Zetizen

Laetania Belai – To Lead by Example

SAPE: Alat musik tradisional yang diajarkan oleh Wat Bajae di Rumah Betang ditemani Yessy (kiri) dan Teguh,
dua pemuda dari Sungai Utik yang juga seorang penari tradisional. FOTO: LAETANIA BELAI FOR ZETIZEN

Batampos.id – Gadis keturunan Dayak Ngaju dan Dayak Ma’anyan ini mengaku punya hubungan sangat erat dengan alam. Sejak bergabung dengan The Climate Reality Project, Laetania Belai aktif melakukan kegiatan seperti konferensi pemuda, webinar, serta diskusi publik yang membahas tentang lingkungan. Bahkan, aksi nyata bersama masyarakat adat Dayak Iban dari Sungai Utik, Kalimantan Barat, pun dilakoninya.

”Sejak kecil aku banyak belajar dari ibu yang bekerja di sektor alam. Awalnya aku cuma ikut berkunjung ke pedalaman hutan dan taman-taman kota. Eh, tergerak untuk terjun langsung memperjuangkan krisis iklim, sumber kehidupan kita sebagai manusia. Apalagi, sebagai orang Dayak, melindungi alam dan budaya adalah dua hal penting,’’ jelas cewek yang disapa Belai tersebut.

SUSUR SUNGAI: Belai menaiki perahu kecil yang disebut ketinting untuk pergi ke hulu Sungai Utik dan bermalam di hutan pada kunjungan pertama untuk bertemu langsung dengan masyarakat adat Dayak Iban.
FOTO: LAETANIA BELAI FOR ZETIZEN

Setelah itu, Belai berkesempatan untuk bertemu masyarakat adat Dayak Iban yang tinggal di pedalaman hutan Kalimantan Barat yang dikenal sebagai forest guardian community. Sebab, mereka turun-temurun berkomitmen menjaga tanah dan hutan sebagai sumber kehidupan. Setelah bertemu orang-orang tersebut, pemahaman Belai tentang pentingnya melestarikan alam dan budaya sebagai perlindungan kehidupan manusia pun semakin kuat.

Advertisement
SPEAK UP: Sebagai salah seorang panelis di panggung Indonesian Pavilion, Belai hadir menyuarakan isu lingkungan dan hak masyarakat adat dalam Konferensi Perubahan Iklim PBB ke-25 yang diselenggarakan UNFCCC pada 2019.

”Masyarakat Dayak kayak punya ketergantungan terhadap dua hal itu. Artinya, mereka juga punya peran penting untuk memperjuangkan krisis iklim dengan menyatukan pelestarian alam dan lingkungan sosialnya. Nah, tugasku adalah memastikan suara mereka didengar dan memperjuangkan hak mereka seperti pelayanan kesehatan dan pendidikan layak,’’ lanjutnya.

Meski nggak mudah, Belai pantang menyerah kok! Menurut dia, kesulitan datang dari sesuatu yang di luar kendalinya. Misalnya, belum ada upaya untuk menomorsatukan iklim di atas krisis lingkungan lain. Padahal, itu kan nggak kalah penting! Belai juga menyayangkan orang-orang yang nggak mau ikut membuat perubahan.

”Teman dan keluargaku sendiri masih banyak yang nggak sadar akan pentingnya menjaga lingkungan dengan mengurangi sampah plastik. Itulah yang bikin aku patah semangat. Sebab, kalau orang terdekatku aja nggak mau diajak berubah, bagaimana orang lain? Mau nggak mau tetap harus menerima. Yang penting aku harus konsisten mengedukasi dan lead by example,’’ kata cewek asal Bogor itu.

Sejak memutuskan untuk pindah dari Universitas Diponegoro ke University of Sheffield di Inggris, Belai berkomitmen untuk terus membicarakan topik perubahan iklim hingga menjadi contoh gaya hidup ramah lingkungan. Pada saat yang sama Belai jadi dikenal teman-teman barunya sebagai environment activist.

