Bintan-Pinang

Belum Dapat Izin dari Pemkab Bintan, Kapal Pelni dari Pelabuhan Sribayintan Belum Beroperasi

Loket penjualan tiket di Kantor Pelni Cabang Tanjungpinang tampak sepi, Jumat (9/4/2021). (f Peri Irawan /batampos.id)

batampos.id – Sejak ditutup April 2020 lalu, PT Pelayaran  Nasional Indonesia (Pelni) Cabang Tanjungpinang belum mendapat izin dari Pemkab Bintan untuk pengoperasian kapal penumpang antarprovinsi di Pelabuhan Sribayintan di Kijang. Padahal selain mendapat desakan, pihak Pelni juga sering mendapat pertanyaan dari masyarakat melalui sosial media kapan pelabuhan itu dibuka kembali.

BACA JUGA: Mudik Naik Kapal Pelni Cukup Tunjukan Hasil Non-Reaktif Rapid Test Antibodi

Kepala Operasional PT. Pelni Cabang Tanjungpinang, Guruh Dwi Saputro menjelaskan pihaknya sudah berupaya mengakomodir keinginan masyarakat yang akan datang dan berangkat dari Pelabuhan Sribayintan di Kijang.”Itu berdasarkan aturan Pemda setempat yang membuka dan menutup,  sementara kami masih mengikuti aturan yang lama,”kata Guruh,  Jumat (9/4/2021).

Advertisement

Guruh mengaku, pihaknya sudah mencoba beberapa kali datang ke Pemkab Bintan untuk membahas kapal akan dibuka kembali pelabuhan itu. “Kami sudah tiga kali mengirimkan surat dengan tembusan Gubernur Kepri,” sebutnya.

Atas kebijakan Gubernur Kepri,  saat ini kapal Pelni yang melayani rute antarProvinsi cuma ada di Batam agar pintu masuk lebih terkendali. Sedangkan kapal Pelni antar pulau di Kepri masih tetap melayani seperti biasa. “Di Pelabuhan SBP  Tanjungpinang masih melayani. Seperti Anambas dan Natuna, ada kapal Sabuk Nusantara 48, 83 dan 80,” tambahnya.

Guruh mengatakan Pemerintah memperbolehkan mudik lebaran, maka masyarakat Kepri yang ingin menyebrang antar Provinsi harus melalui Batam. Kebijakan membuka kembali Pelabuhan Sribayintan di Kijang tidak bisa dari satu pihak ada satuan tugas (satgas) covid-19 yang juga memiliki pertimbangan. “Saya dan Pak Kacab juga sering menanyakan kepada Dishub provinsi tapi belum mendapat info bagus,” tuturnya. (*)

Reporter: Peri Irawan
editor: tunggul