Feature

Cerita di Balik Evakuasi Korban Meninggal Pertama Banjir Jakarta

Jenazah Sutarno Ditemukan Mengambang di Atas Kasur

TIDAK SELAMAT: Sutarmo (tengah) semasa hidup. Dia terjebak di rumah saat banjir melanda sehingga tidak mampu diselamatkan.

Rumah Sutarno dua lantai, tapi pria sepuh itu tinggal sendirian dan tengah tidak enak badan. Saat membawa jenazahnya ke masjid, tim evakuasi harus melawan arus dan memakai tali tambang.

Reporter: GITA NAWANGSARI
Editor: MOHAMMAD TAHANG

RUMAH terkunci dari dalam. Penghuni di dalam sendirian, seorang pria sepuh yang terakhir diketahui sedang tidak enak badan. Bahkan, keluarga mengkhawatirkan kondisinya lebih buruk dari itu.

Advertisement

Sementara itu, ketinggian air sudah lebih dari 1 meter. Tak ada pilihan lain: rumah di kawasan Jati Padang, Pasar Minggu, Jakarta, tersebut kudu didobrak. “Kami pakai linggis,” kenang ketua RT 13, RW 06, Jati Padang, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Hidayat, kepada Jawa Pos (grup Batam Pos), Senin (22/2).

Pintu terbuka. Dan, yang menjadi kekhawatiran keluarga itu terbukti.

Pada Sabtu (20/2) lalu sekitar pukul 07.00, jenazah Sutarno ditemukan mengambang di atas kasur. Di lantai 1 rumah dua lantai itu. Sendirian.

Sutarno menjadi korban meninggal pertama banjir bandang Jakarta. Namun sampai pukul 20.00 Senin malam, ada tambahan empat korban meninggal lagi di berbagai penjuru ibu kota.

Diperkirakan, karena usia dan kondisi kesehatan, Sutarno terlambat mengetahui dan menyelamatkan diri ketika air bah mulai masuk ke wilayah rumahnya. “Keponakannya yang terakhir menemani sebelum Pak Sutarno tidur. Beliau menyuruh keponakannya pulang karena memang sudah biasa di rumah sendirian,” tutur Hidayat.

Keponakannya tersebut tinggal di Gunung Sari, Bogor, Jawa Barat. Sutarno seorang duda. Istrinya telah lama berpulang.

Beberapa jam sebelumnya, sekitar pukul 02.00, air mulai masuk ke rumah-rumah di kawasan itu. Hidayat langsung cemas memikirkan evakuasi warganya. Terutama para lansia (lanjut usia), ibu hamil, dan anak-anak.

Tapi, hujan masih deras dan malam gelap betul. RT yang dipimpinnya juga tak punya perahu karet. Sementara itu, air terus masuk ke rumah-rumah dengan ketinggian bervariasi.

Hidayat akhirnya berusaha mengumpulkan sejumlah anggota karang taruna. Melengkapi berbagai kebutuhan, termasuk menyiapkan tempat pengungsian. Evakuasi pertama akhirnya bisa dilakukan pada pukul 03.30. “Itu juga pakai kolam karet untuk anak-anak, bukan perahu karet,” kata Hidayat.

Mereka menyisir dari rumah ke rumah. Rumah Sutarno tentu termasuk yang didatangi. Tapi, ketika pintu diketuk, tidak ada jawaban dari dalam. Karena ada lantai 2, tim evakuasi berkeyakinan setidaknya Sutarno masih bisa menyelamatkan diri di sana.

Baru di pagi hari, tim evakuasi dikabari keluarga Sutarno bahwa kakek yang hidup sendiri itu masih berada di dalam rumah. Sang keponakan bercerita bahwa Sutarno minta kerokan sebelum beranjak tidur. Menandakan dia sedang tidak enak badan.

Tim pun bergerak cepat. Mendatangi, mendobrak, tapi sayang Sutarno telah berpulang. Persoalan tidak berhenti di sana. Membawa jenazah menuju titik pengungsian untuk dimandikan di tengah banjir juga tidak mudah.

“Karena arusnya cukup deras dan menuju pengungsian kami harus melawan arus. Jadi, harus pakai tali tambang,” ucap Hidayat.

Pemulasaran jenazah Sutarno dilakukan Sabtu itu juga. Dia dimandikan dan disalati di masjid yang menjadi tempat pengungsian warga. “Jenazahnya dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum Kampung Kandang,” katanya. (*)