Opini

Mudik

Batampos.id – Secara resmi pemerintah telah melarang mudik menjelang lebaran Idulfitri tahun ini. Hal ini dimaksudkan untuk mencegah meluasnya penularan wabah Covid-19 di tanah air. Namun, kelihatannya antusiasme masyarakat untuk mudik tidaklah surut. Ada apa sebenarnya motivasi ritual mudik yang berulang setiap tahunnya? Begitu urgenkah psiko-sosial mudik bersemayam dalam sanubari masyarakat urban kita?

Mudik menjadi ritus tahunan bangsa ini, dan Idulfitri menjadi momen tepat pelaksanaan tradisi itu. Meski menghabiskan banyak biaya, waktu, dan tenaga, ratusan ribu manusia bersedia melaksanakan ritual itu. Jauhnya jarak tidak menjadi hambatan bagi perantau untuk kembali ke daerah asal. Hanya ada satu tujuan di benak mereka, kembali ke tanah asal, kampung halaman atau tanah kelahiran.

Peristiwa mudik tidak bisa dilepaskan dari Idulfitri dan Ramadan. Kedekatan mudik dengan Idulfitri terefleksikan pada kesamaan makna keduanya. Idulfitri terdiri dua kata, ayd (kembali) dan al-fitrah (kesucian, sifat primordial manusia). Makna ini amat dekat dengan mudik yang berarti kembali ke (daerah) asal.

Advertisement

Menurut Seyyed Hossein Nasr (2003), secara hakiki manusia memiliki sifat primordial yang tertanam kuat dalam lubuk jiwa tiap insan. Sifat itu berupa kesaksian atas keesaan Tuhan (tauhid). Lebih jauh, Nasr melihat pada dasarnya manusia memiliki kemampuan intelegensia yang secara naluriah dapat menerima tauhid.

Dengan potensi inilah manusia dapat mengenal Tuhan dan bertindak sesuai amanat Tuhan. Namun, yang perlu diingat adalah, manusia juga dibekali Tuhan potensi berkehendak yang dapat mendorong manusia melakukan tindakan. Potensi ini disebut sebagai al-nafs (nafsu).

Kedua potensi itu secara laten berdinamika dalam diri manusia. Di satu sisi, intelegensia mengajak kepada sifat ketuhanan, tetapi di sisi lain, nafsu mendorong ke arah sebaliknya. Pertarungan dua unsur itu terus terjadi sepanjang usia manusia.

Kemenangan satu potensi atas yang lain berarti pewarnaan perilaku dan pribadi seseorang sesuai orientasi sang pemenang. Karena itu, Nasr berkesimpulan, wahyu dan agama diperlukan manusia guna memindahkan dan mengusir selubung nafsu agar intelegensia dapat berfungsi tepat.

Adanya orientasi yang berbeda tidak lepas dari materi awal penciptaan manusia, tanah liat dan ruh. Tanah adalah simbol kegelapan, berorientasi pada kesenangan duniawi dan mewujud menjadi tubuh jasmani manusia, sedangkan ruh merupakan “nafas” Tuhan yang ditiupkan ke jasmani manusia. Karena berasal dari Tuhan secara langsung, ruh memiliki sifat-sifat ketuhanan dan disimbolkan sebagai cahaya.

Dalam konteks ini, Islam mengajarkan, di awal penciptaannya manusia masih didominasi unsur cahaya dalam dirinya. Dominasi itu ditegaskan dalam Al Quran berupa perjanjian antara manusia dan Tuhan di alam rahim (Q.S:Al-A’raf: 172). Karena itu manusia oleh Nabi Muhammad SAW disebut lahir dalam keadaan fitrah, kondisi primordial manusia dalam dominasi cahaya ketuhanan.

Namun, seiring berjalannya waktu, dominasi cahaya menjadi kian pudar dan digantikan oleh dominasi unsur kegelapan. Manusia pun mulai melalaikan perjanjian itu dan terperangkap dalam rutinitas hidup sehari-hari.

Imam al-Ghazali dalam Ihya Ulumiddin menggambarkan kondisi itu bagai debu-debu yang menempel di cermin. Dan, pribadi yang ada di bawah dominasi kesenangan duniawi disebutnya sebagai al-nafs al-amarah, jiwa yang mendorong manusia pada ketidaktaatan kepada Tuhan.

Ikatan kesamaan mudik dengan Idulfitri terletak pada upaya manusia untuk kembali ke asal muasalnya. Pengembaraan manusia dalam rimba kehidupan membuat unsur cahaya gelisah dan akhirnya memberontak. Kemudian terjadi reorientasi jati diri. Ujung kegelisahan itu mewujudkan kerinduan kepada Yang Asal.

Serupa dengan itu, kerelaan para pemudik menempuh jarak jauh untuk kembali ke kampung halaman merupakan wujud kerinduan mereka kepada asalnya setelah sekian lama terlalaikan karena kesibukan kerja. Kerinduan itu memuncak menjelang Idulfitri tiba.

Oleh karena itu peristiwa mudik dan Idulfitri diharapkan memberi spirit baru kepada manusia agar menjadi pribadi yang berbeda dari sebelumnya. Proses itu telah disiapkan matang oleh Tuhan dengan meletakkan Idulfitri setelah bulan Ramadhan.

Keberadaan Ramadan sebelum Idulfitri memiliki hikmah sebagai ”mesin cuci” kepribadian manusia agar bersih dari noda kehidupan yang menempel. Dalam konteks ini, Ramadan didesain Tuhan untuk menghilangkan dominasi materi dalam jiwa manusia dengan berbagai praktik pengekangan hawa nafsu dan ritus-ritus ibadah.

Dalam bahasa tasawuf, dikenal tiga proses kembali kepada Tuhan, pengosongan diri dari berbagai dosa (takhalli), pemenuhan diri dengan amal yang baik (tahalli), dan puncaknya kembalinya sang hamba kepada Tuhan (tajalli).

Di puncak ini, manusia telah bertransformasi dari pribadi yang didominasi kegelapan alam materi menjadi pribadi yang dipenuhi cahaya ketuhanan. Pribadi model inilah yang disebut Ibnu ’Arabi dan al-Jilli sebagai al-insan al-kamil (the perfect man).

Meski demikian, saat berada di puncak transformasi itu, manusia harus segera kembali kepada kehidupan asalnya untuk membagi cahaya ketuhanannya kepada lingkungannya. Kewajiban berzakat dan bersilaturahmi dalam menyambut Idulfitri adalah bukti keharusan kembali itu.

Dalam artian ini, sang insan kamil tidak boleh egois menenggelamkan diri dalam pencerahan itu. Pencerahan yang diperoleh harus dibuktikan olehnya dengan berbagai aksi pencerahan masyarakat sekitar. Ia harus menjadi transformator masyarakat, bukan petapa yang tenggelam dalam rimba kesendirian.

Pencerahan yang transformatif secara apik termodelkan oleh Rasulullah Muhammad SAW pada peristiwa Isra Miraj. Meski telah berada di puncak pencerahan kebersatuan dengan Tuhan di sidrat al-muntaha, sang nabi tetap kembali ke dunia untuk membebaskan masyarakatnya dari kegelapan dunia (jahiliah). Selamat berpuasa dan menyambut Idulfitri 1442 H. Wallahualam. (*)

Oleh: Agustar
Eseis, tinggal di Batam