Home

Tentang Kecelakaan Kerja yang Tewaskan Pekerja di Galangan Kapal, Pengawas Ketenagakerjaan Sebut Ada Kelalaian

batampops.id – Pengawas Ketenagakerjaan Provinsi Kepri wilayah kerja Kota Batam telah menginvestigasi kecelakaan kerja di galangan kapal PT ASL Shipyard, Tanjunguncang, yang menewaskan salah satu pekerjanya, Patrick Natanael Sitompul, Selasa (16/3/2021).

Kepala Pengawas Ketenagakerjaan Provinsi Kepri wilayah kerja Kota Batam, Sudianto, mengaku, pihaknya menurunkan pengawas untuk menyelidiki penyebab kecelakaan kerja itu. Hasilnya, ada kelalaian dari pekerja yang jadi korban tersebut.

”Sudah cek semalam (Selasa 16/3/2021). Ada kelalaian dari pekerja,” ujarnya, Rabu (17/3/2021).

Advertisement

Sementara bila melihat kelalaian dari aspek keselamatan dan kesehatan kerja (K3), tidak ditemukan. Pasalnya, saat ditemukan, semua perangkat safety atau keselamatan, sudah dipakai korban saat kejadian.

”Itu ketinggian 25 meter, kalau tidak ada K3, tidak akan dibolehkan naik,” bebernya.

Terkait kecelakaan kerja ini, pihaknya juga mengimbau kepada seluruh perusahaan untuk tetap mengutamakan aspek K3 bagi pekerja. Selain itu, pekerja juga harus taat dan patuh terhadap Standar Operasional Prosedur (SOP) yang telah dibuat.

”Tidak boleh abai terhadap alat atau perlengkapan yang dipakai, baik helm, tali, kacamata, masker dan sebagainya harus dipakai semua,” sebut Sudianto.

Mengenai K3 ini, pihaknya juga mengklaim terus menyosialisasikan kepada seluruh perusahaan dan pekerja akan pentingnya aspek K3 di dalam bekerja.

”Kita terus memberikan penyuluhan, karena ini sangat penting bagi keselamatan,” tutupnya.

Sementara itu, tangis haru mewarnai rumah duka Patrick Natanael Sitompul menjelang dimakamkan di TPU Seitemiang, Rabu (17/3) siang. Pantauan di rumah korban di Perumahan Zupiter Blok B3, Tanjungriau, sejumlah pelayat terus berdatangan dan mengungkapkan belasungkawa.

”Siang ini (kemarin) mau dimakamkan, masih menunggu keluarganya dari Medan. Katanya udah mau sampai, sudah di bandara,” ujar seorang keluarga Patrick.

Tidak jauh dari jenazah Patrick, sang ibu juga terlihat lunglai, ia terlihat meratapi jenazah anaknya. Sang ibu menyebutkan, Patrick merupakan anak laki-laki satu-satunya.

Sebelumnya, korban tewas setelah terjatuh dari ketinggian 25 meter dalam insiden kecelakaan kerja di PT ASL Shipyard di Tanjunguncang, Selasa (16/3) sekitar pukul 10.30 WIB. Waktu kejadian, Petrik Natanael Sitompul berada di atas dek Kapal Lady Vik untuk pengerjaan cleaning. Setelah pengerjaan cleaning selesai, Petrik naik ke atas dek kapal dan membuka tali ikatan kabel panel.

BACA JUGA: Jatuh dari Atas Kapal, Seorang Pekerja Tewas di Galangan PT ASL, Tanjunguncang

Nahas, tali ikatan panel tersebut melorot ke luar kapal dan menyeret tubuh korban yang menyebabkan Petrik jatuh ke dok kapal yang tingginya kurang lebih 25 meter.

Tak Sesuai Aturan Perusahaan

Manajemen PT ASL akhirnya angkat bicara terkait kecelakaan kerja yang menewaskan Patrick Natanael Sitompul, pekerja dari perusahaan Subcon PT Elang Jaya di lokasi galangan kapal mereka di Tanjunguncang, Selasa (16/3/2021) lalu.

