Mancanegara

Tahun | Target (dalam juta)

2020 | 18

2021 | 4–7

Sumber: Kemenparekraf (*)

Reporter: JP Group
Editor: Suprizal Tanjung