Feature

Kalau di Bali Saja Bisa Hidup, Kenapa Main di Klub Lain?

Mengikuti Jejak Ayah di Lapangan Hijau (4)

I Made Pasek Wijaya (kiri) dan I Made Andhika Wijaya merayakan gelar Liga 1 Bali United pada 2019. (Dokumentasi BALI EXPRESS/JPG)

Seberat apa pun latihan di klub, I Made Andhika Wijaya selalu menyempatkan waktu untuk berlatih berdua bersama sang ayah, I Made Pasek Wijaya, di pantai. Pasek pula yang meminta anaknya menjauhi foya-foya, pintar mengatur uang, dan tak buru-buru meninggalkan Bali.

Reporter: FARID S. MAULANA
Editor: YUSUF HIDAYAT

SEBERAT apa pun materi latihan yang harus dilahapnya di Bali United, I Made Andhika Wijaya tak akan pernah meninggalkan ritual yang telah bertahun-tahun dijalaninya. Pergi ke pantai dan kembali berlatih, tetapi kali ini bersama sang ayah, I Made Pasek Wijaya. Berdua saja.

Advertisement

”Tapi, tidak sekeras dulu. Karena sekarang Teco (sapaan Stefano Cugurra, pelatih Bali United, red) sudah sangat bagus melatih Otong (panggilan Andhika Wijaya) di Bali United,” kata Pasek yang berada di Denpasar ketika dihubungi Jawa Pos (grup Batam Pos) dari Surabaya pada Sabtu (13/3) lalu.

Pasek yang melejit bersama Pelita Jaya semasa bermain merasa berlatih di pantai adalah cara terbaik menggenjot stamina sang anak. Sebab, Pasek sendiri yang menyarankan Otong memilih bermain di bek kanan ketimbang di posisi sebelumnya sebagai striker atau winger. Padahal, Pasek dulu beroperasi sebagai sayap kanan yang jago dribbling dan punya kecepatan lari tinggi. Itu yang membuatnya dijuluki Kijang. Tandemnya dengan Alexander Saununu yang bermain sebagai sayap kiri membuat daya dobrak lini depan Pelita Jaya menakutkan.

Pelatih di Elite Pro Academy Bali itu menilai, jika terus berposisi striker/winger, Otong bakal susah bersaing. Banyaknya pemain asing yang mengisi posisi tersebut yang menjadi penyebab. ”Saya minta jadi pemain belakang. Tapi, saya lihat dia punya kecepatan dan fighting spirit. Jadi, saya minta ke bek kanan,” ujarnya.

Umumnya, klub-klub Indonesia mendatangkan pemain asing di posisi bek tengah, gelandang bertahan dan serang, serta penyerang. Sangat jarang klub membeli bek kanan atau kiri.

Dan, buah gemblengan sang ayah di pantai yang banyak bertebaran di Bali sejak usianya masih belasan tahun, Otong tumbuh menjadi salah seorang bek kanan terbaik di Tanah Air. Pemain 24 tahun itu tak cuma menjadi pilihan utama di Bali United. Memperkuat timnas pun pernah dia rasakan.

Saat Bali United beruji coba dengan timnas U-23 pada 7 Maret lalu, Otong juga menjadi starter. Bagi Otong, itu juga bentuk pembuktian. Saat menjalani debut pada 2017, dia harus menahan cemooh karena dianggap pemain titipan. Sebab, saat itu sang bapak adalah asisten pelatih. ”Saya ingin membuktikan kepada orang-orang bahwa saya layak bermain, bukan karena bapak,” tegasnya ketika dihubungi Jawa Pos  (grup Batam Pos) secara terpisah.

Sebenarnya bukan Pasek yang mengasah Otong di masa-masa awal jatuh cinta pada lapangan hijau. Pasek bahkan awalnya tak setuju sang anak mengikuti jejaknya. Sebab, seperti banyak mantan pesepak bola lain, dia tahu betul betapa kerasnya belantika sepak bola Tanah Air.

Adalah Made Sony Kawiarda (almarhum), kakak Pasek, yang kali pertama menangani Otong pada usia 6–7 tahun. Mantan pemain Niac Mitra itu mendidik sang keponakan ketika masih menimba ilmu di SSB (sekolah sepak bola). Pasek saat itu masih aktif bermain bola.

Seiring dengan bertambahnya umur anak ketiganya di antara lima bersaudara tersebut dan dia juga tak aktif lagi bermain, Pasek mendidik langsung Otong. ”Bek sayap ini kebanyakan pemain lokal. Dari sana, saya dril agar bisa dapat tempat ketika nanti di profesional,” ungkapnya.

Dril yang diberikannya adalah meningkatkan kondisi fisik dan kekuatan Otong. Sebab, untuk urusan teknik, dia merasa sang anak sudah sangat bagus.

Selain latihan di pantai di awal karir Otong, pria yang pernah mempersembahkan medali perunggu untuk Indonesia di SEA Games 1989 itu turut turun tangan mengatur kehidupan sang anak. Otong dilarang keras menginap di rumah temannya semasa sekolah. Pasek sadar kehidupan di Bali bisa membuat sang anak tak berfokus dalam karir. ”Saya tidak tahu orangtua temannya bagaimana, bebas atau seperti apa. Kalau tidak dijaga, nanti gimana?” katanya.

Kedisiplinan itu, lanjut Pasek, akhirnya tertanam benar. Sampai saat ini, sang anak sama sekali jarang masuk ke kehidupan malam. ”Dia tahu waktunya pulang dan waktunya istirahat,” jelasnya.

Pasek juga mengingatkan sang anak untuk menjauhi foya-foya atau membeli barang-barang mahal. ”Saya ceritakan pengalaman dulu jadi pesepak bola, pasang surutnya. Dia harus bisa mengatur keuangan mulai sekarang,” tuturnya.

Pasek pula yang meminta Otong tetap bermain di Bali United saja meski banyak klub Liga 1 yang memberikan tawaran. ”Kalau di Bali saja bisa hidup, kenapa main di klub lain? Empat tahun ini Bali United juga sangat baik. Dia juga bisa dekat dengan keluarga di sini. Apa lagi?” ujarnya.

Tawaran dari klub luar negeri juga ditolak. ”(Mantan pemain Bali United) Sylvano Comvalius saat itu ngajak main di Thailand. Saya larang, main di Bali dulu. Kalau sudah bagus dan berprestasi, baru keluar negeri,” harapnya. (*/c14/ttg)