Nasional

Pengamat: Tantangan Pertama Komjen Listyo Pembenahan Internal

Calon Kapolri Komjen Pol Listyo Sigit Prabowo. (dok Jawa Pos)

batampos.id – Pengamat kepolisian dari Partnership for Advancing Democracy and Integrity (PADI) M. Zuhdan menuturkan, idealnya kepemimpinan Polri dipilih secara merit system atau kebijakan berdasar kualifikasi, kompetensi, dan kinerja. Namun, kepemimpinan kepolisian saat ini lebih sering terjadi karena hubungan patrimonial antara presiden dengan calon Kapolri di masa lalu. ”Memang ini akan bagus secara koordinasi,” tuturnya.

Namun, kondisi tersebut cenderung menimbulkan conflict of interest. Dampaknya, itu akan mempersulit lembaga Polri untuk independen dan netral dari kepentingan kekuasaan. ”Di sisi lain, Polri selama ini telah memiliki tradisi internal birokrasi bahwa sirkulasi kepemimpinan berdasar senioritas angkatan,” jelasnya.

Menurut dia, sebaiknya seleksi calon Kapolri diperbaiki melalui merit system sekaligus menghargai sistem kultural kepemimpinan Polri. Untuk mewujudkan polisi yang lebih netral dan tetap kuat legitimasinya di internal kepolisian. ”Sistem karir jalan pintas melalui jalur politik perlu diantisipasi,” urainya.

Meski begitu, Listyo bukan tanpa kompetensi dan pengalaman. Listyo pernah memimpin Polda Banten yang saat itu bertipe B. Polda Banten kemudian menjadi polda tipe A pada Desember 2018, beberapa bulan setelah Listyo menjadi Kadivpropam Polri. ”Pengalaman memimpin polda tipe A penting karena rentang kendali wilayah dan tantangan kamtibmasnya,” tuturnya.

Pengalaman Listyo sebagai Kabareskrim juga menjadi modal utama. Apalagi, bisa menuntaskan kasus-kasus besar. Beberapa di antaranya ada kasus yang sempat mangkrak kendati posisi Kabareskrim sempat berganti.

Sementara itu, Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko menyatakan bahwa pemilihan Listyo sebagai calon tunggal Kapolri dilandasi berbagai pertimbangan. Yang dinilai adalah kapabilitas, loyalitas, kapasitas, dan integritas calon. ”Jangan diartikan macem-macem,” tuturnya kemarin di Kantor Staf Kepresidenan (KSP).

Sementara itu, pengamat politik sekaligus Direktur Eksekutif Indonesia Political Review Ujang Komaruddin mengatakan bahwa Listyo harus tegas dalam menghadapi adanya tantangan internal. Yakni, adanya faksi di tubuh Polri. ’’Tantangan pertama datang dari internal. Internal kepolisian harus diperbaiki dan direformasi. Saya melihat banyak friksi, banyak office politic-nya, banyak intrik politiknya,’’ terang Ujang kepada Jawa Pos kemarin.

Keberadaan friksi dan intrik ini, menurut Ujang, bakal sedikit banyak memengaruhi kinerja Kapolri. Juga bisa menjadi hambatan untuk menjalankan program-program yang sudah didesain apik sedemikian rupa di atas kertas yang dipaparkan dalam fit and proper test kemarin. Karena itu, Ujang menegaskan, Listyo harus segera menuntaskan masalah internal tersebut secara elegan.

Apalagi, Listyo menjadi Kapolri dengan melewati banyak jenderal yang lebih senior di internal. ’’Ini harus diselesaikan dengan elegan agar persaingan antar angkatan Polri tidak terjadi,’’ imbuh Ujang. (*)

Sumber : JP Group
Editor : Jamil Qasim