Opini

Refleksi Hari Perawat, Dedikasi dan Profesionalisme tanpa Batas

Batampos.id – Setahun sudah pandemi Covid-19 melanda negeri ini. Indonesia menjadi  tidak sehat , namun tetap memiliki tenaga kesehatan sebagai pahlawan yang siap berperang melawan Covid-19. Menjadi garda terdepan dalam penanganan pasien positif Covid-19 meski menjadikan tenaga kesehatan sebagai kelompok yang paling rentan tertular.

Perawat sebagai the frontline berkiprah dengan ikhlas sebagai pejuang kemanusiaan dengan mengabaikan risiko tertular yang sangat tinggi. Mereka bekerja dengan semangat tetap sehat, tangguh, saling menjaga, menahan diri, dan menguatkan satu sama lain sebagai dedikasi profesi.

Sejak kemunculannya di Indonesia pada Maret 2020, hingga kini Covid-19 masih menunjukkan angka kasus yang tinggi. Per 9 Maret 2021, yang terkonfirmasi positif menyentuh angka 1,3 juta dengan kematian sebanyak 36.325 kasus. Di dalamnya juga terdapat para tenaga kesehatan atau perawat. Yang terkonfirmasi positif sebanyak 5.484 dan yang meninggal dunia 272.

Advertisement

Kasus jumlah perawat meninggal paling tinggi terjadi di Jawa Timur. Yaitu, 105 dari 3.088 perawat yang terkonfirmasi positif. Kalau lebih diperinci, angka tertinggi kematian perawat di Jawa Timur ada di Kota Surabaya. Jumlahnya 19 orang. Disusul Kabupaten Sumenep, Sidoarjo, dan Tulungagung.

Santunan pun diberikan kepada perawat yang gugur akibat Covid-19 sesuai dengan yang dijanjikan sebelumnya. Hingga kini, santunan telah diberikan kepada 105 perawat dari DPW PPNI, 103 perawat dari DPP PPNI, dan 19 dari Kementerian Kesehatan. Namun, belum semua santunan diberikan, terutama dari Kemenkes. Hal itu perlu menjadi perhatian karena santunan diberikan sebagai bentuk apresiasi dari perjuangan kemanusiaan perawat dalam menghadapi pandemi Covid-19.

Perawat sebagai tenaga kesehatan memberikan pelayanan secara profesional yang merupakan bagian integral pelayanan berbasis ilmu dan kiat keperawatan.

Pelayanan itu berbentuk bio-psiko-sosio-spiritual komprehensif yang ditujukan bagi individu, keluarga, kelompok, dan masyarakat, baik sehat maupun sakit, yang mencakup keseluruhan proses kehidupan manusia.

Prinsip ini harus dipegang teguh perawat dalam memberikan asuhan keperawatan pasien yang sedang membutuhkan. Perawat harus memberikan perjuangannya selama 24 jam untuk mengupayakan kesehatan pasien, mengembalikan kondisi sakit menjadi sembuh, dan mencegah kondisi sehat menjadi kondisi sakit. Semua dilakukan perawat dengan sepenuh hati dan terapeutik.

Perjuangan perawat yang seperti itu dalam melawan pandemi Covid-19 berlangsung sejak kasus konfirmasi pertama. Dan itu akan terus berlangsung hingga pandemi berakhir. Karena itu, perawat merupakan salah satu garda terdepan yang tidak boleh menolak mundur untuk memberikan pelayanan kemanusiaan. Patut sekali jika tenaga keperawatan dianggap berjasa sebagai pasukan frontline penyelamatan pasien kasus Covid-19.

Hambatan dan rintangan yang mereka hadapi selama bekerja secara profesional tidak boleh membuat perawat mundur. Bahkan tidak sedikit di antara mereka yang mengorbankan jiwa dan raga untuk panggilan kemanusiaan. Meski demikian, terkadang muncul berbagai respons yang kurang kooperatif atas jerih payah perawat. Yang seperti itu tentu membuat mereka bersedih.

Pengorbanan semacam itu adalah dedikasi profesional perawat sebagai pengamalan sumpah profesi yang telah diemban saat pelantikan. Tidak peduli risiko tertular dan nyawa yang kapan saja bisa melayang, perawat tetap menjadi pejuang terdepan dan pantang mundur meskipun seluruh dunia menyerah.

Selama bertugas menangani pasien Covid-19, perawat memang memiliki risiko tertular lebih tinggi. Risiko itu bisa semakin meningkat karena beberapa hal. Di antaranya, penggunaan alat pelindung diri (APD) yang tidak sesuai standar dengan alasan kekurangan dan keterbatasan. Hal ini berpeluang terjadi di daerah-daerah terpencil.

Frekuensi terpapar juga lebih tinggi jika dibandingkan dengan tenaga kesehatan lainnya. Sebab, mereka menangani pasien Covid-19 hampir 10 jam setiap hari. Jika perawat memiliki komorbid, hal itu bisa meningkatkan risiko keparahan saat terpapar Covid-19.
Pasien yang tidak jujur juga bisa menjadi penyebab perawat tertular virus yang dibawa pasien. Demikian juga jika ada klaster keluarga yang tidak patuh menjalankan protokol kesehatan. Terakhir, stigma sosial tentang Covid-19 dan dampak psikologisnya bisa membuat kondisi perawat memburuk.

Kunci utama yang harus dipegang perawat adalah selalu menjaga imunitas agar tidak mudah tertular. Sebab, dalam kondisi pandemi seperti ini, keberadaan mereka sangat dibutuhkan.

Semakin banyak tenaga kesehatan yang sakit, yang bisa merawat pasien semakin sedikit.

Hal yang tak kalah penting diperhatikan adalah kesejahteraan tenaga kesehatan. Sudah selayaknya mereka mendapatkan reward yang sebanding dengan pengorbanannya. Jangan ada pemberhentian kerja atau mengurangi hak-hak tenaga keperawatan. Agar mereka mantap berdedikasi dan mengamalkan sumpah profesi yang telah dilakukan.

Di luar itu, pemberlakuan new normal saat ini sudah harus disertai dengan upaya yang lebih menyeluruh. Di antaranya, melakukan pencegahan penularan dan pemeriksaan kesehatan massal secara berkala. Membangun sistem terpusat yang mencatat kasus sehingga bisa dilakukan tracing dan tindak lanjut yang cepat. Memastikan bahwa masyarakat pada risiko tinggi terlindungi dengan baik dan menekankan keselamatan individu.

Kita juga perlu memiliki sistem pengontrolan angka persebaran Covid-19, terutama pada klaster yang tinggi. Lalu, pengendalian terhadap bahaya imported case sehingga tidak menambah persebaran kasus di dalam negeri. Terakhir, mendorong pemberdayaan masyarakat untuk berperan aktif bersama dalam menanggulangi persebaran Covid-19. (*)

Oleh: Nursalam
Guru Besar Keperawatan Unair,
Ketua PPNI dan Asosiasi Pendidikan Ners Indonesia Provinsi Jawa Timur