Kepri

Berdayakan Masyarakat Petani, Rehabilitasi Kembali Hutan Lindung, KLHK Gelar Reboisasi di Kawasan Hutan Lindung

Staf khusus Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) bidang edukasi publik untuk kelestarian alam dan lingkungan hidup, Sylverius Yosef Suharso yang akrab dipanggil Soni, menanam bibit pohon di kawasan hutan lindung Sei Gong Galang. (f.ist)

batampos.id- Staf khusus Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) bidang edukasi publik untuk kelestarian alam dan lingkungan hidup, Sylverius Yosef Suharso yang akrab dipanggil Soni, didampingi oleh Kepala Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Hutan Lindung (BPDASHL) Sei Jang-Duriangkang, Bontor L Tobing dan Kadis Lingkungan Hidup Kota Batam Herman Rozie berkunjung ke Barelang, tepatnya di lokasi RHL yang akan dihijaukan kembali, Senin (5/4/2021).

BACA JUGA: Warga Kecewa, Reklamasi Sungai di Sagulung hanya Distop, Belum Diproses

Tak itu saja, rombongan dari KLHK pusat didampingi pihak BKSDA Kepri serta dari KPHL Batam ini juga mendatangi satu persatu kelompok tani di Rempang, Galang maupun di Batam untuk melihat langsung perkembangan pemeliharaan tanaman yang bibitnya dibantu langsung oleh KLHK untuk para kelompok tani.

Advertisement

“Rehabilitasi Hutan Lindung (RHL) ini kami ingin menekankan ke semua, bahwa negara hadir di masyarakat. Sesuai arahan Presiden Jokowi melalui Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK), bahwa KLHK sangat konsen terhadap RHL. Sehingga ini tak bisa dilakukan dengan bekerja sendirian. KLHK harus bersinergi dengan pemerintah provinsi maupun pemerintah daerah, aparat keamanan seperti TNI-Polri. Sehingga ini menunjukkan negara hadir melalui pemerintah cq KLHK,” ujar Soni.

Menteri LHK, lanjut Soni, ingin mengajak semua masyarakat bersama-sama melakukan penghijauan kembali atas lahan yang dulu pernah dilakukan semacam eksploitasi yang tidak terkendali. “Sekaranglah saatnya pemerintah bersama-sama melakukan penghijauan kembali untuk masa depan anak cucu nanti, agar mereka tidak mengalami kesulitan hidup, tentunya dengan cara menghijaukan atau merehabilitasi hutan lindung kembali,” terangnya.

Jenis tanaman yang digunakan untuk merehabilitasi hutan lindung ada beragam seperti misalnya mahoni, petai, durian, Jengkol, pulai, salam, nangka, yang kesemuanya hasilnya nanti akan dikembalikan ke masyarakat.

“Negara lah yang menyediakan bibitnya, menyediakan fasilitas yang diperlukan, masyarakatlah yang akan memelihara, mengelolanya dan menikmati hasil tanamnya nanti. Negara tidak meminta apapun, semuanya akan dikembalikan ke masyarakat. Harapan kami kepada pemerintah kota adalah, mampu mengedukasi publik, sehingga sosialisasi, edukasi seperti tak boleh membakar hutan, kemudian mentaati aturan, pola tanam dan jarak tanam. Intinya ada aspek teknis, tapi juga ada aspek sosial kemasyarakatannya. Kira-kira dukungan dari pemerintah kota itu sangat dibutuhkan. Sinergitas menjadi sangat penting, kolaborasi, gotong royong untuk kemajuan negeri di masa yang akan datang,” tegasnya.

BACA JUGA: Pemukiman Masuk Kawasan Hutan Lindung, DPRD Karimun akan Bentuk Pansus Pemukiman 

Sementara Kepala Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Hutan Lindung (BPDASHL) Sei Jang-Duriangkang, Bontor L Tobing menegaskan, di lokasi yang sudah ditinjau di Barelang, sesungguhnya masih berprogres, yang saat ini masuk pada tahap pemeliharaan.

