Covid-19

Vaksinasi 16,3 Juta Pedagang dan Pelayan Publik Selesai Mei

Diawali Wapres, Warga Lebih dari 60 Tahun Mulai Divaksin

Pedagang Blok A Pasar Tanah Abang antre suntik vaksin Rabu (17/2). Total ada 9 ribu pedagang di pasar tersebut yang akan divaksin. (Dery Ridwansah/ JawaPos.com)

batampos.id – Vaksinasi Covid-19 tahap kedua akhirnya dimulai kemarin (17/2). Sasaran perdana adalah para pedagang Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat. Vaksinasi kemarin juga menandai dimulainya penyuntikan vaksin untuk petugas pelayanan publik dan warga lanjut usia (lansia).

Total pedagang Pasar Tanah Abang yang akan divaksin sekitar 9 ribu orang.

Setiap hari akan disuntik 1.500 orang. “Diharapkan, setelah ini dapat dilakukan juga bagi pedagang lain di seluruh Indonesia,” kata Plt Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes Maxi Rein Rondonuwu.

Advertisement

Menkes Budi Gunadi Sadikin menyatakan, vaksinasi di Pasar Tanah Abang merupakan pilot project. ’’Kalau enggak salah, ada 153 pasar di Jabodetabek. Ini akan jadi model di provinsi lain,’’ terangnya.

Vaksinasi tahap kedua itu diperuntukkan kelompok masyarakat yang karena profesinya rentan terpapar Covid-19. Di antaranya, tenaga pendidik, pelaku pariwisata, petugas pelayanan publik, pekerja transportasi publik, atlet, dan wartawan.

Budi menjelaskan, vaksinasi bagi petugas publik dilakukan dengan empat tipe. Pertama, vaksinator datang ke fasilitas kesehatan. Kedua, vaksinator datang ke kantor atau tempat petugas publik bekerja. Ketiga, vaksinator datang ke tempat ramai seperti pasar. Terakhir, membuat satu tempat penyuntikan masal dan orang-orang datang ke tempat tersebut.

Vaksinasi di Pasar Tanah Abang kemarin juga dihadiri Presiden Joko Widodo dan Gubernur Jakarta Anies Baswedan. ’’Kami memulai vaksinasi untuk pelayan publik dan pekerja publik yang di dalam kalkulasi kami ada 16,9 juta,’’ jelas Jokowi. Dia melanjutkan, selain pekerja publik, ada juga 21,5 juta warga lansia yang akan divaksin.

Program vaksinasi Covid-19 untuk kelompok lansia juga dimulai kemarin (17/2). Diawali dengan suntikan vaksin kepada Wakil Presiden (Wapres) Ma’ruf Amin yang kini berusia 77 tahun. Ma’ruf bersyukur vaksinasi berlangsung dengan lancar. Dia mengatakan, tidak ada keluhan setelah divaksin. Tidak ada rasa pusing atau lainnya.

Ma’ruf divaksin setelah keluar ketentuan bahwa vaksin Covid-19 yang digunakan pemerintah aman untuk kelompok lansia. ’’Karena itu, saya ajak semua yang sebangsa saya, usianya cukup lanjut, di atas 70 tahun. Ternyata vaksin ini tidak menimbulkan efek apa-apa,’’ paparnya.

Mantan ketua umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) itu mengatakan, mengikuti vaksinasi adalah fardu kifayah atau wajib. Sebab, menjaga diri dan orang lain dari penyakit atau wabah itu wajib hukumnya. ’’Wajibnya sampai kapan? Sampai nanti tercapai herd immunity. Setelah itu baru gugur kewajibannya,’’ tegasnya. Kecuali bagi orang yang secara medis tak bisa mengikuti vaksinasi, maka hukumnya tidak wajib.

Menkes Budi pun berterima kasih kepada Wapres karena bersedia divaksin. ’’Wapres mengambil inisiatif pertama. Karena tidak cuma melindungi diri kita, tetapi juga keluarga dan tetangga,’’ tuturnya.

Dia melanjutkan, pemerintah terus mengejar target vaksinasi 70 persen dari populasi. Menurut Budi, program vaksinasi memiliki fungsi sosial yang besar. Dia berharap apa yang dilakukan Ma’ruf bisa diikuti kelompok lansia di Indonesia.

Wamenkes Dante Saksono Harbuwono juga berterima kasih kepada Wapres. Dia menuturkan, Ma’ruf memberikan contoh kepada para lansia agar bersedia divaksin. Hingga kini, sekitar 1 juta orang telah divaksin. Pemerintah terus mengejar target 70 persen atau 181 juta orang dalam tempo 12 bulan.

