Home

Pernah Kritik Pemerintahan Duterte, Jurnalis Perempuan ini Kembali Hadapi Gugatan Hukum

Maria Ressa, jurnalis Filipina berkebangsaan Amerika dan situs berita miliknya, Rappler menghadapi lebih dari 12 dakwaan hukum sejak dua tahun terakhir. Tiga kasus dunia maya lainnya kini menjeratnya. (F AFP)

batampos.id – Jurnalis perempuan asal Filipina, Maria Ressa kembali menghadapi gugatan hukum atas kasus kejahatan dan pencemaran nama baik di dunia maya. Gugatan itu datang setelah tulisannya yang memuat tentang seorang siswa yang diduga memberi suap kepada seorang profesor untuk mendapatkan kelulusan.

BACA JUGA:
Penanganan Covid-19 di Filipina Diragukan, Duterte: Bunuh Semua Pasien

“Ini surat perintah penangkapan ke-10 saya dalam waktu kurang dari dua tahun. Ini jelas pelecehan bagi saya pribadi dan profesi saya,” ujar perempuan yang pernah mendapatkan Person of The Year 2018 dari Majalah Time itu seperti dikutip dari Channel News Asia, Kamis (14/1/2021).

Advertisement

Sebelumnya, perempuan blasteran Amerika-Filipina ini dan situs beritanya Rappler menghadapi setidaknya selusin dakwaan kriminal dan penyelidikan setelah menerbitkan cerita yang mengkritik kebijakan Presiden Rodrigo Duterte, termasuk perang narkoba berdarahnya.

Mantan koresponden CNN ini juga pernah dihukum atas tuduhan lain melakukan fitnah dunia maya pada Juni 2020 lalu. Namun dia tak ditaan dengan jaminan menunggung banding terhadap putusan itu.Dia dengan jaminan menunggu banding terhadap putusan yang bisa membuatnya mendekam di penjara selama enam tahun.

Kali ini, ia berusaha membatalkan tuntutan itu atas nama pribadi dan juga media online miliknya Rappler bersama reporternya, Rafael Talabong melalui pengacaranya, Theodore Te. Keduanya mengirimkan uang jaminan sebesar 30 ribu Peso (setara Rp 8.780.000,-) setelah mereka mengetahui surat perintah penangkapan telah dikeluarkan, Kamis (14/1/2021).

Seorang jaksa Kota Manila mengajukan dakwaan pada Desember 2020 lalu, menyusul keluhan dari seorang profesor di universitas swasta atas artikel Rappler yang diterbitkan pada Januari 2020 lalu.

Cerita tersebut menuduh profesor telah menerima uang suap dari siswa tesis dengan imbalan nilai kelulusan, menurut salinan lembar tagihan yang dibagikan Te kepada wartawan.

Ressa dan Talabong dianggap “dengan sengaja, melawan hukum, dan keji” telah merusak karakter dan reputasi profesor, menurut lembar dakwaan. (*)

Alih bahasa: Chahaya Simanjuntak

Sumber: (1)