Home

Pencatatan Keliru, Tagihan Bengkak Dikoreksi

batampos.id – Keluhan tentang membengkaknya tagihan air bersih pelanggan pada Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) Batam, nyatanya tak melulu karena kebocoran atau tingginya pemakaian air. Ada juga, kesalahan itu terletak di sistem pencatatan pada pihak pengelola, dalam hal ini BP Batam yang dioperasionalkan PT Moya Indonesia.

Hal itu dialami Prana, warga Perumahan Mediterania, Batam Centre. Awalnya, ia mengaku tagihan airnya melonjak. Jika biasanya ia membayar Rp 200 ribu tiap bulan, tagihan berubah menjadi Rp 600 ribu pada Januari 2021. Mendapati tagihannya naik hingga tiga kali lipat, Prana kemudian mendatangi Kantor Pelayanan Pelanggan (KPP) SPAM Batam di Batam Center.

Rapat Dengar Pendapat dengan MOYA.
foto: Cecep Mulyana / Batam Pos

”Ternyata, ada kesalahan di sistem pengelola. Setelah dikoreksi, saya akhirnya bayar Rp 285 ribu,” kata Prana, karyawan swasta di Batam Center.

Advertisement

Anggota Komisi I DPRD Kota Batam, Utusan Sarumaha, mengatakan, seharusnya BP Batam dan PT Moya mengakui bahwa ada kesalahan di sistem mereka. Sebab, ketika konsesi dengan ATB berakhir, segala tugas pelayanan dilimpahkan ke PT Moya selaku operator SPAM.

Itu karena, pada Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) dengan DPRD Batam beberapa waktu lalu, pihak BP Batam menyebut pengakhiran konsesi yang tak harmonis dengan operator sebelumnya, yakni ATB, punya andil terkait melonjaknya tagihan air pelanggan.

”Mau ATB melakukan pencatatan atau tidak, mestinya PT Moya harus sudah punya format. Harus memikirkan solusi terbaik yang tidak membebankan masyarakat,” kata Utusan, kemarin.

Dilanjutkan Utusan, ketika terjadi kasus lonjakan tarif air di masyarakat yang tidak wajar dan kemudian PT Moya terkesan mencari pembenaran, ia meminta PT Moya rela dan memberikan solusi konkret yang tidak memberatkan masyarakat.

”Kita tahu, PT Moya adalah badan hukum yang mencari keuntungan, bukan kerugian. Tetapi, kalau menuntut masyarakat itu secara tidak baik, yang kemudian menimbulkan jeritan masyarakat, ini suatu yang tidak baik juga,” tuturnya.

Untuk itu, ia meminta kepada PT Moya lebih profesional. Misalnya, kata dia, Moya sudah tahu kalau ATB tidak melakukan pencatatan, mestinya dia sudah punya solusi yang benar-benar tidak memberikan kegaduhan di tengah masyarakat.

”Karena sampai saat ini, saya masih menerima keluhan masyarakat terkait melonjaknya tagihan air ini,” katanya.

Maka itu, ia meminta kepada pihak kepolisian melakukan penyelidikan agar lebih terbuka. Sebab, jika pemakaiannya tidak seperti pemakaian sebelumnya, tentu menjadi pertanyaan yang besar bagi pelanggan.

”Saya kira, PT Moya harus benar-benar fair. Misalnya rugi saat ini, tapi kembalikan kepercayaan publik dan putihkan semua. Jadikan rata-rata mereka sesuai dengan pembayaran sebelumnya,” bebernya.

Tak dipungkiri, memang tidak semua tagihan bengkak karena sistem pencatatan. Pihak Moya selaku operator air bersih, mengaku telah berupaya menelusuri dan menyelesaikan persoalan lonjakan tagihan air, melalui sistem pada data komputer dan juga dengan mengunjungi properti pelanggan SPAM untuk validasi.

”Kami mengunjungi properti pelanggan untuk validasi dengan memberikan ilustrasi dan pemahaman atas hal yang sebenarnya terjadi, sehingga dapat dimengerti oleh pelanggan,” ungkap Corporate Communication SPAM Batam, Astriena Veracia, Kamis (20/1/2021).

Vera kemudian menjelaskan, bahwa dasar hukum yang menjadi landasan SPAM Batam dalam pembacaan meter air pelanggan secara langsung adalah Peraturan Kepala (Perka) Badan Pengusahaan (BP) Batam Nomor 24 Tahun 2020, yang menyebut kewajiban pihak kedua, yakni melakukan pembacaan meter serta mengelola dan mengoperasikan sistem penagihan.

Lalu, Pasal 19, dimana air minum yang dipakai oleh pelanggan dihitung setiap bulan sekali sesuai penunjukan meter air untuk pencatatan dihitung setiap tanggal 1 sampai 24 dan penagihan setiap tanggal 1 sampai 20 setiap bulannya. Atas dasar hukum tersebut di atas, maka, data stand pada meter adalah merupakan alat bukti yang dijadikan dasar penagihan ke pelanggan.

Ia juga menyampaikan, beberapa contoh adanya kasus tagihan tinggi yang berhasil ditelusuri hingga saat ini. Pertama, pelanggan di Tanjungsengkuang, Batuampar, tagihan sebelum Desember 2020 sebesar rata-rata Rp 58 ribu, namun di bulan Desember 2020 tagihan melonjak menjadi Rp 800 ribu.

”Atas validasi yang dilakukan di rumah pelanggan, hasil pembacaan telah sesuai dengan angka stand meter aktual, sehingga setelah dijelaskan pelanggan memahami kondisi yang sebenarnya,” paparnya.

Begitu juga dengan pelanggan yang berlokasi di Pertokoan Valley Park, Belian, Batam Center, dengan tagihan melonjak tinggi hingga dengan Rp 36 juta, padahal biasanya rata-rata tiga bulan sebelumnya tagihan hanya Rp 100 ribu.

”Atas kondisi ini, dilakukan validasi, ditemukan adanya kebocoran pipa pada jaringan instalasi dalam, yang menyebabkan tagihan melonjak tinggi dan pelanggan memahami atas penjelasan yang disampaikan. Setelah kebocoran diperbaiki, maka tagihan normal kembali, dan sebagai informasi bahwa pelanggan tersebut adalah untuk ruko yang berfungsi untuk usaha ekspedisi,” tuturnya.

Selanjutnya, ada pelanggan yang beralamat di Perumahan Bengkong Indah, Bengkong Sadai, yang dikeluhkan adalah pembayaran rata-rata tiga bulan sebesar Rp 33 ribu, dan di Desember sebesar Rp 1.490.000.

”Atas kondisi ini, validasi meter dilakukan di rumah pelanggan, dan data menunjukkan bahwa pelanggan tersebut adalah pelanggan baru dan belum pernah terbaca meternya secara aktual di properti pelanggan sebelum periode SPAM Batam, sehingga pada saat dibaca terjadi penumpukan stand,” ungkapnya.

Selain itu, pada saat dilakukan simulasi semua keran air dimatikan, posisi meter tetap berputar sehingga dilakukan investigasi lebih lanjut dan ditemukan adanya kebocoran pada jaringan instalasi dalam. Setelah penjelasan yang rinci disampaikan, maka pelanggan memahami apa yang terjadi.

Menurut Vera, contoh di atas adalah sebagai ilustrasi dalam penyelesaian keluhan melonjaknya tagihan tinggi.

”Secara bertahap, SPAM Batam akan mengoptimalkan penyelesaian keluhan ke pelangganan yang ada,” paparnya.

 

 

Reporter : Eggi Idriansyah,
Editor : RATNA IRTATIK