Kepala BNPB Doni Monardo menjelaskan, vaksinasi untuk lansia adalah program strategis. ’’Karena untuk melindungi kelompok rentan,’’ terangnya. Dia berharap keluarga besar kelompok lansia atau kelompok rentan bisa segera divaksin.

Sementara itu, anggota Komisi IX DPR Abidin Fikri optimistis Indonesia dalam waktu dekat bisa memproduksi Vaksin Nusantara. Hal itu dia sampaikan setelah menyaksikan penyerahan hasil uji klinis fase pertama vaksin Covid-19 produksi dalam negeri yang diberi nama Vaksin Nusantara kemarin.

Hasil uji klinis fase pertama secara resmi diserahkan ke BPOM. Kemudian, BPOM akan melakukan evaluasi dan berlanjut ke uji klinis fase kedua. ’’Diperkirakan bisa dilakukan pada akhir Februari 2021,’’ ujarnya.

Wakil rakyat dari dapil Jawa Timur IX itu menerangkan, para peneliti dari RSUP dr Kariadi Semarang yang bekerja sama dengan Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kemenkes memastikan Vaksin Nusantara aman untuk semua golongan. ’’Termasuk warga dengan penyakit penyerta (komorbid) dan anak-anak,’’ ungkapnya.

Vaksin Nusantara menggunakan metode pengambilan sampel darah dari calon penerima vaksin. Sampel itu diletakkan di dalam alat khusus untuk dipertemukan dengan antigen. Selanjutnya, kata Abidin, sampel darah tersebut dibiarkan seminggu untuk menghasilkan antibodi sebelum disuntikkan kembali pada penerima Vaksin Nusantara.

Di sisi lain, Ketua Umum Asosiasi UMKM Indonesia (Akumindo) Ikhsan Ingratubun menilai jumlah sasaran penerima vaksin dari kalangan pedagang pasar yang ditargetkan 1,3 juta sampai Maret masih kurang. Meski demikian, dia mengapresiasi program itu. ’’Ini memang ditunggu-tunggu karena sektor perekonomian yang terdampak besar Covid-19 adalah pedagang pasar atau mikro,’’ terangnya kemarin.

Hanya, jumlah 1,3 juta dirasa Ikhsan terlalu sedikit. Sebab, pelaku UMKM sangat banyak. ’’Ada 63 juta usaha UMKM. Termasuk pedagang pasar dan lain-lain, itu 60 jutaan. Tapi, tidak apa-apa, dimulai dari pedagang pasar dulu,’’ ucapnya.

Dirjen Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (P2P) Kemenkes Maxi Rein Rondonuwu mengatakan, pihaknya telah mengantongi data pedagang dan pelaku UMKM sebagai sasaran vaksin. Data tersebut diperoleh dari berbagai sumber. Salah satunya BPJS Ketenagakerjaan, dengan jumlah sasaran yang terdaftar 4.014.000 orang.

Ikhsan melanjutkan, selain pedagang pasar, ada kalangan yang juga tak kalah berisiko. Yakni, pedagang tradisional di warung maupun toko modern. Mereka juga banyak berinteraksi dengan pembeli. ’’Toko modern seperti Alfamart dan Indomaret kan ada penjaganya, mereka juga harus disasar,’’ paparnya.

Ikhsan berharap hal itu menjadi pertimbangan pemerintah agar menambah jumlah sasaran vaksin. Pelaku UMKM sangat membutuhkannya agar bisa berjualan kembali dan berinteraksi lebih aman dengan pembeli. Diharapkan, pemerintah tidak hanya mengambil data dari BPJS Ketenagakerjaan, tapi juga dari kementerian terkait. Yakni, Kementerian Koperasi dan UMKM.

Dirjen P2P Maxi Rein menyebutkan, sesuai ketersediaan vaksin, sampai Maret baru 1,365 juta pedagang yang akan divaksin. Namun, dia memastikan bahwa sisa pedagang akan mendapat vaksin. ’’Hanya waktunya yang beda. April sudah dapat semua. Ini karena ketersediaan vaksin Februari-Maret itu (baru bisa, Red) kami alokasikan stok 30 persen untuk pedagang pasar,” ungkapnya.

Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Prof Wiku Adisasmito menambahkan, vaksinasi tahap kedua dan ketiga ditargetkan tuntas pada Mei 2021. “Nanti pendataan daftar penerima vaksin merunut data yang dimiliki BPJS Kesehatan, dukcapil, serta hasil koordinasi kementerian dan lembaga terkait,” ujarnya. (*)

Sumber : JP Group
Editor : Jamil Qasim