Feature

Sepakat Damai setelah Setengah Jam Berdialog ’’Ibu dan Anak’’

Kelegaan Hervina, Guru Honorer yang Dipecat lewat WA, Bisa Kembali ke Sekolah

BISA MENGAJAR LAGI: Hervina saat mengikuti rapat dengar pendapat umum di DPRD Bone (16/2). (dokumen fajar)

DPRD Kabupaten Bone turun tangan membantu Hervina yang dipecat suami kepala sekolah setelah mengunggah besaran gajinya.

Reporter: AGUNG PRAMONO, Bone                                                                      Editor:  Jamil, batampos.id

ANDI Syamsiar Halid tiba-tiba mengangkat tangan.

Advertisement

’’Mohon izin pimpinan, saya ingin bicara langsung dengan Hervina selaku ibu dan anak,’’ kata kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Bone itu kepada Ketua DPRD Bone Irwandi Burhan.

Waktu sudah menunjukkan pukul 15.25 Wita pada Selasa lalu (16/2) itu. Rapat dengar pendapat umum (RDPU) yang membahas pemberhentian Hervina sebagai guru honorer di SDN 169 Sadar, Kecamatan Tellu Limpoe, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, belum membuahkan hasil. Diskusi berlangsung alot.

Seperti dilansir Fajar, RDPU itu dipimpin langsung oleh Ketua DPRD Bone Irwandi Burhan. Menghadirkan Dinas Pendidikan Bone, BKPSDM, inspektorat, kepala SDN 169 Sadar beserta suaminya, Jumrang, dan Hervina sendiri.

Irwandi menyetujui permintaan Syamsiar itu. RDPU diskors. Syamsiar dan Hervina pun menuju ruang ketua DPRD.

Sekitar setengah jam berselang, anggota Komisi IV DPRD Bone Rangga Risa Swara keluar ruangan dan berteriak, ’’Damai’’, sembari tersenyum sambil menaikkan alisnya. Muh. Asrullah, anggota komisi IV lainnya, meneriakkan hal serupa. ’’Selesai. Damai,’’ sambung politikus PKB itu.

Kasus Hervina tersebut ramai menjadi sorotan karena dia dipecat melalui WhatsApp (WA) setelah mengunggah gajinya di Facebook pada 6 Januari lalu. Kala itu guru SDN 169 Sadar, Desa Sadar, tersebut menulis di sehelai kertas perincian pembagian gaji yang diperolehnya empat bulan sebesar Rp 700 ribu dan mengunggahnya dengan takarir ’’terima kasih banyak bu aji pak aji dana bosx….’’.

Hanya berselang empat jam, dia dihubungi oleh Jumrang, suami Kepala SDN 169 Sadar Hamsinah. ’’Tolong cari makin sekolah yang bisa naikin gaji banyak. Mohon istirahat saja mulai bulan ini,’’ tulis Jumrang, yang juga memimpin SD yang sama sebelum digantikan istrinya, lewat WA.

Hervina tentu saja kaget. Sebab, yang diunggah di Facebook itu justru bentuk rasa syukur. ’’Saya minta maaf kalau ada salah di posting-anku. Itu saja posting-anku masak langsung diberhentikan. Saya juga heran kenapa suaminya pecat saya. Tidak ada surat. Lewat WA saja,’’ katanya kepada Fajar mengenang peristiwa itu pada Rabu pekan lalu (10/2).

Peristiwa itu mendapat atensi luas. Jakarta pun ikut bereaksi. Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Iwan Syahril mengaku aktif berkomunikasi dan berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan Kabupaten Bone untuk menyelesaikan kasus Hervina.

’’GTK Kemendikbud mendorong semua pihak, termasuk kepala sekolah dan guru honorer yang bersangkutan, untuk bermusyawarah terlebih dahulu,’’ ungkap dia kepada Jawa Pos (grup Batam Pos) yang mengontaknya, Senin lalu (15/2).

Ketua PB Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Unifah Rosyidi juga menganggap pemecatan terhadap Hervina dengan alasan mengunggah gaji tidaklah bijak. Seharusnya pihak sekolah meminta klarifikasi terlebih dahulu terkait dengan posting-an guru tersebut, kemudian diselesaikan bersama.

Meski kemudian ada klarifikasi dari Dinas Pendidikan Bone bahwa pemecatan itu karena sekolah yang bersangkutan mendapat tambahan dua guru PNS, Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) tetap mengecam pemecatan Hervina. Menurut Sekjen FSGI Heru Purnomo, kasus tersebut tetap saja menunjukkan bahwa pelindungan profesi guru honorer sangat lemah. ’’Bahkan, tindakan kepala sekolah yang main pecat melalui WhatsApp (WA) pun dibela oleh dinas pendidikan dengan dalih ada PNS baru,’’ keluhnya.

Sehari sebelum RPDU, Hervina juga mengadu kepada DPRD setempat. Perjuangannya serta sorotan luas dari berbagai pihak itu akhirnya berbuah kesepakatan damai tadi.

Andi Syamsiar Halid pun menawarinya kembali mengabdi. Bahkan dikasih pilihan. ’’Hervina akan dikembalikan untuk mengabdi. Bisa di SDN 169 Sadar sekolah awalnya, bisa juga di SMP,’’ kata adik mantan Ketua Umum PSSI Nurdin Halid itu.

Yang terpenting, lanjut dia, Hervina yang sudah belasan tahun menjadi guru honorer bisa mengabdi di sekolah lagi. ’’Mudah-mudahan ke depan Hervina bisa menjadi pegawai negeri. Itu yang diharapkan,’’ ujarnya.

Syamsiar menambahkan, dirinya juga mendamaikan Hervina dengan Kepala SDN 169 Sadar Hamsinah beserta suaminya, Jumrang. ’’Kita cari solusi terbaik. Yang penting tidak ada yang dirugikan. Guru honorer, kepala sekolah, dan suami kepala sekolah telah damai,’’ ucapnya.

Hervina pun lega. Langkah kakinya terasa ringan. Masalahnya selama ini sudah selesai.

’’Ibu Kadis (kepala dinas) janji mengembalikan ke sekolah. Sementara diurus. Alhamdulillah, saya sangat senang,’’ ucapnya. (*/c19/ttg)