VIRTUAL MEETING: Belai berkontribusi untuk masyarakat
Sungai Utik melalui online english class yang diikuti pemuda dan pelajar di sana.

”Sebelum kembali ke Bogor, teman-temanku memberikan hadiah perpisahan. Yang paling aku ingat adalah boneka beruang kecil yang dijahit dari kain perca sebagai bentuk environment friendly dan zero waste karena dia tahu aku penggiat lingkungan,’’ kenang cewek yang pernah tergabung dalam COP25, konferensi tahunan untuk membahas tentang isu perubahan iklim yang diselenggarakan UNFCCC itu. ”It feels so good to be surrounded by equally committed people because you know you are not fighting alone,’’ tutupnya. (sak/c12/rat)

Gaya Hidup Zero Waste Kekinian
Gayahidup zero waste ngetren di Indonesia sejak beberapa tahun lalu. Namun, masih banyak yang salah mengartikannya karena hanya fokus pada gaya hidup bebas sampah. Meski mengandung kata ”zero” yang berarti nol, nggak berarti gaya hidup ini nggak menghasilkan sampah sama sekali. Nih, beberapa cara yang bisa kamu lakukan! (sak/c12/rat)

Bukan hanya sampah plastik, sampah makanan juga jadi salah satu fokus gaya hidup zero waste. Dengan melakukan konsep zero waste food, berarti kamu akan mengolah dan memanfaatkan kembali limbah-limbah sisa makanan. Misalnya, menjadikan pupuk kompos dan menanam kembali bahan-bahan makanan yang nyaris layu.

6R adalah kependekan dari rethink, refuse, reuse, reduce, rot, dan recycle. Berarti kita harus memikirkan kembali dan menolak apa yang nggak benar-benar dibutuhkan, menggunakan kembali barang yang masih bisa dipakai, bijak menggunakan energi, serta memilah dan mendaur ulang sampah. Gaya hidup ini juga membantumu lebih hemat.

Yap, dengan belajar memasak artinya kamu sudah nggak perlu lagi membeli makanan dari luar. Selain mengasah skill, memasak membuatmu terbiasa untuk nggak meng­gunakan sampah plastik secara berlebihan akibat memesan makanan. Nggak hanya melakukan gaya hidup zero waste, dengan belajar memasak kamu jadi bisa menciptakan peluang berbisnis lho!

ZETS OF THE DAY

“Gaya Hidup Zero Waste”

Reporter: DIELLA MARFIKA TAMA
Editor: AGNES DHAMAYANTI

GAYA Hidup Zero Waste adalah gaya hidup bebas sampah. Tetapi bukan berarti gaya hidup ini tidak menghasilkan sampah sama sekali. Nah ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk memiliki kebiasaan itu, caranya yaitu zero waste food, lakukan 6R (rethink, reuse, refuse, reduce, rot, recycle) dan memasak. Di antara 3 cara ini, manakah yang lebih sering teman millenial kita terapkan? Yuk kita simak jawabannya! (*)

F. DOK. PRIBADI

MUHAMMAD IKHLAS HABIBI
@ikhlas.bii
Politeknik Negeri Batam

Saya lebih sering menerapkan salah satu dari 6R.

Seperti reduce yang contohnya dengan memakai kotak bekal Tupperware untuk membawa bekal ke kampus, menggunakan sedotan stainless steel yang hanya tinggal dicuci jika selesai digunakan untuk minum.

Dengan penerapan 6R ini kita bisa mengurangi populasi sampah di lingkungan sekitar kita.

F. DOK. PRIBADI

AGNES TIARANADYA P.
@agnestiaranadya
Politeknik Negeri Batam

Saya lebih sering menerapkan zero waste food. Melalui sisa-sisa atau limbah makanan itu bisa diolah menjadi pupuk kompos untuk tanamantanaman di rumah saya.

Lalu saya juga melakukan ’Keep Track on Your Food’, dimana lebih memperhatikan ataupun mengetahui kapan makanan yang kita miliki kadarluarsa ataupun tidak layak dikonsumsi sehingga dapat mengurangi sampah yang ada.