Nasional

398 Pasien Covid-19 Dirawat

 Baru 30 Persen Warga Kepri Divaksin

Para Pegawai perbankan mengikuti vaksinasi covid-19 di di Mandiri University Batam Campus, yang diselenggarakan oleh Pemko Batam bersama Badan Musyarawah Perbankan Daerah (BMPD) Kepri, Jumat (26/3/). Peserta vaksinasi tersebut berasal dari 33 perbankan di Batam yang tergabung dalam Badan Musyarawah Perbankan Daerah (BMPD) Kepri. (Cecep Mulyana/Batam Pos)

batampos.id – Jumlah pasien terkonfirmasi positif Covid-19 terus bertambah. Berdasarkan data Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 Batam, hingga Minggu, 18 April 2021, terdapat 398 pasien Covid-19 yang sedang dirawat. Hal ini tentu saja membuat Kota Batam kembali menjadi zona merah.

”Iya, ada peningkatan jumlah yang dirawat. Total sampai hari ini (kemarin, red) ada 398 orang,” ujar Ketua Bidang Kesehatan Tim Gugus Tugas Covid-19 Kota Batam, dr Didi Kusmarjadi, SPoG, Minggu (18/4).

Berdasarkan data zonasi Satgas, tujuh kecamatan di mainland Kota Batam berzona merah. Satu kecamatan berzona oranye dan satu kecamatan lainnya berstatus kuning. Sementara Kecamatan Belakangpadang kini naik status menjadi zona oranye.

Advertisement

Jika diuraikan, Kecamatan Batam Kota tertinggi, dengan jumlah pasien dirawat 101 orang. Di susul Kecamatan Batuaji dengan 56 pasien dirawat dan Kecamatan Sekupang sebanyak 55 orang dirawat. Selanjutnya, Kecamatan Bengkong 43 pasien, Seibeduk 42 pasien, Lubukbaja 36 pasien, dan Sagulung 24 pasien yang sedang dirawat.

Kecamatan berzona oranye yakni Nongsa dengan jumlah pasien yang dirawat 17 orang dan Belakangpadang 14 pasien. Dua kecamatan lainnya berzona kuning yakni Batuampar dan Galang. Sementara Bulang sampai kini masih hijau.

Didi menyebutkan, angka penularan virus Corona di Batam sudah mencapai 6.599 orang. Sepanjang Minggu (18/4) kemarin, pasien yang terkonfirmasi positif Covid-19 bertambah 16 orang. Dimana 16 orang ini terkonfirmasi positif tanpa bergejala.

”Ada 16 penambahan kasus. Sementara pasien yang sembuh bertambah 10 orang,” sebut Kepala Dinas Kesehatan Dinkes) Kota Batam itu.

Sampai kemarin, Satuan Tugas Penanganan COVID-19 Kota Batam telah memeriksa 30.236 reverse-transcriptase polymerase chain reaction (RT-PCR), dengan hasil 23.599 negatif dan 6.599 lainnya positif. Sedangkan 38 sampel lainnya masih dalam proses (on proses). Sementara bila melihat jumlah yang sudah di-rapid test mencapai 35.704 orang dengan rapid test reaktif berjumlah 2.952 orang.

Didi juga tak henti mengimbau kepada masyarakat akan pentingnya menerapkan 5 M, yakni menjaga jarak, memakai masker, mencuci tangan dengan sabun, menjauhi kerumunan, dan mengurangi mobilisasi.

”Tetap memakai masker, dan ingat pesan ibu 5M. Dengan sama-sama memakai masker kita bisa meminimalisir penyebaran Covid-19 ini hingga 99 persen,” ungkap Didi.

sementara itu, di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Embung Fatimah, Batuaji, pasien Covid-19 yang menjalani perawatan medis di gedung Tun Sundari Terpadu, naik jadi 25 orang hingga Minggu (18/4). Tambahan pasien baru sebanyak tiga orang pada Sabtu (17/4). Tiga pasien terbaru ini terdeteksi saat menjalani perawatan medis di layanan Instalasi Gawat Darurat (IGD) rumah sakit.

”Iya, tambah lagi jadi 25 orang sekarang. Kemarin (Sabtu, 17/4, red) ada penambahan tiga pasien dari IGD. Mulai meningkat lagi,” ujar Wadir Pelayanan Medik dan Keperawatan RSUD Embung Fatimah Batam, Dr drg Sri Rupiati, kemarin.

