Feature

Menangkap Peluang Pemenuhan Kebutuhan “Papan”

Tiga kebutuhan pokok bagi manusia adalah sandang (pakaian dan turunannya), pangan (makanan dan minuman) dan papan (tempat tinggal atau rumah). Jika tiga hal itu terpenuhi, setidaknya sudah ada modal dasar untuk hidup dalam lingkungan sosial dan ekonomi di masyarakat. Berkat tuntutan pemenuhan kebutuhan primer itu pula, sektor pengembangan perumahan sanggup bertahan di tengah hantaman pandemi Covid-19. Sinergi dengan pihak perbankan, juga punya andil sehingga penjualan rumah bisa terus berjalan dan menjangkau pangsa pasar yang lebih luas.

Kondisi rumah subsidi di Kelurahan Tanjunguncang, Kecamatan Batuaji, Kota Batam, Selasa (11/8/2020) lalu.Dalam proses pembelian rumah, warga lebih banyak memilih pengajuran pembiayaan KPR melalui Bank BTN.
(F. Dalil Harahap/Batam Pos)

Reporter : Ratna Irtatik
Editor :  Chahaya Simanjuntak

BERPIKIR matang-matang sebelum mengambil keputusan. Filosofi itu diterapkan betul oleh Fajri Yorghi, 26, karyawan salah satu perusahaan konstruksi di wilayah Kabil, Kecamatan Nongsa, Kota Batam, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri). Betapa tidak, setelah hampir dua bulan mempertimbangkan beli rumah, akhirnya ia mewujudkan hajatnya tersebut, awal tahun ini.

Advertisement

BACA JUGA:
KPR BTN, Backlog Perumahan dan Pemulihan Ekonomi di Tengah Pandemi
BTN Bantu Rakyat Memilik Rumah

Bermodal uang tabungan yang dikumpulkan sejak tiga tahun terakhir, Fajri mantap membeli rumah subsidi di Sekupang, kecamatan lainnya di Kota Batam. Tidak berukuran besar memang. Luas bangunan hanya 28 meter persegi dan luas tanah 72 meter persegi.

Namun, bagi Fajri itu cukup. Setidaknya, ada bekal untuk menghadapi fase selanjutnya dalam alur kehidupannya, menikah. Ya, jika tak ada aral melintang, akhir tahun ini, ia akan meminang gadis pujaannya, Hikmalia, 26. Setelah menikah, mereka akan segera menempati rumah tersebut.

Mewujudkan niat itu, Fajri mengaku sudah mulai mengajukan pembiayaan ke bank. Ia memilih Bank Tabungan Negara atau Bank BTN, yang menurutnya sudah dikenal punya kredibilitas dalam hal pembiayaan perumahan di Tanah Air. Menariknya saat ini, Fajri mengaku tak perlu datang langsung ke bank pelat merah tersebut. Melainkan, cukup melalui aplikasi dan laman digital, btnproperti.co.id.

“Karena ternyata cari rumah itu gampang. Bahkan, kita bisa mengotak-atik sendiri perkiraan berapa kemampuan kita untuk membayar, karena ada simulasi untuk menghitung harga properti yang mau dibeli,” ujar Fajri, saat berbincang dengan batampos.id, Minggu (14/2/2021) lalu.

Fajri mengaku, tengah menunggu persetujuan bank atas pengajuan kreditnya tersebut. Terlebih, sekitar tiga bulan lagi ia akan segera menghadap orangtua kekasihnya guna melamar belahan hatinya tersebut. Karena itu, ia harus punya bekal.

“Selain bertanya asal-usul keluarga dan pekerjaan, calon mertua biasanya bertanya soal rumah. Karena memang itu-kan kebutuhan utama kalau mau berkeluarga. Makanya, saya bela-belain cari rumah duluan,” katanya terkekeh.

Nyatanya, bukan hanya Fajri yang sedang berburu rumah di Kota Batam. Ribuan kalangan milenial, juga banyak yang mencari hunian untuk tempat tinggal di kota ini. Sebagian lagi, membeli properti untuk keperluan investasi.

Seperti Anto, salah satu Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Pemerintah Kota Batam. Meski telah memiliki rumah di wilayah Batam Center, ia tetap berkeinginan menambah koleksi propertinya. Masih di wilayah yang sama, Batam Center. Tujuannya, untuk berinvestasi yang dinilai bakal menguntungkan di masa mendatang.

