Nasional

Korps Marinir TNI-AL Berangkatkan Satgas Kemanusiaan ke NTT

Satgas Kemanusiaan: Korps Marinir TNI-AL memberangkatkan Satgas Kemanusiaan untuk membantu mengevakuasi korban bencana alam di NTT. (F. Dery Ridwansah/JawaPos.com)

batampos.id – Kepala BNPB Doni Monardo mengungkapkan, total 138 orang ditemukan meninggal. Sebanyak 61 orang lainnya masih dalam pencarian.

Kemarin, Korps Marinir TNI-AL memberangkatkan satuan tugas (satgas) kemanusiaan. Mereka bertolak dari Jakarta ke NTT melalui Lanud TNI-AU Halim Perdanakusuma. Menurut Komandan Korps Marinir Mayjen TNI (Mar) Suhartono, total ada 22 pasukan khusus Korps Marinir yang tergabung dalam satgas tersebut. ”Untuk melaksanakan tugas kemanusiaan, penanggulangan bencana di NTT,” katanya.

Satgas dipimpin Mayor (Mar) Doni. Pria yang sehari-hari bertugas sebagai pasiops Batalyon Angmor 1 Korps Marinir itu menyatakan bahwa tim yang dia pimpin siap digerakkan membantu masyarakat terdampak bencana alam. ”Untuk membantu saudara-saudara sebangsa yang membutuhkan pertolongan,” ucapnya.

Advertisement

Kemarin pesawat Hercules C-130 dengan nomor ekor A-1323 yang mengangkut pasukan Marinir terbang dari Jakarta sekitar pukul 07.00. Selain Satgas Kemanusiaan Korps Marinir, pesawat angkut milik TNI-AU itu juga membawa sejumlah bantuan. Di antaranya satu unit ambulans, lima unit tenda, tabung oksigen, perlengkapan bedah minor, obat-obatan, dan peralatan medis lainnya.

BACA JUGA: Syukuran Sederhana di HUT ke 75 Korps Marinir  

Sementara itu, dari kunjungan sebelumnya di NTT, Menteri Sosial (Mensos) Tri Rismaharini mengungkapkan, sejumlah wilayah memang mengalami kondisi cukup parah. Misalnya Adonara dan Lembata. Ende dan Malaka juga masih banjir tinggi. ”Saya juga mendapat laporan Kabupaten Alor, Pulau Pantar, kondisinya berat. Sumba Timur, komunikasinya juga belum bisa terlalu baik,” ujarnya.

Karena itu, setelah kembali ke Jakarta untuk menyelesaikan sejumlah administrasi, Risma (sapaan Tri Rismaharini) akan terbang lagi ke NTT hari ini. Dia mengaku cemas karena masih ada daerah yang belum tersentuh bantuan makanan. Di Sumba Timur saja, kata Risma, meski telah tersedia bantuan pangan, jumlahnya masih kurang karena pengungsi cukup banyak.

Selain bantuan makanan dari Jakarta, rombongan akan membawa sejumlah alat yang diperlukan. Misalnya kompor gas yang disebutnya sangat dibutuhkan untuk memasak makanan bagi para pengungsi.

”Padahal, yang dimasak ribuan. Masak kalau masak lama, makan mi instan terus?” katanya.

Kemudian alat potong pohon. Pasalnya, banyak jalan yang masih tertutup pohon sehingga menyulitkan akses mereka. ”Mereka juga minta ada alat berat,” ungkap mantan wali kota Surabaya tersebut.

Alat berat itu digunakan untuk mencari jenazah yang belum ditemukan. Selama ini pencarian masih dilakukan secara manual. ”Tidak bisa besok, tapi kami upayakan secepatnya,” sambung Risma. (*)

Reporter: Jpgroup
Editor: Ryan Agung