Pekan sebelumnya, RSUD telah menampung 21 pasien Covid-19 yang datang dari berbagai penjuru Kota Batam. Belakangan ada penambahan lagi, sebab ada pasien yang terdeteksi positif Covid-19 saat menjalani layanan darurat di IGD. Tiga pasien terbaru ini datang dari wilayah yang berbeda sehingga mengharuskan tim gugus untuk melakukan tracing.

Penambahan serupa juga terjadi di kawasan industri Mukakuning. Dalam tiga hari terakhir ada penambahan pasien positif sekitar lima orang yang masuk dalam kategori klaster karyawan.

”Ada empat atau lima orang (pasien baru dari Mukakuning, red). Semuanya sudah ke RSKI Galang. Ini petugas lagi di lapangan semua untuk tracing ataupun sterilisasi. Nanti dari kelurahan masing-masing yang melakukan strelisasi,” ujar Camat Seibeduk, Gufron, kemarin.

Selain tim gugus kecamatan, upaya pencegahan penyebaran Covid-19 juga gencar dilakukan oleh tim gugus dari masing-masing kawasan industri di Mukakuning. Tim interen kawasan ini dilaporkan telah melakukan sterilisasi di masing-masing kawasan.

”Mereka ada tim tersendiri yang rutin mengontrol penerapan protokol kesehatan ataupun strelisasi kawasan. Kita dibantu pantau juga apalagi ada kasus seperti ini tentu perhatian lebih banyak ke sana,” kata Gufron.

Baru 30 Persen Warga Kepri Divaksin

Di tempat terpisah, Dinas Kesehatan Provinsi Kepri mengklaim vaksinasi sudah mencapai 30 persen dari target 1,4 juta orang penduduk Kepri. Namun yang sudah mendapatkan vaksinasi dosis pertama dan kedua baru 36.682 orang atau sekitar 12,1 persen. Selebihnya masih dalam tahapan dosis pertama.

Periode April dan Mei ini, vaksinasi difokuskan terhadap lansia (lanjut usia). Target lansia yang sudah divaksinasi untuk dosis pertama baru 12.833 orang dan yang sudah mendapatkan dosis kedua 3.231 orang.

”Kami akan terus genjot atau tingkatkan vaksinasi terhadap lansia. Kami masih ada cadangan 1.400 fial lagi, dan akan disebarkan ke beberapa wilayah,” kata Kepala Dinas Kesehatan Kepri, M Bisri, kemarin (18/4).

Ia mengatakan, sebagian besar vaksin sudah berada di kabupaten atau kota yang ada di Kepri. Proses vaksinasi masih terus berjalan. Dia menyebutkan vaksin yang diberikan saat ini jenisnya AstraZeneca, yang memiliki efektivitas sekitar 70-an persen ini dan akan kedarluarsa di akhir Mei mendatang.

”Kami terus suntikan vaksin ke masyarakat. Dalam dua minggu ini sudah habis seluruh persedian vaksin yang kami miliki. Sebelum kedarluarsa vaksin sudah disuntikan ke masyarakat,” ucapnya.

Bisri meminta kepada para lansia mendaftarkan diri ke puskesmas. Pendaftaran ini dapat diwakili oleh anak atau tetangga lansia tersebut. ”Bisa divaksin di hari itu juga atau esoknya. Kami kasih bonus yang mengantar akan kami vaksin juga,” tuturnya.

Di beberapa negara, AstraZeneca memiliki berbagai keluhan serius salah satunya pembekuan darah langka. Tapi, di Kepri Bisri mengaku tidak ada keluhan yang hingga membuat seseorang harus dilarikan ke UGD. Sejauh ini setiap orang yang telah disuntikan AstraZeneca dalam kondisi baik dan sehat.

Terkait target vaksinasi, Bisri yakin akhir tahun masyarakat Kepri yang sudah divaksinasi lebih dari 70 persen. ”Asalkan pasokan vaksinnya cukup,” ucapnya.

Ia mengaku, hingga kini masih belum mengetahui kapan vaksin datang lagi ke Kepri. Sejauh ini belum ada jadwal pasti dari pemerintah pusat terkait kedatangan vaksin. ”Juli ini direncanakan vaksinasi massal seluruh masyarakat. Kami butuh 3 juta dosis untuk menyelesaikan vaksinasi terhadap masyarakat di Kepri,” sebutnya.

