Karimun

Sengketa Warisan Berujung di Pengadilan, Bupati Karimun Ikut Tergugat

Foto bersama keluarga penggugat sengketa tanah. (f.ist)

batampos.id – Harta warisan sering kali menjadi sumber konflik. Bahkan, untuk menyelesaikan pertikaian berebut harta peninggalan tersebut harus berujung ke pengadilan. Pertikaian yang melibatkan enam bersaudara bermula dari warisan tanah milik Rafeah binti Elok yang dahulu beralamat di Jalan Teluk Air RT. II / RK. I dan yang sekarang beralamat di Jalan Teluk Air RT 004/ RW 001, Kelurahan Teluk Air, Kecamatan Karimun.

BACA JUGA: Sah, KPU Tetapkan Rafiq-Anwar Pemenang Pilbup Karimun

Berdasarkan Akta hibah nomor 03/PPAT/1980 yang diterbitkan Pejabat Pembuat Akta Tanah Camat Kecamatan Karimun, Rafeah binti Elok telah menghibahkan lahan yang dahulu beralamat di Jalan Teluk Air RT. II / RK. I dan yang sekarang beralamat di Jalan Teluk Air RT 004/ RW 001 kepada enam cucunya yang masih merupakan saudara kandung. Masing-maing, Raden Kamariah (Bah Kama) binti Raden Ismail (almarhumah), Raden Zainal Abidin (Bang Enol) bin Raden Ismail (almarhum), Raden Zainah (Mak Enah) binti Raden Ismail, Raden Sinarwati (Mak Inai) binti Raden Ismail, Raden Marhayati (Mak Mai) binti Raden Ismail, serta Raden Israq (Ilak) bin Raden Ismail.

Advertisement

Namun lahan hibah tersebut dikuasai dan dinikmati oleh Raden Israq (ilak) bin Raden Ismail sejak tahun 1984 hingga saat gugatan ini diajukan di Pengadilan. Keinginan lima saudara kandung Raden Israq (ilak) untuk memperoleh hak dari bagian hibah, tidak pernah digubris.

Untuk mendapatkan kepastian hukum mengenai hibah yang telah diberikan Rafeah binti Elok sesuai Akta Hibah nomor 03/PPAT/1980 itu, kelima ahli waris sepakat mengajukan gugatan ke Pengadilan Negeri Tanjungbalai Karimun melalui kantor advokat Bambang Hardijusno SH dan Partners.

Kuasa Hukum penggugat, Bambang Hardijusno SH menyebutkan, gugatan sengketa lahan hibah telah didaftarkan serta disidangkan pada 23 Maret 2021 di Pengadilan Negeri Tanjungbalai Karimun. Namun sidang perdana yang ikut menyeret Bupati Karimun, Camat Karimun, Lurah Teluk Air, RW dan RT itu terpaksa ditunda karena ketidakhadiran Raden Israq (Ilak) (tergugat I), dan Bupati Karimun (Tegugat 2).

“Sidang pertama hanya diikuti tergugat 3, 4, 5 dan 6. Sedangkan tergugat 1, dan 2 tidak hadir tanpa keterangan,” jelas Bambang Hardijusno, Rabu (24/3) yang ditemui di kediaman keluarga penggugat di Teluk Air.

Soal keterlibatan Bupati serta perangkat pemerintahan dalam gugatan, lanjut Bambang Hardijusno, karena diduga sebagian tanah yang berada di Jalan Teluk Air RT.002 / RW. 001 Kelurahan Teluk Air Kecamatan Karimun dijual oleh Raden Israq (ilak) ke Pemerintah Kabupaten Karimun berdasarkan Sporadik No. Reg. 10/593/2013 yang dalam penerbitan sporadik tersebut telah dialihkan kepemilikannya atas nama tergugat Raden Israq bin Raden Ismail tanpa sepengetahuan maupun kesepakatan keluarga kandung penggugat lainnya.

“Ada dua bundel grant tanah atas nama Raden Ismail bin Raden Bahari yang merupakan orangtua kandung/ kakek dan atau eyang dari penggugat yang merupakan harta penginggalan yang hingga sekarang belum dibagi-bagikan kepada ahli waris,” beber Bambang.

Setelah ditelusuri penggugat, lanjut Bambang, ternyata lahan yang disengketakan telah dikuasai tergugat I (Raden Israq/ilak) dengan membuat surat sporadik kepemilikan yang ditengarai ikut melibatkan Lurah Teluk Air dan perangkat RW serta RT sebagai pembuat adminstrasi.

“Dalam hal ini, pengggugat menilai ada unsur kesengajaan memanipulasi data yuridis pejabat pemerintahan sehingga surat grant no 43/1938, dan surat grant no 00115 tahun 1931 atas nama Raden Ismail, kepemilikannya telah berpindah tangan dan menjadi hak milik tegugat Raden Israq (ilak). Perkara hibah maupun warisan inilah yang memantik perkara hingga gugatan ke pengadilan,” tegas Bambang Hardijusno yang didampingi keluarga penggugat. (*)

Reporter : ICHWANUL FAZMI
Editor : tunggul