Kepri

Pemkab Natuna Intensifkan Kembangkan Budidaya Ikan Air Tawar

Wakil Bupati Natuna, Ngesti Yuni Suprapti (f.sholeh/batampos.id)

batampos.id– Pemerintah Kabupaten Natuna saat ini fokus melakukan kegiatan pengembangan potensi ikan air tawar melalui kegiatan budidaya masyarakat. Kegiatan ini difokuskan sejak 2018 lalu.

Wakil Bupati Natuna, Ngesti Yuni Suprapti mengatakan, potensi daratan Natuna masih cukup potensial untuk dikembangkan sebagai sumber pendapatan masyarakat baik potensi yang berupa tetumbuhan maupun berbagai varitas makhluk hidup lainnya, tak terkecuali varitas ikan air tawar.

Dikatakannya, pontensi ikan tawar di Natuna masih bisa diandalkan karena habitatnya masih terjaga. Demikian juga dengan jumlah dan jenisnya masih bisa diandalkan.

Advertisementjudul gambar

“Kita memang kecewa dengan adanya penarikan kewenangan daerah pada pengelolaan wilayah laut, sehingga kita tidak bisa mengelola potensi perikanan yang di laut. Tapi kita tak perlu berkecil hati, kita masih punya ikan di darat yang masih sangat memungkinkan untuk dikembangkan,” tegasnya.

BACA JUGA: 2022, Bendungan Sebayar di Natuna akan Dibangun

Dengan demikian ia mendorong dan menhapresisi seluruh upaya yang telah dilakukan oleh jajarannya terutama sekali Dinas Perikanan yang menjadi ujung tombak pengembangan perikanan ikan air tawar bersama dengan masyarakat.

“Maka meskipun ini susah dibuat, tapi kami terutama sekali Dinas Perikanan tetap melaksanakannya demi kesejahteraan masyarakat dan demi berjalannya aturan yang sudah diterapkan oleh pemerintah. Di atas semuanya itu kami mengapresiasi kerja keras Dinas Perikanan sehingga kegiatan ini bisa berjalan,” ucap Wabup Ngesti.

Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Natuna, Zakimin menjelaskan fokus ini dilaksanakan karena berdasarkan Undang-undang nomo 23 tahun 2014 tentang pemerintah daerah dan Permendagri nomor 90 tahun 2019 tentang klasifikasi kodefikasi dan nomenklatur perencanaan pembangunan dan anggran daerah.

Kedua aturan ini sebutanya membuat Natuna atau daerah tidak memiliki kewenangan apapun dalam hal pengembangan dan pemanfaatan sumberdaya laut di laut. Berdasarkan aturan itu pula, daerah hanya berwenang mengelola wilayah perairan yang berupa muara, aliran sungai, bendungan dan genangan air lainnya.

“Maka setelah kewenangan daerah betul-betul dikunci dengan Permendagri nomor 90 itu, fokus kita hanya di budidaya terutama sekali budidaya ikan air tawar. Kurang lebih sudah dua tahun kami fokus ke situ,” jelas zakimin.

Menurutnya, kegiatan pengembangan budidaya ikan tawar di Natuna bukan pekerjaan yang mudah. Sebab berbicara ikan air tawar di Natuna merupakan hal yang baru bagi masyarakat dan berbeda jauh dari kultur masyarakat yang terjadi sehari-hari dan berlangsung secara turun temurun sejak dahulu kala.

BACA JUGA: Natuna Atasi Abrasi dengan Tanaman Bakau

Maka dari itu, langkah pertama yang dilakukannya adalah pembinaan dan sosialisasi terhadap masyarakat sehingga ikan air tawar bisa menjadi bagian dari peminatan masyarakat. “Kebetulam regulasi dan aturan untuk budidaya ini juga sudah kami siapkan. Itu juga turut kami sosialisasikan sedari awal hingga sekarang,” ujarnya.

Sasaran sosialisasi dan pembinaan yang utama adalah Rumah Tangga Produksi (RTP) karena mereka yang sudah jelas memiliki minat untuk melakukan budidaya perikanan air tawar. “Nah, syukurnya diawal-awal itu kita menemukan RTP, itu yang kita dorong untuk mengembangkan usahanya dan agar mereka mau membuat kelompok budidaya,” ujarnya.

