Bintan-Pinang

Iwan Winarto, Warga Bintan Masuk Nominator Penerima Kalpataru, Menjaga Lamun dan Mangrove, Tempat Bersalin Ikan dan Kepiting

Iwan Winarto, warga Bintan yang masuk dalam salah satu perwakilan nominator penghargaan Kalpataru tingkat nasional dari Provinsi Kepulauan Riau (Riau) tahun 2021. (F.Pribadi)

batampos.id – Iwan Winarto, warga Bintan yang konsen menjaga kelestarian mangrove dan lamun untuk tempat bersalin ikan, kuda laut, dan kepiting di Desa Pengudang, Kecamatan Teluk Sebong, Bintan masuk dalam salah satu perwakilan nominator penghargaan Kalpataru tingkat nasional dari Provinsi Kepulauan Riau (Riau) tahun 2021 kategori perintis lingkungan. Siang itu, Senin (5/4/2021), langit gelap menandakan uap air yang mengumpul di awan segera menumpahkan partikel air hujan ke tanah.

BACA JUGA: Pandemi Bukan Alasan, Pencinta Mangrove Indonesia Tanam 100 Ribu Batang Bakau di Bintan

Beruntung, pria berdarah Jawa yang lahir di Lampung tersebut telah berteduh sebelum hujan angin mendera. Meski bukan warga asli tempatan, dirinya memiliki keterikatan batin dengan desa tersebut karena dirinya mempersunting wanita desa bernama Sarinah. Pernikahan mereka dikarunia tiga orang anak masing-masing diberi nama Naswa Humairah, Asqana Azra, Ahmad Izzan.

Advertisement

“Sudah 20 tahun saya tinggal di Pengudang,” ujar pria berusia 44 tahun. Iwan mulanya bekerja di kawasan wisata Lagoi. “Sempat kerja di PT. BRC dan Nirwana,” jawabnya. Mantap memutuskan resign, Iwan bergelut dengan alam dengan menjadi perintis lingkungan.

Dia bersyukur dititipkan alam desa yang teramat indah seperti batu junjung, pantai pasir putih, hutan mangrove dan lamun yang perlu dijaga dan dilestarikan secara bersama-sama. Melihat beragam potensi mulai wisata, laut, keindahan alam dan tradisi masyarakat desa, dia mulai mengkolaborasikan dalam sebuah event wisata Pengudang Seafood Festival 2009.

“Waktu itu, kita swadaya dari masyarakat memperkenalkan kuliner dan handycraft. Alhamduliah setelah itu, kita disupport pemerintah desa melalui anggaran dana desa,” ujarnya. Selama empat tahun terakhir,  dirinya terus-menerus mengampanyekan sadar lingkungan sekaligus mengembangkan wisata berbasis masyarakat Desa Pengudang.

“Sedari sekolah sudah passion saya menyatu dengan alam seperti mengikuti kegiatan pramuka dan berkemah,” ujarnya. Diakuinya, mudah-mudah susah mengedukasi masyarakat agar berperilaku sadar lingkungan dan sadar wisata seperti tidak membuang sampah ke laut dan tidak merusak hutan bakau dan lamun.

“Saya terus menerus menyosialisasikan ke masyarakat agar jangan buang sampah ke laut dan bakau,” ujarnya. Menurutnya, membuang sampah ke laut bisa merusak lamun dan mangrove yang menjadi tempat bersalinnya ikan, kepiting dan kuda laut.

“Ikan, kuda laut, kepiting itu bertelur di mangrove. Membuang sampah ke mangrove juga bisa menghambat pertumbuhan mangrove karena masa tumbuh mangrove memiliki rentang waktu yang sangat lama,” ujar pria yang juga bekerja sebagai tenaga penyuluh sosial masyarakat (pensosmas) Desa Pengudang,

Bersama sejumlah pihak dan masyarakat, mereka rutin melaksanakan aksi bersih-bersih pantai dan laut, juga melakukan penanaman pohon bakau. “Aksi bersih-bersih pantai dan laut sering dilakukan bersama komunitas pecinta alam, kelompok pegawai negeri, swasta dan masyarakat, juga menanam bakau,” ujarnya. Disinggung terkait pariwisata berbasis masyarakat?

Menurutnya, sektor pariwisata berbasis masyarakat belum digarap maksimal. Padahal, pariwisata berbasis masyarakat memiliki potensi besar karena dapat meningkatkan ekonomi masyarakat. “Pemberdayaan masyarakat melalui UMKM, nanti masyarakat dengan sendirinya mendapat income,” ujarnya.

Kemudian berdirilah Pengudang Mangrove. Step by step, Pengudang Mangrove makin mendunia. Selain wisatawan domestik, wisatawan mancanegara mulai berdatangan dan turut melakukan aksi nyata pelestarian lingkungan seperti membersihkan pantai, laut dan menanam bibit mangrove.

Usaha melestarikan mangrove dan lamun makin nyata. Sudah beberapa televisi nasional dan lokal mengangkat soal keberlangsungan lingkungan dan pariwisata berkelanjutan di desa tersebut.

“Sudah banyak dipromosikan media dan televisi nasional dan lokal, mereka yang datang meliput antara lain dari Metro Tv, Net Tv, Kompas Tv, Trans Tv,” ujarnya. Desa Pengudang juga menjadi pusat riset dan penelitian dari berbagai pihak seperti LIPI, DSCP( Dugong Seagrass Conservation Project), WWF-Indonesia, dan lainnya.

Diakuinya, semua tidak lepas dari dukungan teman-teman komunitas, mahasiswa, akademisi, pemerintah, swasta. “Yang memiliki peran besar mendorong keberlangsungan lingkungan dan pariwisata di Desa Pengudang ialah teman-teman STD Forum,” ujarnya.

Masuknya dirinya sebagai salah satu nominator Kalpataru, menurutnya, pun tidak lepas dari dorongan teman-teman. “Iya ada teman pengiat lingkungan di Dompak, Tanjungpinang, Pak Kherjuli dari LSM Alim Kepri yang merekomendasikan saya ke DLH Provinsi. Kemudian saya mengikuti interview dan lainnya sampai nama saya diusulkan ke pusat,” ujarnya.

Dia mengatakan, tidak memikirkan menang atau kalah. Terpenting menurutnya, kelestarian lingkungan tetap terjaga dan pariwisata berkelanjutan. Seperti diketahui, selain Iwan Winarto, kategori perintis lingkungan dari Kabupaten Bintan, ada juga LSM Alim kategori Penyelamat Lingkungan Kota Tanjungpinang, Tani Makmur Jaya Kategori Penyelamat Lingkungan Kabupaten Natuna dan Hazriani Kategori Pengabdi Lingkungan Kabupaten Natuna serta Odit Kusmar Lubis Kategori Perintis Lingkungan Kota Batam. (*)

Reporter: Slamet
editor: tunggul