Ekonomi & Bisnis

Angkutan Umum Sedikit, Teknologi Digital Bantu Transformasi Masyarakat Jayapura

ILUSTRASI: Beberapa taksi parkir sambil menunggu penumpang di Harbour Bay Batuampar, Batam, Minggu 31 Jan 2021. F Suprizal Tanjung, Batam Pos

batampos.id – Jumlah kendaraan aktif angkutan darat di Kabupaten Jayapura pada tahun 2017 sebanyak 56.039 unit, dan hanya 3 persen yang digunakan untuk angkutan umum. Kasus ini mempersulit aktivitas para warga Jayapura, terutama masyarakat yang tidak memiliki kendaraan pribadi. Padahal, transportasi menjadi kunci utama pergerakan masyarakat yang juga menyokong perputaran ekonomi.

Seiring pertumbuhan ekonomi digital Indonesia yang pesat, kesenjangan teknologi digital di pedesaan dan perkotaan di Indonesia tetap menjadi tantangan yang signifikan.

Menurut survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), kesenjangan digital yang terjadi di kota-kota di Indonesia Barat dan Indonesia Timur cukup besar, padahal jumlah pengguna internet di Indonesia pada kuartal II tahun 2020 sudah mencapai 73,7 persen. dari total penduduk Indonesia.

Advertisement

Ini berubah ketika platform digital Grab hadir di Jayapura pada Oktober 2017, yang menghadirkan pilihan transportasi online seperti GrabCar dan GrabBike yang aman, mudah dan cepat. Tak hanya itu, kehadiran Grab juga mampu membawa dampak positif bagi masyarakat Jayapura karena mampu membuka lapangan pekerjaan dan meningkatkan kualitas hidup mereka.

Hal ini dirasakan langsung oleh Meteda Yikwa (50), penduduk asli Jayapura di Sentani, yang melihat betul transformasi infrastruktur transportasi di Jayapura. Mitra pengemudi online pertama di Jayapura ini mengatakan, sebelum hadirnya transportasi online, banyak masyarakat yang kesulitan untuk bepergian, terutama untuk urusan penting yang mendesak.

“Karena dulu transportasi umum sangat terbatas dan tidak tersedia 24 jam, jadi pasti susah apalagi kalau ada urusan yang mendesak dan mendadak. Harganya juga kadang tidak wajar,” ungkap Meteda.

Ia juga mengakui pekerjaannya sebagai mitra pengemudi GrabBike memberikannya sumber penghasilan tetap. “Saya mendaftar menjadi mitra GrabBike karena saya yakin teknologi akan membawa peluang baru dalam sektor transportasi di Jayapura,” tutur dia.

Keyakinan itu pun membawa Meteda dapat memenuhi kebutuhan harian keluarga. Dari penghasilannya itu, ia telah membeli sepeda motor baru, memenuhi kebutuhan pendidikan anak, dan membantu masyarakat Jayapura untuk beraktivitas dengan mudah. “Dalam sehari, bisa sampai 30 pelanggan yang saya bawa,” paparnya.

Bukan hanya Meteda, pengemudi lain bernama Andreas Juan Rahawarin (35) mengatakan bahwa telah berhasil bangkit di tengah pandemi. Sebelumnya, ia berjualan makanan di kantin sekolah, namun naasnya harus tutup akibat pandemi.

“Hampir putus asa, di tengah pandemi bulan Mei 2020 saya mendaftar menjadi mitra pengemudi GrabBike. Saya pikir saat itu, yang penting ada pemasukan untuk hidup sehari-hari. Dua bulan setelah bergabung, saya bisa membeli motor baru serta bisa mengumpulkan modal untuk istri yang kini memulai bisnis kuliner,” jelas dia.

Ia kini merasa bahwa manfaat teknologi begitu besar dalam kehidupan, selain menjadi mitra pengemudi, keluarganya juga kini bisa menjalankan bisnis kuliner yang sudah terdaftar di GrabFood agar bisa menjangkau pelanggan yang lebih banyak.

“Meskipun di tengah pandemi, kami masih bisa mempertahankan pendapatan dengan memanfaatkan teknologi dari Grab,” tambah Andreas.

Tak berhenti di situ, kehadiran teknologi digital juga membantu memperluas dampak positif bagi ke lebih banyak komunitas di Jayapura, salah satunya kepada Derek Norotouw (32). Dirinya merupakan seorang PNS yang juga mendirikan sebuah panti asuhan milik keluarga bagi yatim piatu dan lansia.

“Penghasilan sebagai mitra pengemudi GrabCar membuat saya bisa mengurus panti asuhan dengan lebih baik. Sebelumnya, kami sangat mengandalkan para donatur yang berkunjung ke panti asuhan kami. Kini, kami lebih bisa mandiri dalam mencukupi kebutuhan harian puluhan anak yatim dan lansia yang kami bina di sini,” papar dia.

Neneng Goenadi, Country Managing Director Grab Indonesia menjelaskan, kehadiran teknologi digital di Jayapura, bukan hanya membantu menciptakan infrastruktur transportasi yang memudahkan warga beraktivitas dengan mudah, tapi juga membuka lapangan pekerjaan dan membawa dampak positif bagi lebih banyak komunitas di luar platform digital.

“Manfaat dari ekonomi digital tidak boleh hanya dirasakan mereka yang tinggal di kota-kota besar, namun juga harus bersifat menyeluruh dan menjangkau pelosok negeri hingga Timur Indonesia, termasuk Jayapura. Kami terus berusaha menghadirkan teknologi yang inklusif, yang menyentuh kehidupan masyarakat dari Sabang hingga Merauke, sejalan dengan misi GrabForGood kami,,” terangnya.

BACA JUGA: Pemeliharaan Jalan Nontol Bisa dengan Pembiayaan Syariah

“Selain itu, kami juga membantu akses kepada layanan finansial melalui GrabKios dan juga pengantaran makanan dan logistik melalui GrabFood dan GrabExpress,” sambung Neneng.

Wali Kota Jayapura, Benhur Tomi Mano, mengakui pentingnya digitalisasi yang dibawa oleh platform digital seperti Grab. Dia percaya bahwa digitalisasi dapat mempercepat pemulihan ekonomi.

“Kesiapan secara digital akan menjadi lebih penting dalam era new normal. Grab dapat membantu bisnis beradaptasi dengan beralih secara online menuju layanan seperti GrabFood dan GrabKios. Pada akhirnya, meskipun masih ada banyak ketidakpastian ekonomi di waktu yang akan datang, kami percaya teknologi akan memainkan peran penting dalam membantu mempertahankan mata pencaharian,” pungkas dia. (*)

Reporter: JP Group
Editor: Suprizal Tanjung