Internasional

Pasokan Vaksin Dikurangi, Uni Eropa Ancam Perketat Ekspor Vaksin dari Negara Anggota

Stella Kyriakides. ( F Europe.Eu)

batampos.id – Pasar saham Uni Eropa jatuh. Hal ini dipicu kekhawatiran gelombang baru penularan Covid-19, lockdown, dan masalah pengiriman vaksin. Akibatnya, salah satu pemasok vaksin AstraZeneca menyatakan mengurangi pasokan vaksi ke sana.

Uni Eropa (UE) pun merespon. Mereka mengancam memperketat ekspor vaksin yang diproduksi di negara-negara anggotanya. ” UE bakal mengambil tindakan yang diperlukan untuk melindungi hak-haknya dan warganya,” ujar Komisioner Urusan Kesehatan UE Stella Kyriakides seperti dilansir dari Agence France-Presse.

Menurut dia, tindakan AstraZeneca tidak bisa diterima. Padahal, izin penggunaan vaksin itu tinggal selangkah lagi. Hingga kemarin, ada dua vaksin yang disetujui UE, yakni BioNTech/Pfizer dan Moderna. Vaksin AstraZeneca seharusnya bisa dikirim dan digunakan akhir pekan ini.

Advertisement

Kyriakides mengungkapkan, UE mungkin akan mengusulkan mekanisme transparansi. Tujuannya, melacak pengiriman vaksin yang diproduksi di negara-negara UE, termasuk milik Pfizer. Negara-negara mana saja yang menjadi tujuan ekspornya. “UE ingin tahu dengan pasti berapa dosis yang diproduksi AstraZeneca sejauh ini dan kepada siapa dikirim,” ujar Kyriakides.

UE tidak terima. Sebab, mereka merasa sudah mendanai pengembangan dan produksi vaksin milik AstraZeneca. Karena itulah, seharusnya mereka tinggal menikmati hasilnya dengan mendapatkan suplai vaksin sesuai kesepakatan. UE mencium adanya konflik kepentingan. Sebab, saat ini pandemi kian parah. AstraZeneca berbasis di Inggris. Britania tidak lagi menjadi anggota UE sejak awal tahun. Sedangkan Pfizer berbasis di AS.

AstraZeneca awalnya mengabarkan berita tidak mengenakkan ini pada Jumat (22/1/2021) lalu. Mereka tidak bisa memenuhi komitmen pengiriman vaksin ke negara-negara anggota UE sesuai dengan kontrak karena ada masalah produksi. Rencananya, pengiriman di seperempat awal tahun ini dikurangi hingga 60 persen. Kabar itu muncul sepekan setelah Pfizer mengatakan hal serupa. Pfizer bakal memangkas volume pengiriman vaksin yang mereka produksi dengan perusahaan asal Jerman BioNTech.

Kabar tersebut menjadi pukulan tersendiri bagi UE. Sebab, mereka tengah gencar mengampanyekan program vaksinasi Covid-19. Terutama setelah ada varian baru yang jauh lebih menular daripada sebelumnya. Vaksin pun dianggap sebagai jalan keluar agar situasi setidaknya mendekati normal.

Sepekan lalu Ketua Komisi Eropa Ursula von der Leyen bahkan sempat menjanjikan 70 persen orang dewasa di UE sudah divaksin pada akhir Agustus. Janji itu terancam tidak bisa dipenuhi jika pasokan vaksin berkurang.

Sementara itu, AS menambahkan Afrika Selatan dalam negara yang masuk daftar larangan perjalanan. Langkah itu dilakukan untuk memerangi penularan Covid-19. Varian SARS-CoV-2 dari negara tersebut, 501Y.V2, jauh lebih menular dan mampu menginfeksi orang yang pernah tertular. Kebijakan tersebut berlaku mulai Sabtu (30/1/2021) mendatang. (*)

Reporter: Jpg
Editor: Chahaya Simanjuntak