Vaksin hanya efektif satu tahun di tubuh manusia, setelah itu ke efektifannya berkurang. Apakah tahun depan ada program vaksinasi lanjutan? Bisri menjawab bahwa semua ini tergantung sukses atau tidaknya vaksinasi hingga akhir tahun ini.

”Menunggu perkembangan, apabila hingga akhir tahun 70 persen sudah divaksin. Maka akan dilihat, efektif atau tidak vaksinnya,” ucapnya.

Ketua IDI Kepri, Rusdani, berharap vaksinasi bisa selesai tepat waktu. Sebab apabila dibiarkan berlama-lama, maka vaksin yang diberikan di tahapan awal ini akan menjadi sia-sia. Menurut dia vaksin akan mencapai masa puncak efektifnya setelah 3 bulan penyuntikan, dan efektivitasnya menurun setelah 9 bulan. Makanya, pemerintah perlu menggesa vaksinasi ini agar efektivitas vaksin ini tidak berkurang.

”Sebelum efektivitas menurun, vaksin harus merata disuntikan ke seluruh masyarakat. Agar tidak terjadi gelombang baru kasus Covid-19,” katanya.

Dinkes Yakini Vaksin Ampuh Atasi Varian Baru

Sementara itu, terkait ditemukannya varian baru virus Covid-19 (B1525) yang awalnya ditemukan di Inggris dan Nigeria, tidak bisa dipungkiri saat ini sudah ada di Kota Batam. ”Mungkin iya (masuk Batam, red). Hanya saja kita tidak ada diberitahu oleh Kementerian Kesehatan,” ujar Didi Kusmarjadi.

Didi menyebutkan, sejauh ini di Kota Batam belum ada alat atau peralatan yang mampu mengecek varian baru dari virus Corona tersebut. Hal ini baru diketahui setelah adanya penelitian sampel dari Kementerian Kesehatan di Jakarta beberapa waktu lalu. ”Baru di Jakarta yang bisa. Kita belum,” sebutnya.

Ditambahkan Didi, alat yang bisa mendeteksi varian baru virus Corona ini sangat canggih dan mahal, sehingga belum semua daerah di Indonesia yang mampu memilikinya. Belum lagi dalam menjalankan peralatan ini dibutuhkan tenaga sumber daya manusia yang profesional dan handal. ”Cukup Jakarta saja,” ucapnya.

Virus Corona dengan varian baru B1525 ini lebih cepat menular. Namun begitu, lanjut Didi, tidak lebih mematikan dibanding virus Corona yang ada selama ini. ”Perbedaannya lebih cepat menular saja,” sebutnya.

Disinggung apakah pemberian vaksin yang digalakkan pemerintah saat ini mampu atau kebal terhadap varian baru ini, ia menjawab vaksin diberikan secara umum. ”Mau varian apa saja selagi itu masih Covid-19, ada cross dan struktur proteinnya sama. Efektifitas vaksin akan tetap terjaga,” jelasnya.

Diketahui, Juru Bicara Kementerian Kesehatan, Siti Nadia Tarmizi, mengatakan, satu kasus membawa B1525 ditemukan di Batam dari hasil pemeriksaan bulan Februari 2021. Varian baru ini merupakan kasus impor dan sejauh ini belum ditemukan adanya penularan di komunitas. Varian B1525 termasuk varian yang diperhatikan, bukan varian yang diwaspadai. Sebab, belum cukup bukti di lapangan bahwa varian itu memengaruhi penyakit Covid-19.

Nadia menjelaskan, varian baru yang sudah terdeteksi di Indonesia yakni B117 dari Inggris. Ia menyebutkan terdapat 10 kasus B117 di Indonesia. Laporan di Cov-Lineages.org menyebutkan, varian B1525 diperkirakan muncul bersamaan di Inggris dan Nigeria pada Desember 2020.

Sejak itu, varian ini ditemukan di 40 negara, termasuk di negara-negara Asia Tenggara. Malaysia, misalnya, melaporkan keberadaan varian ini dari dua orang yang menempuh perjalanan dari Dubai, Uni Emirat Arab, awal Maret 2021. (*)

Reporter : RENGGA YULIANDRA
EUSEBIUS SARA
FISKA JUANDA
Editor : MOHAMMAD TAHANG