Bintan-Pinang

Terapkan Prokes saat Acara, Wedding Organizer  di Tanjungpinang Mulai Bangkit 

Penyerahan penghargaan kepada perempuan berpengaruh di Tanjungpinang sempena hari kartini dan 3 tahun the wedding culture, Selasa (7/4/2021). (f.Peri Irawan/batampos.id)

batampos.id –  Sejak masa new normal diberlakukan, sejumlah industri kreatif dan Usaha Menengah Kecil Mikro (UMKM) di Tanjungpinang tampak kembali tumbuh dengan penerapan protokol kesehatan (Prokes). Industri Kreatif yang cukup terdampak kala pandemi covid-19 yaitu usaha yang bergerak pada pengumpulan massa, salah satunya wedding organizer karena pemerintah sudah melarang perkumpulan orang untuk menghindari penularan virus corona.

BACA JUGA: Kontribusi Sektor Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Akan Meningkat 5-10 Tahun ke Depan

Banyak wedding organizer (WO) yang terpuruk karena sejak aturan diterapkan pemerintah, banyak orang yang sudah merencanakan pesta pernikahan harus membatalkan niat tersebut karena alasan kesehatan lebih diutamakan.

Advertisement

Kini dengan standar prokes ketat, WO di Tanjungpinang mulai merangkak hidup kembali. Sejak pesta pernikahan diperbolehkan tidak hanya pemilik WO yang senang tapi semua pihak yang terlibat pada satu acara itu, seperti usaha katering, jasa foto dan video wedding hingga usaha tenda pelaminan juga mendapat angin segar kembali pada usahanya.

Pemilik The Wedding Culture, di Tanjungpinang, Kamal mengaku pada awal mula pandemi covid-19 usaha yang digelutinya sejak 3 tahun lalu itu ikut terdampak, banyak kegiatan yang sudah direncanakan harus dibatalkan.

“Saat itu kita paling down karena banyak mempekerjakan teman-teman seperti band, pengisi acara,” kata Kamal,  Selasa (7/4/2021) kemarin. Walaupun ada beberapa jasa WO bisa jalan seperti penyediaan baju akad nikah,  namun kata Kamal harga yang diberlakukan saat itu juga sangat murah jauh dari harga normalnya. “Mungkin yang biasa diatas Rp 10 juta bisa banting harga dibawah Rp 5 juta,” sebutnya.

Saat ini sempena memperingati hari Kartini dan ulang tahun ke 3 tahun the wedding culture, dengan kegiatan itu juga ingin menunjukkan kepada masyarakat bahwa pada masa sekarang resepsi pernikahan tetap bisa dilaksanakan dengan prokes ketat.

“Semua vendor dan pengisi acara yang terlibat di dalam wedding agar bisa bangkit bersama berjuang kembali,” ungkapnya. Peringatan hari kartini yang harusnya diperingati pada bulan Ramadan itu sengaja dimajukan, diisi dengan penampilan fashion show,  pertemuan dengan para tim yang tergabung dalam WO, serta pemberian penghargaan kepada perempuan yang dianggap memberi inspirasi kepada masyarakat di Tanjungpinang.

“Dalam acara 3 tahun the wedding culture berkarya ini kita tampilkan fashion show dengan tema nusantara, pakaian akad dan gaun internasional,” sebutnya.

Kamal menyampaikan jika satu WO bisa berjalan pada satu resepsi, itu tidak hanya memberikan keutungan pada satu orang saja tapi ada puluhan tenaga yang terserap di dalamnya.

“Mungkin bisa sampai 45-50 orang ada Katering,  jasa foto wedding,  tenda pelaminan, ini bagus untuk membangkitkan kembali ekonomi kita,” tambahnya. (*)

Reporter: Peri Irawan
editor: tunggul