Covid-19

Pemerintah Pusat Siap Bantu Batam

Atasi Covid-19 hingga Serbuan PMI Jelang Idulfitri

Kepala BNPB dan juga Ketua Satgas Penanganan Covid-19, Doni Monardo, memberikan penjelasan saat bertemu Wali Kota Batam, Muhammad Rudi, dan berbagai pihak di VVIP Bandara Hang Nadim Batam, Senin (19/4). (Humas Pemko Batam untuk Batam Pos)

batampos.id – Rencana Batam membuka kembali pintu wisatawan asing (wisman), khususnya dari Singapura dalam waktu dekat ini, terus terancam mundur. Penyebabnya, penyebaran Covid-19 kembali meningkat sepekan terakhir. Namun pusat tidak tinggal diam, mereka siap membantu Batam, termasuk ancaman serbuan Pekerja Migran Indonesia (PMI) menjelang Idulfitri yang bisa jadi membawa Covid-19 dan varian barunya.

”Saya datang ke sini (Batam, red) tidak lain adalah untuk berkoordinasi agar ke depan penangan Covid-19 dan pemulangan PMI bisa berjalan dengan baik,” ujar Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yang juga Ketua Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19, Doni Monardo, saat bertemu dengan Wali Kota Batam dan berbagai pihak di VVIP Bandara Hang Nadim Batam, Senin (19/4).

Doni mengaku sudah melakukan kunjungan ke beberapa daerah yang merupakan pintu masuk PMI. Tujuannya sama, membantu pemerintah daerah mencari jalan terbaik untuk mengatasi berbagai persoalan yang dihadapi. Khususnya dalam upaya menekan penyebaran Covid-19, baik yang disebabkan penularan di daerah maupun dari negara lain, karena kepulangan PMI.

Advertisement

Selain siap membantu, khusus terkait PMI, Doni juga merekomendasikan agar Pemerintah Provisin (Pemprov) Kepri bersama Pemerintah Kota (Pemko) Batam, dan Pemko Tanjungpinang membentuk tim pemulangan PMI. Sehingga apa yang menjadi hambatan atau usulan bisa disampaikan kepada kementerian/lembaga terkait.

”Seperti tadi terkait logistik PMI selama karantina, tentu pemerintah bisa membantu anggarannya setelah ada usulan dari pemda,” ujarnya. Pada kesempatan itu, Doni juga mengapresiasi Pemko Batam melakukan penanganan pemulangan PMI dengan baik selama ini.

Doni juga menyerahkan bantuan langsung berupa masker kain INA sebanyak 7.500 pieces, masker kain anak sebanyak 7.500 pieces, alat rapid test antigen sebanyak 5.000 unit, dan 1 unit mesin PCR (polymerase chain reaction).

Di kesempatan itu, Wali Kota Batam, Muhammad Rudi, yang menyambut kedatangan Doni mencurahkan seluruh persoalan penanganan Covid-19 di Batam dan penanganan PMI, karena Batam merupakan salah satu pintu utama kepulangan PMI dari Malaysia dan Singapura, selain Tanjungpinang.

Terkait perkembangan Covid-19 di Batam, Rudi menyampaikan, sampai pada Minggu, 18 April 2021, jumlah kasus Covid-19 di Batam tercatat sebanyak 6.599 kasus. Dari jumlah tersebut tingkat kesembuhannya mencapai 91,57 persen atau 6.043 orang. Kemudian yang meninggal sebanyak 158 orang atau 2,39 persen.

”Sementara sisanya sebanyak 398 orang atau 6,03 persen masih menjalani perawatan,” ungkap Rudi.

Untuk fasilitas kesehatan di Kota Batam, Rudi menyebutkan ada 20 rumah sakit, 21 puskesmas, 44 puskesmas pembantu (pustu), 12 klinik utama, 8 klinik bersalin, dan 93 klinik pratama. Kemudian didukung tenaga medis terdiri dari 362 dokter spesialis, 687 dokter umum, 214 dokter gigi, 1.931 perawat, 1361 bidan, 254 apoteker, 291 teknik kefarmasian, dan 291 kesehatan kasyarakat.

Rudi juga menyebutkan, Batam saat ini memiliki 7 mesin PCR, 3 di antaranya di Balai Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit (BTKLPP), kemudian Rumah Sakit Khusus Infeksi (RSKI) Galang, 1 Rumah Sakit (RS) Bhayangkara, 1 Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Embung Fatimah, dan 1 di RSBP Batam.

”Kapasitas pada rumah sakit sebanyak 2.151 tempat tidur dan kapasitas fasilitas pendukung karantina sebanyak 1.570 orang,” sebutnya.

Sementara proses vaksinasi Covid-19 di Batam saat ini masih berjalan. Kepada Doni, Rudi menjelaskan bahwa jumlah penduduk di Kota Batam berdasarkan sensus 2020 yakni 1.196.396 jiwa. Kategori usia 18-59 tahun berjumlah 738.696 orang dan kategori lansia (di atas 60 tahun) berjumlah 36.107 orang.

Sedangkan jumlah tenaga vaksinator sebanyak 718 orang dengan 124 fasilitas kesehatan tempat vaksinasi seperti rumah sakit, puskesmas, dan klinik. Target kelompok vaksinasi sebanyak 116.161 orang, yang terdiri dari tenaga kesehatan, lansia, dan petugas publik.

”Jumlah vaksin Tahap I dan II sebanyak 78.650 dosis, terdiri dari Sinovac 42.000 dosis dan AstraZeneca sebanyak 36.650 dosis,” ungkapnya.

