Feature

Mulai Perkantoran Pemko sampai Kelurahan Bercorak Majapahitan

Di Balik Keberhasilan Wali Kota Mojokerto Ika Puspitasari Meraih Anugerah Kebudayaan PWI Pusat

Ika Puspitasari. (
F. JP Radar Mojokerto)

Ika Puspitasari merevitalisasi perwajahan Kota Mojokerto dengan gaya arsitektur Majapahit serta menghidupkan berbagai pergelaran budaya. Tahun ini sejumlah pembangunan kebudayaan bersifat fisik disiapkan, mulai Galeri Soekarno hingga Taman Budaya Majapahit.

Reporter: RIZAL AMRULLOH
Editor: MOHAMMAD TAHANG

SEDERET pergelaran budaya dihelatnya. Mulai Mojotirto Festival, Kirab Budaya Mojobangkit, Mojospekta sekaligus drama kolosal Majapahit, sampai Mojobatik Festival.

Advertisement

Begitu pula kirab budaya yang memperlihatkan kekayaan multikultural kota yang dipimpinnya, Mojokerto. “Karena tidak hanya budaya Jawa, di Kota Mojokerto juga ada budaya Tionghoa dan Arab,” kata Ika Puspitasari, Wali Kota Mojokerto, kepada Jawa Pos Radar Mojokerto (grup Batam Pos).

Berbagai pergelaran budaya tadi menjadi salah satu kunci terpilihnya Ning Ita –sapaan akrabnya– sebagai 1 di antara 10 bupati/wali kota yang dianugerahi Anugerah Kebudayaan PWI Pusat yang diserahkan pada Hari Pers Nasional (HPN), Selasa (9/2) lalu di Jakarta. Dia satu-satunya kepala daerah dari Jawa Timur yang menyabet penghargaan tersebut tahun ini.

Festival dan parade budaya tadi merupakan bagian dari rencana pembangunan jangka menengah daerah (RPJMD) yang disusun di masa kepemimpinannya. Mengingat, salah satu prioritasnya adalah menjadikan Kota Mojokerto menuju kota pariwisata yang berbasis sejarah dan budaya.

Sejak tahun pertama memimpin pada 2019, perwajahan Kota Mojokerto direvitalisasi dengan gaya arsitektur Majapahit. Hampir seluruh bangunan perkantoran Pemko Mojokerto hingga 18 kantor kelurahan sekota bercorak khas Majapahitan.

“Karena itu menjadi salah satu dari uri-uri budaya, khususnya di bidang arsitektur,” beber adik mantan Bupati Mojokerto, Mustofa Kamal Pasha, itu.

Pembangunan sejumlah infrastruktur di sektor pariwisata, pendapa, hingga pasar tradisional juga memasukkan unsur Majapahit. Termasuk memoles Alun-alun Kota Mojokerto yang tahap awalnya mulai disentuh akhir 2020 lalu.

Ikon Kota Mojokerto tersebut bakal dirombak dengan memadukan filosofi dari warisan budaya kerajaaan yang mencapai kejayaan di masa kepemimpinan Raja Hayam Wuruk dan Patih Gajah Mada itu. “Sehingga kita libatkan para budayawan untuk berpartisipasi secara langsung dalam perencanaan pembangunan arsitektur yang berciri khas budaya,” ulasnya.

Di sisi lain, warisan kesenian yang masih eksis di masyarakat juga turut dirawat. Di antaranya, ilmu pahat dan ilmu batik. Pemko memberikan pendampingan serta fasilitas permodalan untuk pengembangan. Di samping itu, menggali filosofi masing-masing ilmu pahat dan ilmu batik. Sehingga dipatenkan menjadi karya seni khas Kota Mojokerto.

Sebelum menggenggam penghargaan Anugerah Kebudayaan PWI Pusat 2021, terdapat rentetan mekanisme yang harus dilalui Ning Ita. Dimulai dari pengajuan proposal yang mencantumkan landasan-landasan dalam membangun kebudayaan di Kota Mojokerto.

Dari 500 proposal yang diterima panitia PWI, Ning Ita berhasil maju menjadi salah satu finalis. “Setelah interview dengan dewan juri, kemudian terpilih untuk mendapatkan Anugerah Kebudayaan PWI Pusat,” terangnya.

Wilayah Kota Mojokerto hanya seluas 20,21 kilometer persegi. Tapi, letak geografis yang dekat dengan Surabaya, 25–30 menit lewat tol, membuatnya berdenyut kencang.

Secara kultural, Mojokerto, kota maupun kabupaten, juga masuk subgenre arek, sama dengan Surabaya. Wilayahnya dialiri Brantas, sungai yang dulu memegang peran penting di era Kerajaan Majapahit yang ibu kotanya diyakini banyak pihak berada di kawasan Trowulan, Kabupaten Mojokerto.

Karena itu, di mata budayawan Putut Nugroho, kemunculan pembangunan arsitektur yang bercorak Majapahit tersebut bisa menjadi langkah awal bagi Pemko Mojokerto untuk kembali mengenalkan warisan leluhur. “Sekaligus menyadarkan masyarakat agar tidak hanya silau dengan budaya luar, tapi justru mengajak untuk kembali ke akar budaya kita sendiri,” katanya kepada Jawa Pos Radar Mojokerto.

Tahun ini sejumlah pembangunan kebudayaan bersifat fisik juga kembali dilanjutkan. Pemko Mojokerto mengalokasikan anggaran sekitar Rp 29 miliar untuk proyek infrastruktur pariwisata dan bangunan bercorak kebudayaan Majapahit.

Meliputi Galeri Soekarno, Skywalk Mojopahit, revitalisasi Pemandian Sekarsari tahap kedua, Taman Budaya Majapahit, serta rehabilitasi lanjutan Alun-alun Kota Mojokerto. Soekarno, presiden pertama Indonesia, memang menghabiskan sebagian masa muda di Kota Onde-Onde itu.

Untuk agenda kebudayaan, tantangan terbesar sudah pasti pandemi. Meski demikian, Ning Ita mengaku tetap memiliki solusi. Salah satunya dengan memaksimalkan pemanfaatan teknologi informasi. Dengan begitu, masyarakat tetap bisa melihat dan berpartisipasi secara daring.

Misalnya, yang dilaksanakan dalam menyambut Tahun Baru Imlek. Meski Kelenteng Hok Sian Kiong yang berada di tengah kota meniadakan agenda tahunan, pemko tetap menyediakan ruang untuk menggelar seni dan budaya Tionghoa. “Namun, seluruhnya dilakukan secara terbatas dan hanya virtual,” ujarnya. (*/abi/c19/ttg)