Zetizen

Parsa Nayyara – Jadi Scientist Muda? Siapa Takut!

Batampos.id – Bagaimana ya kalau seandainya air bisa diubah menjadi bahan bakar untuk kendaraan bermotor? Mungkin aja kok! Pertanyaan-pertanyaan serupa juga ada di dalam benak Parsa Nayyara, siswi kelas XI di SMAN 5 Surabaya. Nggak ada yang menyangka lho kalau gadis berusia 17 tahun ini adalah seorang peneliti yang memulai risetnya sejak usia 13 tahun. (sak/c12/rat)

Z: Serius nih peneliti belia?
N: Yap! Aku kali pertama melakukan penelitian waktu SMP. Awalnya sih karena pengin tahu aja, bisa nggak ya kita charging dengan menggunakan panas yang dihasilkan telapak tangan? Eh, lama-lama doyan. Kalau sekarang aku fokus ke mikrobiologi dan biomaterial yang masih sedikit dibahas. Sejak saat itu juga aku bergabung dengan Young Scientist Journal dan National High School Journal of Science yang dijalankan sesama murid SMA dari berbagai negara.

Z: Masih SMA kok udah meneliti? Kenapa nggak main aja sih?
N: Hobiku emang nggak kayak cewek pada umumnya. Dari kecil aku lebih suka main balok, bongkar pasang lego, dan mengubah komposisi suatu barang untuk menciptakan barang baru. Penelitian itu seru banget! Ya sebut saja itu adalah escape from reality. Jadi, kalau bosan dengan pelajaran sekolah, aku meneliti aja deh!

Advertisement
GOLD MEDALIST:
Nayyara mendapat penghargaan untuk Environmental Sciences Conference. Bersama tim Indonesia yang mewakili Center for Young Scientist dalam awarding International Young Scientist Innovation Exhibition yang bertempat
di Malaysia pada 2019.

Waktu di sekolah, kita kan cuma dikasih teori tentang hasil riset dan penelitian yang sudah dilakukan para ilmuwan di masa lalu. Sayang, aku jadi susah paham karena nggak praktik langsung. Dari penelitian aku jadi bisa explore banyak topik yang belum pernah diajarkan di sekolah dengan learning by doing. Sampai akhirnya aku tahu kalau passion-ku memang di sana.

RUTINITAS:
Foto atas, Nayyara bersama tim leaders dari Young Scientist Journal yang dijalankan sesama siswa dari seluruh dunia.

Z: Kenapa nggak melakukannya nanti waktu kuliah?
N: Bagi peneliti belia, risiko yang ditanggung kalau terjadi kesalahan terhadap hasil penelitiannya kecil banget. Beda sama penelitian saat kuliah nanti. Nah, karena aku masih SMA, aku juga punya banyak waktu untuk memperbaiki kesalahan.

Nggak akan ada target nilai A, jadi nggak perlu takut mengulang. Emang sih peneliti belia sering dapat stigma buruk. Aku pernah ditanya, ”Ngapain kamu meneliti bakteri? Gabut ya?” Padahal kan penelitian nggak cuma cari jawaban, tapi juga melatih problem solving! Kalau nggak dilatih dari sekarang, kapan dong?

Z: Pasti orangtuamu peneliti juga ya?
N: Oh, nggak kok. Justru aku satu-satunya yang punya minat terhadap science di keluarga. Emang suka dari kecil. Jadi, orangtuaku hanya mendukung passion itu sambil menemani. Waktu itu solderku pernah sampai meledak saat melakukan penelitian di ruang tamu. Jadi, sekarang aku sering minta bantuan mereka saat menggunakan alat-alat elektronik, hehe.

RUTINITAS:
Eksperimen streak plating yang dilakukan di rumah berhasil merebut medali perunggu pada ajang Kompetisi Penelitian Siswa Indonesia 2020.

Z: Sekolah sambil melakukan penelitian apa nggak sulit?
N: Semua pasti ada suka dan dukanya. Aku beruntung banget dapat banyak dukungan dari teman-teman dan guru di sekolah. Mereka semua seperti sudah paham dengan apa yang aku lakukan. Aku sering dapat kompensasi waktu pengumpulan tugas, tapi di sisi lain aku jadi punya lebih sedikit waktu untuk main sama teman-teman.

Dari penelitian aku jadi punya kesempatan untuk merepresentasikan Indonesia sekaligus nama sekolahku di ajang Inter­national Young Scientist Innovation Exhibition Malaysia yang juga diikuti beberapa murid asal Indonesia. Bahkan, aku berhasil menyabet medali emas. Intinya sih, nggak boleh ada yang dikorbankan. Kalau bisa jalan berbarengan, kenapa nggak? (***)

ZETS OF THE DAY

Jadi Peneliti Itu Mudah atau Sulit Sih?”

Reporter : Sonia Novi
Editor : Agnes Dhamayanti

KEREN ya kalau bisa jadi peneliti. Pasti menjadi sebuah pengalaman berharga pernah melakukan penelitian. Memang tak mudah melakukannya. Tapi dengan tekad dapat menyelesaikan penelitian, maka prosesnya semakin dimudahkan. Penasaran seperti apa kisah anak milenial terkait tema ini? Yuk intip! (*)

F. Dok. Pribadi

Reza Febry Anti
SMK N 4 Batam
Instagram : @ejakcantiq

Banyak yang mengira jadi peneliti itu sulit, dan terkesan rumit dan sangat serius. Padahal jadi peneliti itu tidak sulit dan tidak selalu serius, karena peneliti itu mengerjakan banyak hal baru, hal yang selama ini tidak kita ketahui.

Gimana sih cara memulai menjadi peneliti? Itu gampang banget! Kita bisa mulai mengamati lingkungan dan alam sekitar kita. Dan supaya tidak bosan kamu bisa meneliti hal-hal yang kamu suka. Dengan begitu, menjadi peneliti itu akan sangat menyenangkan. (*)

F. Dok. Pribadi

Seridevia Hasibuan
SMK Islam Hang Tuah Batam
Instagram : @seridevia

Menjadi seorang peneliti itu sulit, karena kita harus bener-bener mencari tahu informasinya, bukti, data, teorinya juga. Kita juga harus tahu hal dasar menjadi seorang peneliti, tidak usah jauh-jauh deh, contohnya seperti KKN (Kuliah Kerja Nyata), memang tidak mudah sih menjadi seorang peneliti. Semangat buat yang sedang meneliti! (*)

 

F. Dok. Pribadi

Purisnawati Djoyoharjo
SMK Negeri 1 Batam
Instagram : @purisnawatidyhj_

Menjadi peneliti itu cukup sulit tapi juga mengasyikkan. Karena, melakukan penelitian itu kita harus teliti dan fokus. Tidak mudah untuk menjadi seorang peneliti yang ahli di bidang sains dan lain sebagainya.

Yang paling seru sih kalau pas praktikum. Kita bisa bereksperimen seperti mencampurkan bahan-bahan kimiawi, meneliti zat-zat kimia atau senyawa. Penelitian tak hanya pada bidang sains/IPA saja, namun ada juga yang meneliti di bidang studi kasus, teori dasar, etnografi, kultural dan lainnya. (*)