Bintan-Pinang

Dewan Ingatkan Gubernur Kepri Tuntaskan Infrastruktur Air

batampos.id – Legislator Komisi II DPRD Provinsi Kepri, Rudy Chua meminta Gubernur Kepri, Ansar Ahmad memberikan atensi khusus untuk menuntaskan persoalan air di Tanjungpinang dan Bintan. Menurut Rudy ada dua persoalan mendesak yang harus dibereskan.

F. PDAM UNTUK BATAM POS
Pekerja sedang memperbaiki salah satu mesin PDAM yang mengalami kerusakan, beberapa waktu lalu.

“Ketimbang membanguna dua jalan layang, saya pikir gubernur harus membereskan persoalan infrastruktur air. Baik di Tanjungpinang maupun di Bintan,” ujar Rudy Chua, belum lama ini di Tanjungpinang.

Politisi Partai Hanura tersebut menjelaskan, daya mampu sumber air di Pulau Bintan sangat terbatas sampai saat ini. Seperti Waduk Gesek yang disebut-sebut memiliki kapasitas produksi 100 liter per detik. Namun kenyataannya adalah hanya 60-80 liter per detik. Kemudian untuk Sei Pulai jika full speed kapasitasnya 275 liter per detik.

Advertisement

“Kondisi tersebut tergantung pada debit air yang tersedia. Namun jarang dengan kekuatan penuh, karena rata-rata melakukan produksi 220-225 liter per detik. Itu masih dilakukan dengan sistem bergilir, sehingga pelanggan belum bisa menikmati layanan maksimal,” jelasnya.

Pembina Ikatan Muda Tionghoa (ITM) Provinsi Kepri tersebut memaparkan, dari dua sumber air tersebut kapasitasnya sekitar 300 liter per detik. Sementara kebutuhan air untuk Pulau Bintan berdasarkan perhitungan dari Balai Wilayah Sungai (BWS) pada angka 700 liter per detik. Sehingga masih mengalami kekurangan sebesar 400 liter per detik.

“Jawaban jangka pendek untuk masalah ini adalah Waduk Kawal. Namun persoalannya sampai sekarang, pembangunan jaringan pipa dan Instalasi Pengolahan Air juga belum ada. Seharusnya pembangunan dilakukan secara simultan, tidak parsial. Karena diperkirakan 2024 Waduk Kawal baru bisa memberikan manfaat,” jelasnya lagi.

Masih kata Rudi, masalah kedua adalah mengenai peremajaan jaringan yang berada di badan jalan. Karena kerusakan yang terjadi menyebabkan banyak sumber air terbuang. Bukan hanya, itu struktur jalan juga menjadi rusak. Persoalan ini sudah berulang kali dibahas, namun ketika pembahasan anggaran selalu mental.

“Harus ada komitmen tentunya dari gubernur. Karena waiting list terus bertambah. Saat ini jumlah rumah tangga, kantor dan ruko di Tanjungpinang sudah lebih dari 60 ribu,” tutup Rudy Chua.

Direktur Perusda PDAM Tirta Kepri, Mamat mengatakan pihaknya menjajaki peluang kerja sama dengan PT. Adya Tirta Batam (ATB) untuk pengelolaan air di Pulau Bintan (Tanjungpinang-Bintan). Beberapa waktu ke depan, pihak ATB akan turun ke Tanjungpinang untuk melihat situasi dan kondisi di lapangan.
“Memang ada penjajakan kerja sama dengan ATB untuk pengelolaan air di Pulau Bintan. Namun demikian, belum ada pembicaraan lebih lanjut,” ujar Mamat

Menurut Mamat, peningkatan pelayanan adalah salah satu komitmen pihaknya. Selain melakukan beberapa pekerjaan, paska terendamnya mesin pompa di Waduk Sei Gesek, lewat APBD TA 2021 ini, pihaknya akan mendapatkan dukungan dari Pemprov Kepri untuk membuat jaringan baru, pengganti pipa utama yang berada di badan jalan.

“Dari informasi yang kami terima, pada APBD 2021 ini adalah diakomodir untuk pengadaan jaringan pipa dari batu 10 ke batu 6 dengan pagu anggaran kurang lebih Rp17 miliar. Selain itu Pemprov akan mendukung pengadaan dua unit pompa untuk Waduk Sei Pulai,” jelas Mamat.

Disebutkannya, dari 100 persen tingkat produksi air, 38 persen terbuang disebabkan adanya kebocoran pipa. Pihaknya sangat berharap, dengan adanya pengadaan jaringan baru ini, bisa meningkatkan pelayanan kepada masyarakat. Apalagi saat ini ada 7.000 daftar tunggu yang mengharapkan manfaat air bersih.

“Dengan kapasitas yang tersedia sekarang ini, kita memang belum mampu untuk memberikan pelayanan yang maksimal,” jelasnya lagi.

Mantan Kepala Cabang, PDAM Tanjunguban, Bintan tersebut menjelaskan, pipa utama PDAM yang berada di badan jalan membentang sepanjang Km 10 sampai Km 6, Tanjungpinang. Masih kata Mamat, jaringan utama tersebut masih menggunakan pipa lama. Sehingga rentan menyebabkan terjadinya kebocoran. Bahkan bisa dilihat hampir disepanjang ruas jalan dari Km 10 sampai Km 6.

”Kondisi ini tidak bisa dihindari, ketika terjadi kebocoran, maka harus merusak jalan utama. Selain itu tentunya juga mengganggu lalu lalang kenderaan,” tutup Mamat. (*)