Opini

Pengendalian Pandemi dan Pemulihan Ekonomi

batampos.id – Semakin meningkatnya kasus Covid-19, semakin meningkat pula potensi pemerintah melakukan berbagai restriksi terhadap mobilitas. Artinya, dampak ke ekonomi akan semakin dalam. Titik berat saat ini adalah mengendalikan persebaran. Jika kasus terus melonjak, stimulus yang diberikan untuk pemulihan ekonomi tidak bakal efektif.

Ambil contoh industri manufaktur. Selama pandemi, jumlah tenaga kerja industri manufaktur menurun tajam. Berkurang 1,8 juta orang pada Agustus 2020 jika dibandingkan pada Agustus 2019. Hingga kuartal III 2020, pertumbuhan industri manufaktur masih berada dalam zona pertumbuhan negatif. Secara tahunan, pertumbuhan industri manufaktur minus 4,31 persen. Jauh lebih rendah daripada pertumbuhan pada periode yang sama tahun lalu yang mencapai 4,1 persen.

Penurunan kinerja industri manufaktur juga terlihat dari tingkat utilisasi industri manufaktur yang turun drastis. Dari 75 persen sebelum pandemi menjadi hanya sekitar 50 persen ketika terjadi pandemi. Meski masih menjadi sektor dengan sumbangan terbesar, proporsi sektor industri terhadap PDB Indonesia menurun dalam 15 tahun terakhir.

Advertisement

Kondisi penurunan share manufaktur dalam perekonomian merupakan salah satu gejala deindustrialisasi dini yang dialami Indonesia satu dekade terakhir. Kondisi itu tentu perlu diwaspadai mengingat sektor industri manufaktur menjadi kunci dalam mendorong pemulihan ekonomi yang lebih tinggi hingga penciptaan lapangan kerja.

Bicara pemulihan ekonomi, pembenahan industri manufaktur menjadi pilar yang sangat penting. Sebab, sektor tersebut menyerap mayoritas tenaga kerja di Indonesia. Itulah bagian yang penting dalam struktur pembenahan ekonomi.
Sektor manufaktur akan berdampak langsung terhadap pemulihan ekonomi secara umum. Memang, bukan pemulihan untuk jangka pendek. Melainkan jangka panjang sampai pada struktur yang berkelanjutan.

Karena itu, upaya mengerem persebaran pandemi menjadi sangat penting. Masalahnya, upaya melakukan pembatasan harus diikuti dengan kedisiplinan masyakarat. Hampir setahun pandemi merebak, respons masyarakat justru less worry terhadap pembatasan yang diterapkan. Jika dibiarkan, kondisi itu bakal menjadi bumerang dalam jangka waktu panjang. Insentif yang digelontorkan pemerintah untuk sektor ekonomi menjadi kurang efektif karena kasus Covid-19 terus naik setiap hari.

Jika pada suatu titik persebaran sangat eksponensial dan pemerintah terpaksa menarik rem darurat atau pembatasan yang lebih ketat, dampaknya akan lebih besar pada ekonomi.
Memang vaksinasi sudah berjalan. Namun, apakah itu bakal memberikan direct impact pada pemulihan ekonomi? Belum ada yang tahu. Kita berharap seperti itu. Namun, semua kembali lagi ke efektivitas program vaksinasi yang meliputi kelancaran distribusi dan keampuhan vaksin itu sendiri.

Dengan kondisi tersebut, diprediksi ada dua skenario terkait pertumbuhan ekonomi 2021. Skenario terburuk, vaksinasi berjalan lambat dengan pengendalian kesehatan yang masih longgar. Pertumbuhan ekonomi Indonesia kami prediksi berada di level 3 persen. Namun, skenario terbaik, jika vaksinasi berjalan cepat dan efektif, Indonesia akan mampu mencatatkan pertumbuhan 5–6 persen. (*)

Oleh: Mohammad Faisal
Direktur Ekeskutif CORE