Alhasil, dari upaya yang panjang dan melelahkan itu, belakangan ini mulai terbentuk beberapa kelompok budidaya yang tersebar di lima kecamatan yaitu Kecamatan Bunguran Utara, Bunguran Batubi, Bunguran Tengah, Bunguran Timur dan Bunguran Timur Laut.

“Alhamdulillah sekarang sudah ada enam belas kelompok budidaya yang sudah dikukuhkan dengan rincian, 5 kelompok berada di Bunguran Timur, 5 kelompok di Bunguran Timur laut, 3 kelompok di Bunguran Batubi, 1 kelompok di Bunguran Utara dan 2 kelompok di Bunguran Tengah,” terangnya.

Terhadap kelompok-kelompok itu pemerintah menyediakan delapan orang tenaga penyuluh pembantu yang secara rutin melakukan monitoring, pendampingan dan pembinaan terhadap pembudidaya.

Selain itu pemerintah juga menyediakan beberapa jenis bantuan seperti bantuan benih ikan yang sudah disiapkan di Balai Benih Ikan (BBI) Natuna yang dulu berfungsi sebagai Balai Benih Ikan Pantai (BBIP).

“Maka seluruh RTP yang ada kita dorong untuk membuat kelompok agar mereka juga bisa dapat bantuan-bantuan seperti ini karena bantuan hanya bisa disalurkan kepada kelompok budidaya, bukan perorangan,” jelasnya.

BACA JUGA: Gas Elpiji Kosong di Natuna, Pemkab Manfaatkan Tol Laut Angkut Gas dari Pontianak

Dikatakannya, ada beberapa varitas ikan air tawar yang dibudidayakan oleh masyarakat seperti ikan lela, bawal air tawar dan ikan nila. Begitu juga dengan model budidaya, mereka ada yang berbudidaya pembenihan dan ada juga yang berbudidaya pembesaran, “Tapi itu dia, sampai sejauh ini jumlah produksi ataupun hasilnya belum terdata di kami, karena ini masih baru juga,” ucap Zakimin.

Kelompok budidaya ikan air tawar memiliki tiga jenis sesuai dengan klasifikasi instansi yang mengukuhkannya. Kelompok budidya ikan yang dikukuhkan oleh desa disebut kelompok pemula, kelompok yang dikukuhkan oleh kecamatan disebut kelompok madya dan kelompok yang dikukuhkan oleh Dinas Perikanan disebut Kelompok Utama.

“Semua kelompok berpeluang menjadi kelompok utama berdasar rekomendasi berjenjang mulai desa dan kecamatan,” paparnya. Sementara itu Berdasarkan Kepmen KP nomor 12 Tahun 2014 tentang Pedoman Umum (Pedum) penumbuhan dan pengembangan kelembagaan pelaku utama perikanan telah diatur bahwa jumlah anggota kelompok budidya sebanyak 10 orang.

Terakhir, Zakimin mengaku masih terdapat tantangan lain bagi kegiatan budidaya ikan air tawar ini di Natuna. Tantangan itu berupa ketersediaan pasar yang belum maksimal sehingga dikhawatirkan bakal terjadi jumlah produksi lebih tinggi ketimbang jumlah permintaan di masa depan.

Menurutnya kekhawatiran ini sangat mungkin terjadi di Natuna karena faktor penduduk yang belum banyak dan kebutuhan pasar yang masih sedikit serta faktor minat masyarakat terhadap air tawar yang masih sangat rendah.

“Maka ke depan kami akan berkoordinasi dengan Dinas Perindag agar ada asosiasi pedagang ikan air tawar di Natuna sehingga pluktuasi pasar bisa distabilkan. Tapi kami masih fokus dulu di pengembangannya, kalau bisa di seluruh kecamatan ada kelompok budidaya. Itu harapan kami,” pungkasnya. (*)

Reporter: Sholeh Ariyanto
editor: tunggul