Anggota DPRD Batam berdialog dengan manajemen PT ASL.
foto: Dalil Harahap / Batam Pos

Di hadapan rombongan dari Komisi IV DPRD Kota Batam, Manajer Safety PT ASL, Yosef, mengakui ada ketidaksesuaian antara aturan kerja dengan pekerjaan yang dilakukan korban. Sehingga, terjadi kecelakaan tersebut.

Berdasarkan informasi yang dikumpulkan pihak perusahaan dari saksi ataupun perusahaan subcon yang bersangkutan, Yosef menjelaskan, tewasnya korban di lokasi kerja ini karena berusaha melepaskan tali kabel panel seberat satu ton dari atas dok kapal.

Padahal, sesuai turan yang seharusnya, pekerjaan tersebut dilakukan dengan alat berat crane dan diperintah oleh pihak pengawas. Namun, kenyataannya korban melakukan sendiri tanpa menerima perintah yang pasti dari pengawas atau safety dari perusahaannya.

”Memang ada ketidaksesuaian antara aturan kerja dan pelaksanaan di sini. Itu seharunya pakai crane, tapi karena crane lagi ada kerjaan lain, korban berinisiatif sendiri untuk melepaskan dan terjadilah kejadian itu,” ujar Yosef.

Dengan adanya kejadian tersebut, manajemen PT ASL berencana akan kembali mengingatkan kembali pentingnya keselamatan kerja kepada perusahaan-perusahaan yang jadi subcon di dalamnya.

”Kalau di sini, pengawasan kerja di lapangan yang bertanggung jawab atas safety subcon-nya. Safety kami (PT ASL) secara menyeluruh, yang awasi secara detail subcon sendiri,” ujar Yosef.

Tingkatkan Keselamatan Kerja

Anggota Komisi IV DPRD Kota Batam, Mochamad Mustofa, mengatakan, inspeksi mendadak ke PT ASL tersebut untuk melihat sisi penerapan K3 di perusahaan tersebut, apakah telah sesuai dengan prosedur yang berlaku atau belum.

”Karena penerapan K3 ini akan mengetahui, ada atau tidaknya human error sehingga terjadi kecelakaan kerja itu,” kata Mustofa.
Ia melanjutkan, seharusnya target setiap perusahaan adalah zero accident atau nol kasus kecelakaan. Namun, untuk PT ASL sendiri, kerap terjadi kecelakaan kerja. Data terakhir, terjadi kecelakaan kerja delapan bulan yang lalu.

”Maka nanti kami akan minta pengawasan dari Disnaker yang lagi bekerja sekarang, untuk menentukan poin mana human error-nya. Hingga kecelakaan kerja itu terjadi,” katanya.

Dari hasil sidak Komisi IV DPRD Kota Batam, Mustofa menyimpulkan kurangnya komunikasi atas kejadian ini. Dimana, pihak fafety dari PT ASL menyampaikan, awalnya korban naik ke atas kapal dan membuka tali ikatan kabel, kemudian kabel tersebut menyeret tubuh korban hingga membuat korban terjatuh.

Di sekitar tempat korban bekerja, saat itu hanya ada reager atau operator crane bersama dengan korban. Sementara beban yang diangkut cukup berat.

”Untuk talinya saja beratnya sampai 1 ton. Saya tanya, apakah ada perintah kerja itu, ternyata tak ada. Kan lucu, dia melepas tali yang beratnya 1 ton tapi tidak ada perintah melepas tali itu. Kenapa anak ini bisa naik ke atas dan melepas tali, ini juga yang menjadi perhatian kami,” ujarnya. (*)

 

 

Reporter : Rengga Yuliandra,
EUSEBIUS SARA. EGGI IDRIANSYAH
Editor : RATNA IRTATIK