Sport

Dua Pekan Kena Karantina Keras, Tak Mengeluh, No 24 Dunia Tembus Final

Petenis Amerika Serikat Jennifer Brady merayakan kemenangannya atas petenis Republik Ceko Karolina Muchova pada semifinal grand slam Australian Open 2021. (William West/AFP)

batampos.id- Jennifer Brady bukan orang yang mengeluh saat dihadapkan kesulitan. Sebaliknya, dia berusaha mencari solusi serta pendekatan yang pas. Hal itulah yang kemudian membantunya mencapai final grand slam perdananya pada ajang Australian Open 2021.

Testimoni kepada Brady itu disampaikan pelatih Michael Geserer seperti dikutip Reuters hari ini (19/2).

Petenis Amerika Serikat berusia 25 tahun itu adalah salah seorang dari 72 petenis yang harus menghabiskan dua pekan penuh dalam karantina keras sesaat setelah tiba di Melbourne. Selain itu, Brady juga tidak diberi kesempatan berlatih maksimal lima jam per hari seperti yang dinikmati kebanyakan petenis.

Advertisement

Tetapi ketika sejumlah petenis mengeluhkan karantina, petenis nomor 24 dunia itu justru mengakalinya dengan cara lain. Yakni memukulkan bola ke kasur di kamarnya. Dia juga bekerja bersama trainer-nya, Daniel Pohl, untuk menjaga tetap bugar selama dua pekan. Fokus dan tekad hebat seperti itu, akhirnya terbayar lunas.

Dari kontingen yang harus melalui karantina yang keras, 51 di antaranya adalah pemain tunggal. Dan cuma Brady yang berhasil melewati babak ketiga di Australian Open 2021.

Geserer mengatakan bahwa Brady adalah jenis orang yang menerima saja keadaan. Dia tidak mengeluh. Brady memilih memanfaatkan kondisi seburuk apapun dengan cara sebaik mungkin.

“Itu juga yang membuat dia melewati dengan baik masa karantina. Dia menerima semuanya apa adanya. Dia tidak beranggapan hal buruk menimpa dia,” tambah Geserer.

“Ada aturan-aturan dan dia mengikuti aturan-aturan itu. Jika mereka bilang, ‘Jangan tinggalkan ruangan, jangan buka pintu, seperti di karantina’, dia tidak melanggar aturan itu,” tambahnya.

Ketahanan Brady akan menghadapi ujian terakhir Sabtu besok (20/2). Yakni menghadapi bintang asal Jepang Naomi Osaka.

Catatan terbaik Brady di grand slam adalah menembus semifinal US Open 2020. Sementara itu, Osaka sudah mengoleksi tiga grand slam dan semuanya berlangsung di lapangan keras (1 Australian Open dan 2 US Open).

Pada semifinal US Open 2020, Brady memaksa Osaka untuk bermain tiga set. Pada akhirnya, Osaka lolos ke final dan bablas menjadi juara.

“Ini final grand slam pertamanya, tetapi ini pertandingan seperti laga lainnya,” kata Geserer. “Akan ada, seperti dalam pertandingan lain, menegangkan … dia akan merasakan sedikit tekanan. Itu menyehatkan, itu bagus,” tambahnya.

“Dia juga tahu bagaimana menghadapinya. Naomi adalah petenis bagus, tak diragukan lagi.”

“Kami tahu yang dia lakukan di lapangan. Jen tak akan terpana oleh setiap pukulannya. Jen akan meladeni dia dengan cukup baik besok,” tambah Geserer. (*)

Reporter : Jpgroup
Editor : Ryan Agung