Membeli properti hanya untuk keperluan investasi, sebenarnya hal yang lumrah di Kota Batam. Terlebih, wilayah ini memang memiliki keterbatasan area karena hanya berupa pulau kecil di gugusan Selat Malaka dan berhadapan langsung dengan dua negara tetangga, Singapura dan Malaysia. Sehingga, harga lahan dan properti di kota ini terus menanjak tinggi setiap tahunnya. Karena itu, investasi properti jadi hal yang menggiurkan, terutama bagi warga yang memiliki penghasilan berlebih atau malah berlimpah.

“Hitung-hitung menabung untuk anak-anak nanti,” jawab Anto, ketika disinggung alasannya kembali berburu properti tersebut.

Merujuk data hasil Sensus Penduduk (SP) Tahun 2020 yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) Kepulauan Riau, mayoritas penduduk Provinsi Kepulauan Riau didominasi oleh generasi milenial atau yang lahir tahun 1981-1996 dengan perkiraan usia antara 24-39 tahun, serta generasi Z yang lahir tahun 1997-2012 dengan perkiraan usia 8-23 tahun.

Proporsi generasi milenial sebanyak 29,61 persen dan Generasi Z sebanyak 27,94 persen dari total populasi sebesar 2,064 juta jiwa. Dari jumlah itu, 57,95 persen penduduk atau separuh lebih berdomisili di Kota Batam.

BPS juga menyebut, kedua generasi ini termasuk dalam usia produktif yang dapat menjadi peluang untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi. Salah satunya, melalui investasi dan pembelian properti tersebut.

Sementara itu, Dinas Perumahan Rakyat, Permukiman dan Pertamanan (Disperkimtan) Kota Batam, mencatat, ada 112.662 Kepala Keluarga (KK) dari total 310 ribu KK warga Kota Batam yang tidak memiliki rumah sendiri pada medio 2018 lalu. Adapun, KK warga Batam yang belum memiliki rumah ini, termasuk mereka yang tinggal di rumah liar (ruli) dengan status lahan bukan milik sendiri.

“Baru sekitar 197 ribu-an yang punya rumah sendiri,” kata Kepala Disperkimtan Batam, Eryudhi Apriadi, kala itu.

Menurun tapi Tetap Kuat Bertahan

Pekerja menggesa pembangunan rumah di wilayah Kecamatan Batuaji, beberapa waktu lalu. Pembangunan perumahan terus berlanjut meski dihantam badai pandemi Covid-19.
(F. Dalil Harahap/Batam Pos)

Selama pandemi Covid-19 yang dimulai Maret 2020 lalu atau hampir setahun lamanya, sektor pengembang perumahan memang cukup terdampak. Betapa tidak, penjualan properti menurun karena daya beli masyarakat juga jauh berkurang. Penyebabnya, berbagai sektor penggerak ekonomi di kota ini, baik itu industri, perdagangan dan pariwisata, mengalami perlemahan dan berimbas terhadap masyarakat yang mayoritas adalah para pekerja dari sektor-sektor tersebut.

Banyak perusahaan tutup, sebagian lagi merumahkan karyawannya karena sepi order. Bahkan, sektor pariwisata yang selama ini jadi andalan, banyak yang ambruk karena sanggup menahan beban sementara pemasukan jauh berkurang.

Penyebab utamanya, sebelum pandemi mereka mendulang pundi-pundi uang dari banyaknya kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) dari Singapura, Malaysia, dan berbagai negara lainnya. Namun, ketika pintu perbatasan negara ditutup dan wisatawan tak bisa masuk, pemasukan warga ikut terpuruk.

Untungnya, kondisi itu tak lantas membuat penjualan properti turut babak belur. Masih ada peluang dan secercah harapan yang tersisa. Terutama, untuk penjualan properti bagi kalangan menengah ke bawah.

President Director PT Trias Jaya Propertindo (TJP), Djaja Roeslim, mengakui hal tersebut. Menurutnya, penjualan perumahan untuk segmen menengah ke bawah sebenarnya terdampak, namun tidak terlalu signifikan.

“Karena mereka beli sebagai end user (untuk ditempati, red). Tentu berbeda dengan yang beli untuk investasi,” ujar Djaja, Kamis (18/2/2021).