Saat ini, Batam masih banyak kekurangan vaksin, sehingga meminta bantuan pusat melalui BNPB, agar secepatnya bisa didistribusikan lagi ke Batam.

Selain itu, Rudi juga memaparkan penangan PMI yang selama ini masuk melalui Kota Batam. Periode tahun 2020 sampai 17 April 2021, total PMI pulang melalui Batam sebanyak 63.140 Orang. Sebanyak 57.532 (85%) orang datang dari Malaysia dan 5.608 (15%) dari Singapura.

”PMI yang positif Covid-19 pada 2020-2021 berjumlah 425 orang dengan rincian 275 orang tahun 2020 dan 150 orang 2021. Isolasi di RSKI Galang ada 95 Orang,” bebernya.

Adapun permasalahan yang berkaitan dengan PMI/WNI melalui Kota Batam, di antaranya terkait dengan biaya operasional penangan PMI/WNI (makanan, tempat karantina, transportasi, dan SDM). Selain itu, juga terdapat PMI/WNI yang dokumen PCR test diduga palsu dan tidak dilakukan pemeriksaan PCR di Malaysia.

Kemudian, masalah lainnya adalah jadwal Kedatangan kapal dari Negara asal (Singapura dan Malaysia) yang tidak tetap (siang, sore, bahkan malam hari). ”Terdapat juga PMI/WNI yang sakit ketika masuk Kota Batam, sehingga harus dilakukan perawatan tersendiri,” ujarnya.

Karena itu, pihaknya menilai perlunya dukungan anggaran dari pemerintah/BNPB terhadap penanganan kedatangan PMI/WNI melalui pintu masuk Kota Batam. Kemudian, juga perlu dispensasi atas karantina PMI/WNI 5×24 jam sebagaimana ketentuan. Sehingga PMI yang masuk melalui pintu masuk Kota Batam, dapat segera melanjutkan perjalanan ke daerah asal masing-masing, bila hasil swab negatif telah keluar.

”Kami rasa juga perlunya pintu masuk selain Batam, baik di Kepri maupun di Riau. Kita harap juga ada solusi terkait karatina dan pemulangan PMI selama periode penutupan moda angkutan tanggal 6 sampai dengan 17 Mei 2021,” imbuhnya.

Rudi berharap tidak ada penutupan bandara di Batam maupun pelabuhan, supaya proses pemulangan PMI ke daerah asal tidak terhambat. Sebab, diprediksi Batam akan banjir PMI menjelang Idulfitri.

Rudi memiliki alasan yang kuat untuk meminta bantuan dari pusat. Selain karena pintu kepulangan PMI, Batam kini juga bersiap menerima wisman, khususnya dari Singapura, melalui program travel bubble.

Rudi mengungkapkan, salah satu kuncinya wisman mau masuk ke Batam dan pemerintah Singapura mau melepas warganya ke Batam kalau kasus penyebaran Covid-19 di Batam benar-benar terkendali.

Tetap Siap Sambut Wisman

Sementara, Ketua Bidang Kesehatan Tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Batam, dr Didi Kusmarjadi, SPoG, mengatakan, perkembangan kasus Covid-19 di Kota Batam memang menjadi salah satu pertimbangan dibukanya pintu masuk wisman yang tengah direncanakan pemerintah dalam waktu dekat ini. Batam menjadi salah satu daerah yang dipilih untuk bisa menerima kedatangan wisman.

Saat rapat bersama dengan tim travel bubble, pembahasan zona ini menjadi salah satu pembahasan utama. ”Mereka (Singapura, red) selalu memantau kondisi perkembangan kasus. Untuk itu, perlu penyampaian informasi yang tidak mengurungkan niat mereka untuk segera berkunjung ke sini,” jelasnya.

Selain itu, Didi menyampaikan, keterangan warna di peta covid zona hijau tidak ada kasus aktif, zona kuning kasus aktif 1 sampai 10, pink atau merah muda kasus 11 sampai 20, dan zona merah untuk penunjukan kasus 21 ke atas.

Dasar pewarnaan ini hanya untuk memudahkan membaca peta. Hal ini sudah pernah dikonsultasikan ke Dinas Kesehatan Provinsi Kepri. Pewarnaan tidak terikat sebab tidak ada aturan yang mengikat, bahkan di pertemuan minggu lalu, Dinkes Bintan berencana akan mengikuti sistem pemetaan Batam.

”Jadi zona merah itu bukan berarti jumlah kasus kita meningkat tajam, sehingga memberikan dampak yang mengkhawatirkan untuk rencana travel bubble. Pertemuan dengan tim travel bubble wisman, Pak Guntur Sakti (Kepala Pusat Komunikasi Publik Kementerian Pariwisata) menyatakan, pihak Singapura lebih mudah memahami situasi kita dengan melihat peta yang kita buat. Jadi tinggal kita saja yang perlu memahami kondisi saat ini,” bebernya.

Secara umum, zona merah berdasarkan penambahan kasus adalah adanya penambahan kasus 100 kasus per 100.000 penduduk dalam satu pekan terakhir.

”Penambahan perminggu sampai 1.200 kasus di Batam baru masuk zona merah. Kalau kita maksimalnya masih zona oranye sesuai dengan jumlah kasus. Sedangkan penambahan kasus kita perminggu belum ada yang pernah tembus di atas seribu apalagi 1.200,” ungkapnya. (*)

Reporter : YULITAVIA
Editor : MOHAMMAD TAHANG