“Jelang musim penghujan nanti, pemberian bantuan bibit untuk penghijauan kembali ini akan diintensifkan lagi pemeliharaannya. Barangkali tanaman kemarin saat musim panas ada yang kering, nanti akan disulam lagi. Itu nanti terus dipantau, dan kami laporkan ke KLHK. Sehingga nanti di hasil akhirnya di akhir tahun, pertumbuhannya bisa kita banggakan,” ujar Bontor.

Untuk tingkat keberhasilan pemeliharaannya nantinya di setiap akhir tahun akan dihitung.

“Kalau tahun kemarin itu hasilnya di atas 75 persen hingga 80 persen tingkat keberhasilannya dalam pemeliharaan rehabilitasi hutan lindung. Untuk di Barelang ini ada tiga titik yakni di Rempang dan Galang. Pelaksanaannya kita ada kerjasama dengan Korem dan masyarakat. Kemudian ada juga kerjasama dengan PT. Inhutani IV. Tahun ini ada tanaman baru yang nantinya akan ditanam seluas 100 hektare di Pulau Galang, tepatnya di Hulu waduk Sei Gong untuk mengamankan wilayah resapan Waduk Sei Gong yang merupakan 1 dari 65 waduk yang menjadi target Presiden Jokowi dan merupakan satu-satunya di Kepri yang sekarang masih proses pengisian. Kami berharap nanti lokasi RHL itu mampu memperbaiki daerah tangkapannya,” tegasnya.

Sementara, Kadis Lingkungan Hidup Kota Batam Herman Rozie, sangat mengapresiasi kegiatan RHL yang dilakukan oleh KLHK atas kepeduliannya terhadap hutan, khususnya di Kota Batam.

Hal itu dibuktikan dengan dengan hadirnya staf khusus KLHK untuk meninjau dan memastikan bahwa kegiatan yang dicanangkan Menteri LHK itu berjalan sesuai dengan apa yang diharapkan.

BACA JUGA: HUT ke-60, Jasa Raharja Reboisasi Hutan Lindung Batam Demi Ketersediaan Air

“Perlu kita ketahui bahwa Batam ini terdiri dari Pulau Batam, Rempang dan Galang. Pulau Batam sendiri itu sudah penuh, lahannya sangat terbatas. Maka pengembangan kedepannya tentu adalah Rempang dan Galang. Kita harus mewaspadai kalau tidak direhabilitasi hutan ini, tentu ke depan daya tampung dan daya dukung terutama untuk kebutuhan bahan baku air, sangat minim sekali. Ini salah satu upaya bagaimana ke depan kebutuhan air bisa dipenuhi di Kota Batam, khususnya di Rempang dan Galang ini. Pemko Batam dengan segala keterbatasan anggarannya sangat berterimakasih sekali. Mudah-mudahan nanti semuanya terus berlanjut RHL nya,” ujarnya.

Kewenangan soal hutan itu, lanjut Herman Rozie, sudah dilimpahkan semuanya ke provinsi. Mungkin nanti untuk di Batam khusus, apalagi Batam wilayah pelabuhan bebas, tentu ada aturan sendiri, aturan khusus.

“Karena bagaimanapun di dalam aturan yang baru UU Cipta Kerja, bahwa wilayah pelabuhan bebas itu ada kewenangan sendiri. Pemerintah daerah tentu sangat mendukung terutama dari sosial kemasyarakatan. Karena bagaimanapun, ada Camat, ada Lurah, ada RT, ada RW, ada masyarakat, yang mana kepentingan masyarakat itu dinaungi oleh pemerintah daerah. Tentu kita harus kerjasama,” terangnya mengakhiri.

Daerah hutan lindung yang dikunjungi langsung di Batam, Rempang dan Galang kemarin seperti hutan lindung Randang Jajan di Rempang seluas 100 hektare, hutan lindung Taman Buru seluas 150 hektare di Rempang, 300 Hektare di daerah Waduk Sei Gong Galang, serta 25 Hektare di Taman Wisata Alam (TWA) Muka Kuning. (*)

Reporter : GALIH ADI SAPUTRO