Konsumen yang membeli properti untuk ditempati dan jadi kebutuhan pokok, pasti akan mengupayakan agar komponen tersebut dapat dipenuhi. Sedangkan bagi yang bertujuan investasi, jika anggaran yang dimiliki tak berlimpah, rata-rata akan berpikir dua atau tiga kali untuk menggelontorkan uangnya demi kepemilikan perumahan tersebut.

“Kalau yang segmen menengah ke bawah itu penurunannya sekitar 10 sampai 20 persen. Sedangkan yang medium-high (menengah-atas) itu bisa sampai 40-50 persen penurunannya,” tutur pria yang pernah menjadi Ketua Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Real Estate Indonesia (REI) khusus Batam tersebut.

Selama pandemi ini, kata dia, pengembang cukup hati-hati dan selektif dalam menawarkan produknya. Tujuannya, untuk meminimalisir risiko yang tak diinginkan, terutama pada kondisi yang serba sulit karena wabah ini.

Tak lupa, Djaja juga menyebut pentingnya kerja sama dengan sektor lain untuk mendukung perluasan pasar penjualan properti. Seperti, menggandeng pihak perbankan, salah satunya Bank BTN Cabang Batam, dalam pembiayaan perumahan.

“Kerja sama dengan BTN bagus, apalagi bunganya juga rendah, terutama yang untuk pembiayaan rumah subsidi atau yang sekarang jadi FLPP (Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan),” terangnya.

Menghadapi tahun 2021 ini, Djaja mengungkap bahwa PT TJP optimistis mampu bangkit dan mendulang capaian yang lebih baik dibanding tahun lalu. Terlebih, perusahaan itu menggarap semua segmen perumahan, dari yang menengah ke bawah hingga yang menengah ke atas. Sehingga, potensi pasar yang ada juga tetap terbuka.

“Kita juga mau launching (meluncurkan) produk, dan itu untuk semua segmen (konsumen perumahan),” katanya.

Optimisme sektor properti untuk bangkit dari keterpurukan akibat pandemi Covid-19, juga diungkap Ketua DPD REI khusus Batam, Achyar Arfan. Ia mengatakan, sektor properti tetap punya ceruk potensial untuk masa mendatang. Alasannya sama, selain faktor kebutuhan, properti juga merupakan investasi yang bernilai tinggi.

“Jadi (pengembang) Batam sudah terbiasa menghadapi persoalan dan tantangan maupun opportunity (kesempatan). Yang penting optimistis saja menatap 2021 ini,” ujar Achyar, Rabu (17/2/2021).

Namun, Achyar tetap mewanti-wanti agar pengembang tetap hati-hati dan selektif serta tidak jor-joran dalam menawarkan produknya. Selain itu, pengembang juga harus inovatif dan menyuguhkan keunggulan yang bisa menjadi daya tarik untuk menunjang produk properti yang ditawarkan. Mengingat, saat ini kebutuhan perumahan bukan hanya berwujud bangunan, tapi harus ditopang fasilitas pendukung yang menunjang gaya hidup konsumen yang dituju.

“Tetap konservatif, selektif dan harus membangun yang atraktif,” sebutnya.

Mengokohkan Posisi BTN sebagai Mortgage Bank

Tak bisa dipungkiri, keberadaan bank yang menyalurkan pembiayaan seperti kredit pemilikan rumah (KPR), dinilai sangat membantu masyarakat. Terutama, bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) maupun masyarakat dengan penghasilan menengah dengan beban kebutuhan yang cukup tinggi.

Peran itu, nyatanya sudah cukup lama dilakoni Bank BTN. Bahkan, selama pandemi Covid-19 menerjang, Bank BTN masih tercatat sebagai bank utama yang menyalurkan kredit perumahan atau sebagai mortgage bank.

Branch Manager Bank BTN Kantor Cabang Batam, Zulkifli, mengatakan, wabah Covid-19 turut membuat pembiayaan perumahan menurun. Itu karena, penjualan properti oleh pihak pengembang juga berkurang, sehingga pembiayaan juga ikut menyusut dibanding tahun-tahun sebelumnya.

“Apalagi, kita sekarang juga lebih selektif di tengah kondisi (sulit) seperti saat ini,” ujarnya, Kamis (18/2/2021).

