Metropolis

Kasus Covid Melonjak, Hampir Semua Wilayah Masuk Zona Merah Covid 19

Warga tidak memakai masker saat di pasar Fanindo, Tanjunguncang, Batuaji, Kamis (15/4). Batam saat ini mulai masuk zona merah, beberapa Kecamatan sudah masuk zona merah salah satunya Batuaji. F Dalil Harahap/Batam Pos

batampos.id – Banyaknya keramaian dan kerumunan masyarakat akhir akhir ini diyakini Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kepri, Mohammad Bisri penyabab melonjaknya kasus positif Covid. Bahkan saat ini hampir seluruh wilayah Batam masuk dalam zona merah. Bahkan, Wakil Wali Kota Batam, Amsakar Achmad dan istrinya, juga terpapar Covid-19. Mohammad Bisri mengaku akhir-akhir ini warga tak lagi mematuhi protokol kesehatan. Masker jarang dipakai saat berkumpul.

BACA JUGA: Kasus Covid-19 di Kepri Melonjak, Bakal Berpengaruh Terhadap Pariwisata

“Jangan kaget kasus Covid-19 naik,” katanya, Jumat (16/4/2021). Bazar Ramadan diduga jadi salah satu pemicu naiknya kasus Covid-19 di wilayah ini. “Selama sebulan penuh pasar tumpah (bazar) digelar dan masyarakatnya tak patuhi protkes. Lalu, anjuran daerah oranye dan merah jangan dulu melaksanakan tarawih (di masjid), tapi di rumah saja. Tapi tetap saja. Makanya kasus ini semakin naik,” ucapnya.

Advertisement

Bisri meminta tidak menyalahkan pemerintah. Karena, anjuran dan imbauan sudah sering dilakukan. Tapi masyarakat tak kunjung mematuhi protokol kesehatan.

“Masyarakat mulai bergerak, harusnya mendisiplinkan diri. Pakai masker, jaga jarak, tidak berkerumun dan mencuci tangan,” ucapnya.

Walaupun kasus semakin naik, tapi angka kematian tidak mengalami kenaikan. Bisri mengatakan bahwa tenaga kesehatan semakin berpengalaman dan matang. Penanganan pasien Covid-19 juga semakin membaik.

“Para nakes (tenaga kesehatan) sudah tahu harus berbuat apa, tapi tak bisa mengandalkan mereka saja. Masyarakat harus mematuhi aturan yang ada, agar kasus Covid- 19 menurun kembali,” tuturnya.

Terkait efektivitas vaksin Covid-19, Bisri mengatakan orang yang telah di vaksin, memiliki peluang tertular dan menularkan Covid-19. Tapi, orang yang telah mendapatkan vaksin, hanya mengalami gejala ringan.

“Pak Wakil Wali kota (Amsakar) sudah divaksin. Lihat, tidak ada gejala serius kan,” ucapnya.

Bisri menuturkan bahwa vaksin meningkatkan antibodi dan setiap orang berbeda-beda reaksinya. Ia mengatakan, apabila setelah divaksin mengalami demam, berarti vaksin itu bekerja dengan baik. “Ada demam, berarti ada reaksi. Responsnya bagus dan baik,” tuturnya.

Sementara itu, Ketua IDI Kepri, dr Rusdani, membenarkan bahwa vaksin tidak menjamin seseorang kebal dari Covid-19. Oleh sebab itu, ada anjuran, setelah divaksin, protokol kesehatan wajib dijalankan dengan baik.

Rusdani mengatakan, setiap orang punya imun berbeda-beda. Sehingga, efektivitas vaksin setiap orang juga berbeda. “Berdasarkan penelitian, vaksin itu baru mencapai masa topnya setelah 3 bulan disuntikan. Lalu, keefektivannya menurun lagi setelah 9 bulan,” tuturnya.

Ia menuturkan, alasan pemerintah menggesa vaksin tuntas dalam tahun ini, agar keefektifan vaksin dapat meminimalisir penyebaran Covid-19. Apabila hingga akhir tahun tidak tercapai target 70 persen warga divaksin, tentunya akan menimbulkan masalah baru. “Tahun depan vaksin lagi, sia-sia usaha pemerintah selama satu tahun ini,” ujarnya. (*)

Reporter : FISKA JUANDA, YULITAVIA
Editor: tunggul