Nasional

Tangani Dulu Covid-19, Baru Investasi

Investor Takkan Datang selama Penularan Corona Tak Bisa Ditekan

Wakil Ketua Koordinator Himpunan Kawasan Industri (HKI) Kepri Tjaw Hoeing. (dok Batam Pos)

batampos.id – Kemampuan pemerintah mengendalikan dan menekan angka penyebaran Covid-19 sangat menentukan perkembangan investasi di Batam. Pembebasan aktivitas masyarakat dengan tujuan memulihkan perekonomian tak ada artinya jika orang yang terpapar corona makin banyak.

Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Rafki Rasyid, mendesak berbagai pihak terkait serius mengendalikan penyebaran Covid-19 ini.

“Hal-hal seperti kepatuhan protokol kesehatan (protkes) diamati oleh calon investor dan dijadikan penilaian apakah aman mengunjungi Batam atau tidak. Jika mereka tidak percaya bahwa kita telah berhasil menekan penyebaran virus Covid-19, maka realisasi investasi tidak akan terjadi,” ujarnya.

Advertisement

Rafki mengimbau para pihak terkait agar mengutamakan pengendalian Covid-19 di Batam sebelum memutuskan untuk memulihkan ekonomi.

“Pemulihan ekonomi di Batam tidak akan mungkin terjadi jika virus Covid-19 masih belum bisa dikendalikan dengan baik. Jangan pula menunggu program vaksinasi berjalan. Pemulihan ekonomi akan butuh waktu lebih lama lagi jika kita berharap pada program vaksinasi untuk mengendalikan wabah Covid-19.”

Di sisi lain, pengelola kawasan industri meminta ada kebijakan terkait pelarangan orang asing masuk Indonesia.

“Ada sejumlah calon investor berminat untuk mengunjungi Batam. Masalahnya, orang asing tidak bisa berkunjung, jika tidak punya izin tinggal,” ujar Wakil Ketua Koordinator Himpunan Kawasan Industri (HKI) Kepri, Tjaw Hoeing, Selasa (12/1).

Tjaw menilai, kondisi ini menjadi dilematis. Di satu sisi ekonomi Batam harus bergerak cepat agar segera pulih, namun di sisi lain harus memperhatikan aspek kesehatan dari penyebaran Covid-19 dan varian barunya.

Menurutnya, satu-satunya cara untuk berinteraksi dengan investor asing hanya lewat pertemuan daring. “Investor-investor itu banyak dari Cina. Saat ini, masih ada pengaruh dari perang dagang, sehingga banyak investor asing mengalihkan pabriknya ke Asia Tenggara,” ungkapnya.

Ia berharap, investor-investor yang mau berinvestasi baru dan juga ekspansi, agar segera dicarikan jalan keluarnya. “Ya, usahakan mereka bisa datang, tapi tentu saja dengan mematuhi standar protokol kesehatan,” pinta Tjaw.

Ekspor Kepri ke AS Meningkat

Efek perang dagang juga berpengaruh kepada pertumbuhan ekspor Kepri. Pengaruhnya bisa dilihat dari peningkatan ekspor Kepri ke Amerika. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kepri, nilai ekspor hasil industri manufaktur di November 2020 sebesar 929,6 juta dolar Amerika, mengalami peningkatan 14,89 persen dibanding Oktober 2020 dan 15,23 persen dibanding November 2019.

Sedangkan menurut negara tujuan, ekspor Kepri ke Amerika sepanjang Januari hingga November 2020 mencapai 1,75 triliun dolar Amerika. Nilainya meningkat 372 persen dibanding Januari-November 2019 yang mencapai 371,40 juta dolar Amerika. Amerika berada di peringkat kedua setelah Singapura yang nilai ekspornya mencapai 2,8 triliun dolar Amerika.

Kemudian, ekspor ke Negeri Tirai Bambu juga mengalami peningkatan 146,7 persen. Di periode Januari-November 2019, Tiongkok berada di peringkat kedua dengan nilai ekspor 408,64 juta dolar Amerika. Namun di periode yang sama di 2020, nilainya meningkat menjadi 1,008 triliun dolar Amerika. Meskipun begitu, Tiongkok turun ke peringkat ketiga.

Perang dagang terjadi karena Amerika mengenakan kenaikan tarif bea masuk sebesar 25 persen terhadap barang-barang asal Tiongkok. Bahkan, lebih dari 5.700 kategori produk.

Untuk menghindari tarif besar tersebut, Tiongkok banyak memindahkan pabrik industrinya ke negara lain di Asia Tenggara. Dengan demikian, asal barang bukan lagi menjadi masalah, sehingga tidak dikenakan tarif bea masuk.

“Industri pengolahan itu masih tumbuh positif, dan Batam sebagai pusat industri masih menjadi magnet utama,” tuturnya. (*)

Reporter : RIFKI SETIAWAN
Editor : YUSUF HIDAYAT