Meski begitu, Zulkifli mengatakan, pihaknya terus mendorong program pemerintah yakni penyediaan perumahan subsidi yang dinilai punya market riil untuk dilayani dalam situasi seperti sekarang ini. Namun, pembiayaan perumahan untuk segmen lain juga tetap akan digarap maksimal oleh korporasi.

“Pembiayaan itu tetap jadi fokus utama. Supply chain (rantai pasokan,red) itu yang akan diperluas,” tuturnya.

Zulkifli juga mengatakan, Bank BTN juga akan terus bersinergi dan berkolaborasi dengan berbagai pihak. Baik itu pengembang, notaris, dan pihak lain terkait yang bertujuan untuk meluaskan pangsa pasar pembiayaan perumahan. Sehingga, target korporasi menjadi “The Best Mortgage Bank di Asia Tenggara tahun 2025”, bisa tercapai.

“Kita sebenarnya punya banyak sekali produk perbankan lainnya selain KPR. Tapi, KPR itu tetap yang utama, komposisinya sekitar 60-70 persen,” sebutnya.

Sementara itu, Plt Direktur Utama Bank BTN, Nixon LP Napitupulu, mengungkapkan, selama 71 tahun berdiri, PT Bank Tabungan Negara (Tbk) telah merealisasikan kredit lebih dari Rp 640 triliun dan mengalir lebih dari 5 juta masyarakat di Indonesia dari seluruh segmen. Kini, korporasi mengincar pembiayaan hingga Rp 270 triliun guna memenuhi kebutuhan pembiayaan pembelian rumah bagi lebih dari 6 juta masyarakat Indonesia pada 2025.

“Sektor properti menjadi salah satu sektor yang dapat mempercepat pemulihan ekonomi yang saat ini sedang diupayakan pemerintah,“ katanya di Jakarta, melalui rilis yang diterima batampos.id, Selasa (9/2/2021).

Langkah BTN dalam mendukung pemulihan ekonomi nasional lewat penyaluran KPR, terus meningkat setiap tahunnya, khususnya penyaluran KPR bersubsidi dan program sejuta rumah. Sejak program tersebut diinisiasi pada tahun 2015, BTN telah merealisasikan KPR maupun dukungan pembiayaan konstruksi. Pada 2015, BTN mampu membiayai KPR sebanyak 474.099 unit dari target 431.000 unit, tahun 2016 mencapai 595.540 unit dari target 570.000 unit, kemudian pada 2017 realisasinya sebesar 666.806 unit dari target 666.000 unit.

Selanjutnya pada 2018, KPR yang digelontorkan mampu membiayai 757.093 unit rumah dari target 750.000 unit pada 2019 dan bertambah lagi menjadi 753.749 unit rumah yang dibiayai lewat KPR BTN. Dengan pencapaian tersebut, Bank BTN menjadi kontributor penting dalam Program Sejuta Rumah guna menekan backlog perumahan.

Capaian itu bisa diraih dengan menjalankan komitmen sebagai mitra utama dalam pembiayaan perumahan lewat sejumlah skema seperti FLPP, Subsidi Selisih Bunga, maupun Bantuan Pembiayaan Perumahan Berbasis Tabungan (BP2BT), yakni program bantuan pemerintah yang diberikan kepada masyarakat berpenghasilan rendah yang telah mempunyai tabungan dalam rangka pemenuhan sebagian uang muka perolehan rumah atau sebagian dana untuk pembangunan rumah swadaya melalui kredit atau pembiayaan bank pelaksana.

Tak heran bila hingga kini, BTN menjadi penguasa pasar KPR subsidi, baik itu yang konvensional maupun syariah, yang secara kumulatif hingga tahun 2020 mencapai 85,3 persen. Sementara di segmen KPR secara nasional, Bank BTN menguasai pangsa pasar sebesar 40 persen.

“BTN yang berada dalam ekosistem properti, terus berkomitmen mendorong seluruh stakeholder untuk memanfaatkan momentum kebangkitan ekonomi,“ kata Nixon.

Nixon juga berharap, masyarakat makin akrab dengan Bank BTN tidak hanya sebagai bank KPR, tapi juga bank yang dapat memberikan solusi investasi dan layanan transaksi digital yang makin lengkap. (*)