Kepri

Pembakaran dan Pembukaan Lahan Hutan Ancam Populasi Kekah Natuna

Wakil Bupati Natuna Dra Hj Ngesti Yuni Suprapti, MA

batampos.id – Penebangan serta kebakaran hutan dan lahan menjadi salah satu ancaman serius populasi binatang Kekah Natuna. Satwa langka yang menjadi primadona Pulau Natuna itu kini terancam punah. Kepala Dinas Lingkungan Hidup ( DLH), Boy Wijanarko Varianto mengatakan, pemerintah melalui DLH memiliki keinginan mendirikan kebun binatang sekala kecil (mini zoo) untuk menampung hewan primata yang dianggap langka dan terancam punah.

Meskipun hal ini sebatas konsep, namun kedepan perlu dilakukan gerak cepat untuk menyelamatkan hewan primata yang menjadi primadona masyarakat Natuna. Disamping itu, keberadaan mini zoo bisa menjadi pusat kunjungan wisatawan ke Kabupaten Natuna.
Berdasarkan para peneliti pada Pusat Studi Biodiversitas dan Konservasi (PSBK) dan mahasiswa Program Pasca Sarjana, Biologi Konservasi, Universitas Indonesia (UI), Kekah Natuna hanya ditemui di Pulau Natuna (Bunguran Besar) saja. Di pulau ini kekah tersebar dalam beberapa tipe habitat dan ketinggian.
“Dari data terakhir saat pendataan dari Universitas Indonesia tahun 2003 lalu, jumlah Kekah Natuna hanya tinggal belasan ribu, saat ini, jumlah itu terus berkurang seiring banyaknya pembukaan lahan dan kebakaran hutan,” Ujar Boy Wijanarko Varianto, Kamis (15/4/2021).
Oleh karena itu, aksi perlindungan terhadap kekah Natuna sangat mendesak untuk segera dilakukan. Bila tidak, dalam waktu dekat kekah Natuna akan mengalami kepunahan, dan satwa langka ini pun semakin sulit ditemui. Sementara itu, kebakaran hutan dan lahan yang terjadi setiap musim kemarau di Natuna, dinilai sudah menjadi sebuah tradisi, hal inj dapat dilihat dari data di BMKG.
Kegiatan masyarakat dalam membuka lahan dengan metode membakar lahan dan hutan disinyalir menjadi faktor utama tingginya tingkat karhutla di kala musim kemarau. Kondisi tentunya tidak hanya berdampak pada manusia, tetapi juga mengganggu habitat lainnya di dalam hutan.
“Masyarakat beranggapan dengan metode membakar hutan bisa lebih menghemat waktu dan biaya ketika mereka ingin membuka lahan. Padahal disatu sisi akan terjadi pencemaran udara dan mengganggu kesehatan semua makhluk disekitarnya. Lingkungan hidup terganggu dan kelestarian hutan semakin buruk.
Kepala Dinas Pemadam Kebakaran ( Disdamkar) Kabupaten Natuna melalui Kasi Kedaruratan dan Penanggulangan Bencana, Elkadar Lismana menjelaskan bahwa dirinya bersama personilnya hampir setiap tahunya harus melakukan kerja berat ketika masuk musim kemarau.
Kata dia, akan terjadi lonjakan pengaduan dari masyarakat terkait Karhutla ketika musim kemarau tiba. Dalam sebulan petugas menangani hampir belasan bahkan bisa mencapai puluhan kasus Karhutla. “Pernah dalam sehari bisa mencapai 5 – 6 kasus, bahkan pernah dalam sebulan terjadi 51 kali pengaduan terkait Karhutla,” ungkapnya.
Padahal kata Elkadar, pihaknya bersama beberapa instansi terkait seperti Dinas Lingkungan Hidup ( DLH), Polres Natuna hingga pemerintah Kecamatan dan Desa telah berulang kali mensosialisasikan terkait larangan membuka lahan dengan cara membakar.
Karhutla sendiri, menurut Elkadar masuk dalam kategori bencana alam yaitu El Nino. Dan untuk para pelaku yang melakukan Karhutla secara disengaja pun telah di ancam oleh hukuman dan sanksi yang tidak main main. Hal tersebut sangatlah besar dampaknya, selain dapat merusak ekosistem hutan, asap yang dihasilkan bisa mencemari lingkungan dan membahayakan kesehatan masyarakat. “Namun masyarakat kita tetap saja melakukannya, dengan dalih membuka lahan,” katanya.
Kepala DLH Natuna Boy Wijanarko Varianto (f.ist)

Sementara itu, Pj. Sekretaris Daerah Kabupaten Natuna, Hendra Kusuma pernah menyampaikan dalam Rapat Koordinasi ( Rakor) penanganan Karhutla bahwa kebakaran hutan merupakan ancaman besar yang dihadapi hampir di seluruh daerah termasuk Natuna. Solusi tepat untuk mengatasi persoalan itu adalah sinergisitas dan koordinasi antar pihak terkait dalam bentuk program terencana dan terukur.

Karhutla yang menjadi salah satu fenomena bencana tahunan yang merugikan lingkungan, perlu diambil berbagai langkah pencegahan dengan keterpaduan seluruh instansi terkait. Namun yang terpenting adalah bagaimana membangun kesadaran masyarakat terutama untuk tidak melakukan pembakaran lahan.
“Untuk itu pentingnya kesadaran seluruh masyarakat untuk tidak melakukan pembakaran hutan dengan alasan apapun. Sebab secara sadar ataupun tidak hal tersebut sangat merugikan diri sendiri baik dari segi kesehatan maupun kelestarian lingkungan hidup,” katanya. Hal senada juga disampaikan oleh Wakil Bupati Natuna, Hj. Ngesti Yuni Suprapti, Kebakaran hutan juga menjadi penyebab punahnya hewan Kekah.
“Seharusnya kita bangga memiliki satwa endemik yang hanya ada di Natuna, tetapi ulah oknum tidak bertanggungjawab menjadi dalang hewan ini semakin punah,” Ucap Ngesti.
Sepuluh tahun lalu kata Wabup Ngesti, masyarakat masih mudah menjumpai Kekah Natuna bila melewati jalan di sejumlah desa di pulau Natuna wilayah Bunguran Besar.
Hewan itu berkelompok dan berpindah untuk mencari makanan. Jika hutan dan lahan terbakar, maka gerombolan Kekah pun semakin menjauh dan kesulitan mendapat makanan.
“Dulu, di sejumlah titik jalan menuju desa Batu Gajah, Bukit Arai ataupun di Ranai Darat serta kawasan lahan di Batu Sisir, Kekah ini mudah untuk kita temui. Tetapi sekarang sudah sangat jarang kita jumpai,” ungkap Ngesti. Dirinya berharap selain kepada pemerintah, masyarakat pun bisa bersama sama menjaga kelestarian dan
habitat hewan primata. Sehingga populasi Kekah Natuna terjaga dan alam Natuna tetap lestari dengan berbagai jenis makhluk hidup didalamnya. “Mari jaga alam, maka alam akan menjaga kita. Ini adalah pesan moral untuk kita agar alam tidak marah dan muncul sebuah bencana,” pungkasnya. (*)
Reporter: Sholeh
editor: tunggul