Bintan-Pinang

Berjudi Pakai Duit Korupsi, Hendrik Dihukum 4 Tahun Penjara

Terdakwa korupsi Hendrik Kurniawan saat menjalani sidang vitual Pengadilan Negeri Tanjungpinang, Senin (19/4/2021). (f. Yusnadi Nazar/batampos.id)

batampos.id– Terdakwa korupsi dana wesel PT Pos cabang Midai, Natuna, Hendrik Kurniawan dihukum 4 tahun penjara dan denda Rp 200 juta subsider 3 bulan penjara oleh majelis hakim Pengadilan Negeri Tanjungpinang, Senin (19/4/2021). Putusan ini lebih ringan dari tuntutan jaksa yang menuntut terdakwa 5 tahun 6 bulan penjara dan denda Rp 200 juta subsider 3 bulan penjara.

BACA JUGA: Ketagihan, Korupsi Digunakan demi Judi Online

Dalam amar putusannya ketua majelis hakim Eduart Sihaloho menyatakan terdakwa secara sah dan meyakinkan terbukti bersalah melakukan tindak pidana korupsi yang menyebabkan kerugian negara. Terdakwa melanggar Pasal 2 jo Pasal 18 Undang undang Nomor 30 Tahun 1999 sebagaimana diubah dengan Undang undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. “Terdakwa juga dihukum untuk mengembalikan uang pengganti kerugian negara sebesar Rp 665 juta. Jika tidak dikembalikan maka diganti dengan hukuman 1 tahun dan 6 bulan penjara,” kata hakim.

Advertisement

Terdakwa telah mengembalikan uang penganti senilai Rp 22,4 juta ke Kejaksaan Negeri (Kejari) Ranai untuk disetorkan ke kas Negara Cq Pemerintah Kabupaten Lingga. Menanggapi putusan ini, terdakwa melalui penasihat hukumnya dan Jaksa Penuntut Umum (JPU) menyatakan pikir pikir atas putusan yang telah ditetapkan majelis hakim.

Sebelumnya diketahui, Hendrik Kurniawan terlibat dugaan korupsi pada PT Pos Indonesia (Persero) Cabang Midai tahun anggaran 2019 hingga 2020. Tersangka diketahui mengirimkan wesel pos fiktif menggunakan aplikasi Cash to Account kepada orang dekatnya. Kemudian uang yang dikirim tersebut, tidak disetorkan ke rekening PT Pos, melainkan dikirim terdakwa ke rekening pribadinya. Akibat perbuatannya negara mengalami kerugian sebesar Rp 687 juta. Mantan Kepala PT Pos cabang Midai Natuna, ini mengaku menggunakan uang korupsi untuk bermain judi. (*)

Reporter: Yusnadi
editor: tunggul