Metropolis

Persiapkan Prakerin Siswa, SMKN 8 Mohon Dukungan Penuh dari Lembaga Layanan Kesehatan

Siswa SMKN 8 ikuti pembekalan prakerin di Sekolah. (f.eusebius/batampos.id)

batampos.id – 177 siswa kelas 12 SMKN 8 Batam akan mengikuti program praktek kerja industri (prakerin). Saat ini mereka tengah mengikuti pembekalan di sekolah selama empat hari.

BACA JUGA: 2021, Program Kartu Prakerja Masih Lanjut

Prakerin ini merupakan bagian dari program pembelajaran di sekolah sebagai bentuk implementasi atas ilmu yang telah mereka dapat selama ini di lingkungan tempat kerja. Sebagai sekolah berbasis kesehatan tentu tujuan prakerin sekolah yang berada di Dapur Sagulung ini, lebih ke layanan kesehatan seperti Rumah Sakit, Puskesmas, Klinik, Puskesmas, dan juga Apotek.

Advertisement

Kepala SMKN 8 Rafio menuturkan, sudah ada 16 layanan kesehatan yang bersedia menerima siswa prakerin mereka. Ada Rumah Sakit, Klinik dan juga Apotek. Sementara Puskesmas belum bisa sebab ada sedikit kendala dengan persoalan sebelumnya. “Sekarang lagi dalam tahapan persiapan dan pembekalan. Minggu depan sudah mulai (prakerin) mereka,” ujar Rafio saat dijumpai di SMKN 8 Batam, Kamis (14/1).

Sejauh ini persiapan sudah berjalan maksimal namun ada sedikit kendala dengan adanya biaya tambahan untuk prakerin seperti biaya administrasi, rapid test, pembelian perlengkapan Alat Pelindung Diri (APD) dan lain sebagainya.

“Sebagian orangtua merasa keberatan karena harus keluar banyak biaya termasuk APD tadi. Ini yang mau kita sampaikan agar ada dukungan penuh dari lembaga atau layanan kesehatan yang ada, biar anak-anak kita ini bisa praktek dengan tenang. Sekarang lagi musim Covid-19 tentu situasi ekonomi orangtua juga berdampak. Semoga ada dukungan yang penuh sehingga tidak membebani siswa dengan biaya parktek dan lain sebagainya itu,” harap Rafio.

Prakerin siswa SMKN 8 tahun ini memang membutuhkan biaya yang lebih sebab, situasinya berbeda karena Covid-19 ini. Bergerak di bidang layanan kesehatan tentu harus mengenakan APD serta perlengkapan protokol kesehatan lainnya dan itu dibebankan ke masing-masing siswa. Jika dalam sehari membutuhkan lebih dari satu APD tentu merepotkan orangtua siswa sehingga besar harapan dari pihak sekolah ada kebijakan yang lebih agar prakerin ini tidak menjadi beban tambahan bagi orangtua siswa. (*)

Reporter: Eusebius Sara
Editor: tunggul